Banser Berkomitmen Mencegah Radikalisme dan Intoleransi

Banser bersama sejumlah perwakilan tokoh pemuda dan masyarakat Sukoharjo, menyatakan ikrar cegah Radikalisme dan intoleransi.

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Harus disadari bahwa kelompok-kelompok intoleransi dan pro kekerasan masih ada dan tumbuh di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan belakangan ini dinilai telah mencoreng citra Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Banser NU sebagai salah satu organisasi yang besar di masyarakat menyatakan komitmennya untuk aktif menularkan toleransi dalam masyarakat. Dan sebagai upaya untuk kembali memberikan pemahaman tentang kebhinekaan, Satuan Kordinasi cabang Banser Sukoharjo menggelar seminar yang diikuti Ormas, Kepemudaan dan Pelajar.

“Kita ingin menumbuhkan kembali toleransi dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara, karena dari pengamatan kami sudah mulai muncul bibit-bibit intoleransi di Sukoharjo. Sehingga ini perlu adanya penyikapan sedini mungkin agar tidak berkembang,” kata Kasat Korcab Banser Sukoharjo, Dwi Nugroho Kustanto, Sabtu (20/5/2017).

Di dalam seminar yang digelar di Pendopo Graha Satya Praja Kabupaten Sukoharjo, ada sejumlah fakta menarik yang diungkapkan sejumlah narasumber terkait isue radikalisme dan intoleransi yang berkembang. Diantaranya munculnya radikalisme dan intoleransi berasal dari sejumlah peristiwa, seperti proses Pilkada DKI dan di daerah sendiri peristiwa demo di IAIN.

Selain itu, dari padangan militer terkait berkembangnya radikalisme diakrenakan adanya proxy war dari negara-negara yang ingin menguasai Indonesia. Hal ini dikarenakan invasi militer tidak mungkin dilakukan, sehingga dilakukan dengan cara infiltrasi dan memecah belah warga Indonesia yang cukup majemuk.

“Kita ini negara yang kaya, sumber mineral tinggi, bahan alam melimpah dan sumber energi tersedia di Indonesia yang tidak dimiliki negara lain. Sehingga ada keinginan untuk menguasainya dengan cara melibatkan pihak ke tiga atau proxy war oleh warga Indonesia sendiri,” ungkap Pasitel Kodim 0726 Sukoharjo, kapten Muhammad Azis.

Sementara itu dari PC NU Sukoharjo ingin mengajak kepada sleuruh masyarakat terutama pemuda untuk mendiskusikan estimologi Bhineka Tunggal Ika. Dengan metode diskusi tidak hanya dengan teori atau hukum dan sudut padang agama, namun lebih kepada melihat secara kasuistik.

“ ayolah kita dikusikan lagi mengenai Bhineka Tunggal Ika ini, batasanya di mana dan upaya apa yang dilakukan menghadapai kasus yang sudah ada. Dan saya kira sangat penting untuk dilakukan menghilangkan yang membahayakan negara dengan tetap menjalankan hukum, akrena negara kita negara hukum,” tandas Wakil Ketua PC NU sukoharjo, Ahmad Hafid. (jia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger