Temu Mitra Industri Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta

Hal Penting dalam Mewujudkan Pendidikan Komptensi dan Berkualitas

JATENGONLINE, SOLO – Menyelenggarakan sebuah sistem pendidikan yang berkualitas, efektif, dan komprehensif sehingga dapat menghasilkan output atau sumber daya manusia yang juga berkualitas, berdaya saing tinggi dan sesuai dengan kebutuhan bangsa ini adalah menjadi tujuan bersama.

Sistem pendidikan itu ibarat sebuah rangkaian perjalanan yang wajib dipersiapkan segalanya sebaik mungkin apabila ingin mencapai tujuan yang hendak dicapai. Rangkaian itu antara lain Visi, Kurikulum, Kualitas Pengajar, Sarana Fisik Pendidikan dan Peserta Didik itu sendiri

Seperti halnya Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), kedepannya merupakan pusat pendidikan yang dapat menghasilkan output yang luar biasa dengan cara dimiliki bersama oleh seluruh Stakeholders TPT.

Wakil Ketua API Jateng, Liliek Setiawan, yang sekaligus menjabat Ketua Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Akademi Komunitas TPT Tahun 2017 mengatakan, bahwa kondisi Kapasitas TPT Indonesia saat ini baru mencapai 2%.

“Sedangkan Vietnam sudah mencapai 6%, sedangkan China malah lebih tinggi lagi yakni 27% dari kebutuhan dunia dan menyerap 3 juta jiwa tenaga kerja,” papar Liliek, saat acara Temu Mitra Industri Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil di Surakarta. Rabu-Kamis (24-25/5/2017)

Masih minimnya kapasitas TPT tersebut dibandingkan negara lain, sedangkan memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, menjadi salah satu alasan berdirinya lembaga pendidikan berbasis khusus ini di Solo.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI, Mujiyono mengatakan, bahwa untuk bisa mewujudkan dan mengembangkan Akademi Komunitas TPT ini, harus menggandeng asosiasi dan industri yang bergerak di sektor tersebut.

“Akademi ini (AK.KOM. TPT) harus dikembangkan oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia bersama dengan perusahaan-perusahaan TPT, sebagai pelaksana atau eksekutor, pemerintah dalam hal ini Pusdiklat Kemenperin hanya sebagai fasilitator,” terang Mulyono.

“Agar AK KOM TPT Solo benar-benar menjadi sekolah berbasis Kompetensi dengan model pendidikan vokasi Block Curriculum Jerman,” imbuh Direktur Abdillah Benteng

Pemerintah mengacu kepada Vokasi Education sebagai pengembangan SDM dengan pola ikatan kerja N+1 . Sedangkan pentingnya penelitian riset tentang textile harus dilakukan oleh kampus untuk mendapatkan produk paten yang dapat diproduksi masal oleh produsen, tutup Kapusdiklat Mujiyono. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress