Firda, Jualan Keripik Keliling Biayai Sekolah

Firda, berjualan keripik keliling, menjajakan daganganya dari kampung-kekampung lainnya

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi…” syair lagu Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran

JATENGONLINE, SOLO – Di saat anak-anak sebayanya hanya asyik bersekolah dan bermain ria, anak yang sudah sejak di usia 10 tahun atau kelas 4 SD ini, justru harus banting tulang berjualan keripik tempe demi membantu kedua orangtuanya mencari nafkah.

Yusuf Maisa Firdaus, begitu lengkapnya nama anak tersebut, sekarang sudah duduk di bangku sekolah lanjutan atas ini, di usianya yang kini menginjak 15 tahun melanjutkan pendidikannya di SMK Negeri Sukoharjo, mengambil jurusan pemasaran.

Sudah hampir selama lima tahun berjualan keripik tempe keliling. Sebagaimana yang di jumpai saat berkeliling menjajakan dagangannya keluar masuk kampung di wilayah kota Solo. Sosok ulet dan pantang menyerah ini, membiayai pendidikannya dengan tidak mau menggantungkan hanya kepada orang tuanya.

Guratan wajah, dan kulit yang hitam memperlihatkan kekuatan niat dan tidak patah semangat. Dengan tetap menjalankan puasa, meskipun harus berjalan keliling berjualan dagangannya dibawah panasnya matahari. Yang kadang laku kadang harus rela membawa pulang dagangannya tetap utuh.

Tak ada kata mengeluh, manakala tidak membawa sepeserpun uang, karena tidak ada pembeli. Rasa syukur yang selalu membuatnya untuk tabah menjalani kehidupan yang sudah dilaluinya, kebanggaan untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya, tak membuatnya lantas berbesar hati, terbukti baktinya terhadap kedua orang tuanya justru makin besar.

Dan, sangat kontras, dengan adanya pemberitaan yang sedang hangat akhir-akhir ini, dimana anak mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, gara-gara nilai sekolahnya jelek, padahal fasilitas yang dimiliki serba ada dan disediakan oleh orang tuanya. Tragis memang.

Jualan Tempe Keripik Sejak Kelas 4 SD
Anak dari pasangan Agus Sukamto buruh bangunan dan Sri Lestari penjual sayuran dirumahnya di Ngentak, Nggunting, Wonosari, Klaten.

Setiap hari, Firda begitu ia disapa, biasa menjajakan jualannya mulai dari rumahnya selesai sekolah, dumulainya sejak kelas 4 SD, awalnya daganganya hanya keripik tempe, dan berkeliling menggunakan sepeda onthel di beberapa desa sekitar tempat tinggalnya.

“Ketika SMP baru menjajakan hingga ke kota Solo,” ujarnya.

Ketika menjajakan di kota Solo awalnya masih menggunakan sepeda onthel, namun karena waktunya tidak cukup, kalau tetap bersepeda waktu akan habis dijalan, karena berangkatnya usai sekolah. Firda berinisiatif untuk naik bis, dari Klaten turun di area Gemblegan Solo.

“Awalnya hanya berkeliling di sekitar Gemblegan saja, setelah tahu PGS dan BTC berjualan disitu,” terang Firda.

Saat libur sekolah, Firda pun justru memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk berjualan, ketika tiba di BTC dan PGS belum buka karena masih pagi, maka digunakannya untuk berkeliling ke kampung disekitar pusat perbelanjaan tersebut, sembari menunggu toko buka.

“Sudah hampir lima tahun jualan keripik tempe setiap harinya Mas, ketika libur sekolah, merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntugan, karena punya waktu yang panjang untuk jualan,” katanya sambil menawarkan jualan keripiknya kepada para pejalan kaki, di kawasan Sangkrah, Solo. Sabtu (3/6/2017).

Kegiatanya ia akui atas dasar keihklasan dan kemauan sendiri tanpa paksaan orangtua. Firda mengaku berniat jualan demi membantu kedua orangtuanya.

“Dahulu awalnya jualan selain coba-coba, juga berniat untuk mengais rejeki dengan jerih payah sendiri dan membantu bapak ibu,” tutur Firda.

Firda mengaku tidak lantas malu dan gengsi dengan teman-teman sebayanya lantaran berjualan keripik tempe. Firda justru senang jika teman-temanya mengetahui bahwa keseharianya ia berjualan sebagai tukang keripik.

“Ya justru malah bagus Mas, temen-temen tau dan nanti ikut beli. Dari pada ngapain cuma main-main, mending bantu-bantu orang tua,” polosnya.

Antara Belajar dan Bekerja
Firda, anak ketiga dari lima bersaudara, selalu menggunakan waktu se efisien mungkin, disela aktifitasnya berjualan keliling, tetap tidak pernah meninggalkan tugasnya sebagai seorang pelajar.

Usai berjualan keliling, menjelang isya’ dimanfaatkan sebaik mungkin untuk beristirahat, usai menjalankan sholat, kemudian tidur, buku pelajaran sekolah disentuhnya usai sholat subuh, mengulangi materi yang diberikan dan mengerjakan tugas sekolah.

“Saat ujian atau semesteran sekolah, bangunnya lebih awal sekitar jam 03.00, sebelum belajar diawali dengan sholat tahajud lebih dulu,” ungkap Firda, seolah menikmati kehidupan yang dilakoninya.

Rutinitas tersebut dilakukannya tersebut sudah hampir enam tahun ini, semuanya berjalan seiring dan sejalan antara belajar dan bekerja, menurut Firda, dengan yang dilakoninya ini merasa sangat bangga. Dan untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pelaku usaha yang sukses, Firda mengambil jurusan pemasaran di SMK Negeri 1 Sukoharjo.

Untuk meningkatkan jumlah keuntungannya, Firda tidak hanya menjajakan satu jenis keripik saja, ia menambahkan keripik pisang dan ‘cumi-cumi’ dalam berkeliling.

Selain di pusat perbelanjaan modern, sejumlah pasar tradisional juga menjadi sasaran Firda menjajakan dagangannya, mulai dari Gading, Pasar Kadipolo, Pasar Gede, Pasar Legi, Pertokoan Singosaren dan Pasar Klewer, untuk di kota Solo.

“Kalau di Sukoharjo, hanya dipasar-pasar dan perumahan-perumahan mas,” lanjut Firda

Atas kepercayaan juragan tempe keripik yang dijualnya, Firda mendapatkan kemudahan, membayar dagangan yang dijajakannya setelah laku terjual, tidak harus modal membayar didepan.
Dagangan yang dibawanya selalu mengalami kenaikan penjualan, saat pertama kali keliling hanya bawa 17 bungkus tempe keripik, kini sudah diatas 50 bungkus perharinya. Perbungkusnya di jual Rp. 6.000.

Sisa penjualan keripiknya menjadi keuntungannya, selanjutnya ditabung untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan kebutuhan sehari-hari. “Yang jelas cukup buat biaya sekolah, mas,” kata Firda tersipu, ketika ditanya berapa jumlah keuntungannya.

Disaat puasa justru penjualan keripiknya lebih baik dibanding hari biasa, terutama di Solo, dagangannya selalu laris manis, sehingga kota Solo menjadi prioritas jualannya. “Meskipun hanya kalau sekolah pulang pagi dan hari libur saja ke Solo.”

Meskipun jika berproduksi sendiri benefit lebih gede, namun Firda belum akan melakukannya dalam waktu dekat ini, karena selain keterbatasan waktu juga perlu modal untuk memulainya. “Repot mas, waktunya yang gak ada,”

Firda bertekad untuk terus melanjutkan usaha yang dirintisnya ini, entah sampai kapan mendapatkan tempat bekerja yang lebih mapan. Yang jelas berkat kegigihan dan keuletannya ini telah meringankan beban orang tuanya.

“Insha allah, keliling ini terus berlanjut sampai mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan.” tutup Firda, mengakhiri pembicaraan. (ian)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme wordpress