Kemenpar Bimtek Promosi Pariwisata Pasar Asteng di Solo

JATENGONLINE, SOLO – Pengembangan Pasar Asia Tenggara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Sinkronisasi Promosi Pariwisata Pasar Asia Tenggara di Solo, Jawa Tengah. Rabu-Kamis (31/5 -1/6/2017)

Bimtek mengundang sejumlah stakeholder pariwisata, instansi atau dinas pariwisata Kota Solo dan Kabupaten Karang Anyar, Asosiasi (PHRI, ASITA, Genpi) serta komunitas yang ada di Solo dan sekitarnya.

Target jangka panjang adalah 20 Juta kunjungan wisatawan mancanegara pada Tahun 2019, dan untuk jangka pendek pada Tahun 2017 dengan target 15 Juta. Untuk Pasar Asia Tenggara, fokus pasar utama pariwisata Indonesia adalah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand.

“Untuk mencapai target tersebut, Menteri Pariwisata Arief Yahya telah menetapkan 3 program utama yaitu digital tourism, homestay, dan aksesibilitas udara. Yang pertama adalah Digital Tourism,” papar Rizki Handayani, Asisten Deputi (Asdep) Pengembangan Pasar Asia Tenggara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata (Kemenpar), saat membuka acara tersebut, di ballroom The Sunan Hotel, Rabu (31/5/2017)

Kenapa kita harus Go Digital? Tak lain karena konsumen kita sudah berubah jauh perilakunya menjadi semakin digital. Kini kita mengenal istilah “always-connected travellers”, di manapun dan kapanpun mereka saling terkoneksi dengan adanya mobile apps/devices.

“Homestay Desa Wisata sebagai terobosan dalam menyediakan akomodasi. Terobosan yang bisa kita lakukan adalah dengan membangun homestay desa wisata. Karena skalanya kecil, untuk desa wisata membangun homestay akan lebih mudah dan lebih fleksibel dibandingkan membangun hotel,” katanya.

Sedangkan, Aksesibilitas Udara. menjadi PR yang harus segera dituntaskan. Tahun ini defisit 4 juta seat untuk memenuhi target jumlah 15 juta wisatawan mancanegara (wisman). Dan, selama beberapa bulan terakhir Kemenpar begitu agresif melakukan road show ke berbagai maskapai penerbangan dan stakeholders terkait.

Jateng pada khususnya Solo serta Karanganyar, menurut Kiki, mempunyai potensi yang sangat besar untuk pasar Asia Tenggara mulai dari keindahan alam, budaya, kuliner, maupun belanja. Terlebih lagi dengan didukung oleh konektifitas langsung ke Singapura dan Malaysia.

“Potensi dan peluang ini harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Pada tahun 2017 ini, industri Jateng juga telah mulai aktif mempromosikan pariwisata Jateng melalui event-event promosi di pasar Asia Tenggara diantaranya, Indonesia Tourism Table Top di Singapura, Indonesia Tourism Table Top di Kuala Lumpur serta MATTA Fair di Kuala Lumpur.

Untuk lebih memaksimalkan promosi destinasi di pasar Asia Tenggara, diperlukan pengetahuan mengenai profil dan karakteristik market setempat, sehingga produk yang dikemas dan ditawarkan dapat sesuai dengan preferensi wisatawan negara yang disasar.

“Melalui Bimbingan Teknis Sinkronisasi Promosi Pariwisata Pasar Asia Tenggara ini dapat diperoleh informasi mengenai destinasi dan atraksi di Solo dan Karang Anyar yang telah siap dan layak dipromosikan di mancanegara, khususnya pasar Asia Tenggara,” harap Kiki.

Selanjutnya, dapat dilakukan sinkronisasi antara potensi wisata tersebut dengan profil dan karakteristik market Asia Tenggara, sehingga upaya promosi yang dilaksanakan dapat lebih optimal dan efisien. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger