KWP Kecam Oknum Kementrian PUPR, Atas Kekerasan Terhadap Wartawan

JATENGONLINE, JAKARTA – Koordinatoriat wartawan Parlemen (KWP) mengecam dan mengutuk aksi kekerasan terhadap Wartawan Rakyat Merdeka Online, Bunaiya Fauzi Arubone (Neya) yang diduga dilakukan seorang protokoler Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Ruang Serbaguna lantai 17, Gedung Utama Kementerian PUPR, Jakarta, Rabu (31/5/2017).

Akibat kejadian itu, kata Ketua KWP Romdony Setiawano korban Neya bukan hanya menderita luka secara fisik tetapi juga mengalami trauma.

“Karena itu kekerasan terhadap jurnalis yang tengah menjalankan tugas merupakan bentuk pelanggaran hukum,” ucap Ramdony dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (1/6/2017).

Dia menjelaskan bahwa tugas dan tanggung jawab para jurnalis dilindungi dan dijamin oleh Undang-Undang Pers No 40 tahun 1999. Karenanya pihaknya mengecam pelaku kekerasan terhadap jurnalis saat melakukan tugas, bahwa Tindakan kekerasan terhadap para jurnalis merupakan pelanggaran Undang-Undang.

“Pelaku bisa dikenakan pidana sebagaimana diatur dalam pasal 18 UU No 40 tahun 1999 tentang pers,” ujar dia.

Kemudian pihaknya meminta kepada aparat kepolisian bersikap tegas untuk menindak siapapun yang telah mengancam dan melakukan tindak kekerasan kepada jurnalis yang sedang melaksanakan tugas.

“Meminta kepada aparat kepolisian menjamin dan melindungi jurnalis yang tengah menjalankan tugas,” tegas dia.

Dia pun menghimbau kepada rekan jurnalis untuk menjalankan tugasnya secara profesional, patuh pada kode etik, dan memilah sumber informasi yang dapat dipercaya, akurat serta berdampak positif bagi masyarakat banyak.

“Karena, kekerasan terus menerus maka akan membahayakan hak informasi publik. Dimana informasi yang berimbang dan sehat akan terhambat sehingga merugikan publik,” tandasnya.

Kasus dugaan pelecehan terhadap Wartawan berawal ketika Neya meliput kegiatan menteri Perdagangan, Basuki Hadimuljono. Saat itu terjadi perang mulut, kemudian korban diusir dan dicekik oleh salah satu oknum staf protokoler Kemenpupera.

Tak hanya itu, Neya bahkan di bentak dan caci dengan sebutan “M*ny*t!” Tidak terima diperlakukan dengan tindakan tidak terpuji itu, Neya pun melapor ke Polda Metro Jaya, Rabu malam tadi. (red)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme wordpress