Pelaku Industri Wisata di Indonesia Hanya Menjual Paket Mainstream

Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Tenggara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani

JATENGONLINE, SOLO – Potensi wisatawan dari Asia Tenggara untuk mengunjungi Jateng dinilai cukup tinggi. Selain Singapura dan Malaysia yang memiliki penerbangan langsung dari dan ke Jateng, Wisatawan asal Thailand, Vietnam, dan Filipina sedang dibidik untuk berkunjung ke provinsi ini.

Asisten Deputi (Asdep) Pengembangan Pasar Asia Tenggara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Rizki Handayani mengatakan, promosi pariwisata di Indonesia secara umum kurang variatif, karena paket wisata yang dijual masih banyak yang tidak menyentuh konten.

“Pelaku industri pariwisata kebanyakan hanya menjual sesuatu yang mainstream semata,” kata Kiki, disela-sela Bimbingan Teknis Sinkronisasi Promosi Pasar Pariwisata Asia Tenggara, di Sunan Hotel Solo, Jawa Tengah, Rabu (31/5/2017).

Pelaku industri wisata, lanjut Kiki, ternyata mereka menjual paket tidak lebih dari 10 wisata, mereka kebanyakan menjual paket yang biasa dan hampir sama dengan daerah lain seperti pemandangan. Itu yang menjadi kelemahan promosi dalam menjual paket wisata.

“Padahal banyak konten lain yang bisa dijual,” tegas Kiki.

Di Eropa, Kiki mencontohkan, banyak wisatawan tertarik mengunjungi museum minyak wangi, ini produk wisata anti mainstream, dan hal itu seharusnya bisa juga dilakukan di Indonesia.

Seperti di Jateng, sudah ada museum jamu, kuliner dan lain-lain tapi tidak dimasukkan dalam paket kunjungan wisata.

“Informasi tentang ada apa dan bagaimana serta apa yang bisa dilakukan di tempat wisata juga dinilai masih sangat kurang. Padahal jika dilihat pasar pariwisata internasional masih sangat luas,” tambahnya

Masih lemahnya dalam menjual paket wisata, berpengaruh terhadap menurunnya wisatawan asal Malaysia ke Indonesia, sementara kalau ke Jawa Tengah hanya bisa mengunjungi Borobudur dan keraton.

Bimbingan Teknis Sinkronisasi Promosi Pasar Pariwisata Asia Tenggara, di Sunan Hotel Solo, Jawa Tengah, berlangsung selama 2 hari, Rabu-Kamis, 31 Mei – 1 Juni 2017 menghadirkan sejumlah nara sumber seperti Laila Istiana Diana Safitri, Komisi X DPR RI, Paulus Mintarga, Narasumber dari Museum Atsiri Indonesia/Ketua ICCN, Agni Malagina, Narasumber dari Lasem, Tendi Nuralam, Narasumber/Praktisi, Masruroh, Narasumber Kemenpar.

Selain dihadiri stakeholder pariwisata dari Solo dan Karanganyar yakni, Basuki Anggoro Hexa, SE, Kadis Pariwisata Kota Surakarta dan Drs Titis Sri Djawoto, Kadis Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karang Anyar. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger