Culture Industry Kekuatan Produk Industri Kreatif Jateng

Paulus Mintarga, Ketua Museum Atsiri Indonesia, didampingi Liliek Setiawan,  saat paparan Bimbingan Teknis (Bimtek)Sinkronisasi Promosi Pariwisata Pasar Asia Tenggara di Solo, Jawa Tengah. Pengembangan Pasar Asia Tenggara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Rabu-Kamis (31/5 -1/6/2017).

JATENGONLINE, SOLO – Bidang pariwisata menjadi fokus perhatian saat ini, terlebih Pemerintah Pusat menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 20 juta pada tahun ini. Fokus pariwisata yang bisa menjadi peluang yaitu cultural industry atau industri berbasis budaya atau kreatifitas.

Industri kreatif tengah digeluti banyak kalangan, khususnya kaum muda. Mulai dari kuliner, fashion, seni dan budaya. Industri berbasis seni dan budaya mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, khususnya di Jawa Tengah, yang memiliki beragam budaya atau multi cultural.

“Jadi wisata bukan hanya sekadar alam, pariwisata berbasis cultural industry, budaya menjadi basis kekuatan daya tarik kepariwisataan yang ada. Dan Jawa Tengah memiliki itu semua,” papar Paulus Mintarga, Ketua Museum Atsiri Indonesia, saat acara Bimbingan Teknis (Bimtek)Sinkronisasi Promosi Pariwisata Pasar Asia Tenggara di Solo, Jawa Tengah. Pengembangan Pasar Asia Tenggara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Rabu-Kamis (31/5 -1/6/2017).

Untuk mengembangkan industri ini perlu infrastruktur yang memadai. Paulus Mintarga yang juga Ketua Indonesia Creative Cities Netwok (ICCN) mengakui pihak Pemprov Jawa Tengah terus mendorong hadirnya berbagai infrastruktur pendukung. Oleh karena itu, saat ini membangun akses jalan tol, yang menghubungkan ke propinsi lain.

“Ini eranya ekonomi kreatif. Jadi pada saat era ekonomi kreatif ini tumbuh sebagai gelombang keempat ekonomi dunia, ide atau gagasan menjadi lebih penting daripada modal atau capital. Duit akan mencari dimana gagasan itu tumbuh,” tambahnya, dalam paparan Ekosistem Kota Pariwisata Yang Saling Bersinergi dan Kolaborasi.

Ketika produk sudah terlalu banyak dan berlimpah di pasaran, jadi ada produk manufaktur dan produk pertanian secara organik muncul jasa dan perdagangan, didalamnya adalah dunia pariwisata atau hospitality, dan terakhir masuk dalam abad ekonomi kreatif yang ditambahi dengan munculnya tehnologi digital yang luar biasa.

Berkembangnya tehnologi informasi yang mempengaruhi segala peradaban yang pernah ada, dan merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari sehingga mau tidak mau harus masuk didalamnya, masuk dalam dunia industri kreatif.

“Kalau menjabarkan tentang ekonomi kreatif itu dibagi menjadi dua, ada culture of industry dan creative industry,” tutur Paulus.

Sementara domainnya bekraf lebih pada industri kreatif, sedang culture industry ini merupakan kekuatan produk pariwisata yang kita miliki, sebagaiman yang seringkali disampaikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, bahwa kekuatan produk pariwisata adalah pada di industri ini.

“Dari klasifikasi yang ada, industri kreatif yang bisa sinkron dengan dunia pariwisata hanya culture industry,” pungkasnya. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress