Ini Tabungan Idul Fitri Plus BMT Center Kube Karanganyar

Direktur BMT Center Kube, Marlina, SE

JATENGONLINE, KARANGANYAR – Selama ini ada anggapan dari kalangan perbankan minat menabung masyarakat kalangan bawah masih rendah. Ternyata asumsi tersebut tidak selamanya benar. Bila strategi dan pendekatan tepat, maka penghimpunan dana dari masyarakat kalangan bawah sangat potensial.

Sebagaimana dibuktikan BMT Center Kube yang berkantor pusatnya di jalan Lawu Km 07, Karanganyar. Sejak tahun lalu telah meluncurkan produk simpanan yang dinamakan Taduri Plus, yaitu Tabungan Idul Fitri. Untuk mengikuti Taduri persyaratan sangat mudah, anggota menabung Rp 5 ribu perhari, atau Rp 25 ribu seminggu, atau Rp.100 ribu perbulan, selama setahun dengan total tabungan Rp 1, 2 juta, maka anggota akan mendapat bagi hasil dan parcel bingkisan lebaran senilai kurang lebih Rp 50 ribu.

“Program Taduri Plus ini sudah kami launching sejak tahun lalu, mampu menghimpun 80 anggota. Di luar dugaan respon masyarakat, khususnya ibu-ibu sangat bagus, sehingga tahun ini kami mentargetkan bisa menghimpun 200 anggota, dengan dana terkumpul Rp 300 juta,” ungkap Direktur BMT Center Kube, Marlina, SE saat membuka training Motivasi dan Ethos Kerja, Sabtu (3/6/2017), bertempat di Kantor Pusat BMT Center Kube Karanganyar.

Lebih lanjut, Marlina, optimis target program Taduri dapat diraih, karena dari satu kantor pusat dan empat kantor kas yang ada saat ini, hampir semuanya mengalami peningkatan dalam menghimpun Taduri.

“Awalnya kami juga tidak menyangka bila program ini mendapat sambutan bagus dari masyarakat. Ternyata motivasi anggota ikut Taduri, agar memiliki dana untuk merayakan lebaran, sekaligus bisa berbagi bingkisa parcel dengan tetangga atau kerabatnya,” paparnya.

Training Motivasi dan Ethos kerja diikuti 25 karyawan BMT Center Kube, menghadirkan narasumber Direktur Amalia Consulting, Drs. Suharno, MM, Ak, CA, MIPR.

Dalam paparannya, Suharno, menyampaikan pangsa pasar dan prospek keuangan syariah di Indonesia terbesar di dunia, namun belum digarap secara optimal. Hingga saat ini total aset perbankan syariah baru Rp 356,50 triliun atau 5,13 persen dari total aset perbankan nasional. Sementara total aset industri keuangan non bank baru Rp 71,67 triliun atau 3,72 persen dari pangsa pasar.

“Dari data tersebut terlihat pengguna jasa keuangan syariah di Indonesia masih di bawah sepuluh persen. Padahal 85 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Ini tantangan yang sekaligus peluang bagi lembaga keuangan, tidak terkecuali BMT untuk menggarap lebih serius,” paparnya.

Lebih lanjut, Suharno, mendorong agar BMT turun langsung ke lapangan melakukan edukasi ke masyarakat serta menciptakan portofolio simpanan dan pembiayaan yang variatif dan kreatif.

“Melakukan edukasi dan terjun langsung ke sentra industri, ke pasar dan bersilaturahmi ke takmir maupun jamaah masjid, serta masyarakat umum adalah bentuk jihad dalam bidang ekonomi yang bernilai pahala di sisi Allah SWT,” pungkasnya. (arn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress