Univet Bina Petani Mojogedang Dengan Pupuk Organik Limbah RPH

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Pengembangan pupuk organik masih menjadi konsentrasi penelitian bagi sejumlah dosen di Universitas Veteran Bangun Nusantara. Salah satunya aplikasi pembuatan pupuk organik dari rumen sapi atau limbah rumah potong hewan (RPH), yang dikembangkan dosen Univet Ir Catur Rini dan Catur Suci Purwanti di kelompok tani Rukun Makmur Mojogedang Karanganyar.

“Kegiatan ini merupakan wujud nyata praktek dari hasil penelitian kami sebelumnya. Jadi penelitian kami tidak sebatas teori saja, tapi juga bisa diaplikasikan oleh kelompok tani dan dirasakan manfaatnya. Utamanya kita ingin mengembangkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pupuk kimia.” Ungkap Ir Catur Rini, Rabu (7/6) di Kampus Univet Sukoharjo.

Program pengabdian pada masyarakat dalam program iptek bagi masyarakat (IBM) oleh tim dosen Univet, Ir Catur Rini S dan Catur Suci Purwanti, ini didanai oleh Dikti, bekerjasama dengan mitra kelompok tani Rukun Makmur Mojogedang Karanganyar dan CV Agrobis Abadi Jaya.

Pelaksanaan pelatihan sudah mulai bulan Mei 2017 silam, diawali dengan penyuluhan dilanjutkan dengan pelatihan atau praktek langsung pembuatan pupuk organik. “Program ini diawali dengan penelitian kami yang berjudul ‘Penentuan pemakaian dosis dan macam biofertilizer dalam pembuatan pupuk organik padat terhadap kandungan unsur makro dan mikro nutrien serta logam berat’. Penelitian tersebut juga sudah dinyatakan memenuhi standar sesuai dengan Permentan nomor 28/Permentan/SR.130/5/2009 tentang standartisasi pupuk kompos.” Imbuh Ir Catur Rini.

Untuk tahapan program IBM diawali dengan pretest, penyuluhan, pelatihan dan postes mengenai mikroorganisme lokal (mol). Dipilihnya kelompok tani Rukun Makmur Mojogedang, karena kelompok tani tersebut merupakan pusat pengembangan pertanian organik di Kabupaten Karanganyar.

“Proses pembuatan pupuknya tidak sebentar. Butuh waktu fermentasi sekitar 1 bulan. Maka kami masih terus memantau, sampai nanti pemupukan dan melihat hasilnya,” imbuh Catur.

Manfaat lain pada pembuatan pupuk organik dari limbah kotoran hewan dari rumah pemotongan hewan di Karanganyar tersebut juga mengurangi limbah khususnya rumen sapi, sekaligus menjaga konservasi alam untuk memelihara kesuburan tanah.

Ditambahkam Ir Catur Rini, pembuatan pupuk organik tersebut semuanya terdiri dari bahan alami, seperti rumen sapi (limbah sapi), kecambah, kunir, tetes tebu dan air leri. Setelah diolah akan menjadi bahan konsentrat. Perbandingan antara pupuk kandang biasa dengan pupuk olahan rumen sapi tersebut tiap 5 kw pupuk kandang setara dengan 1 liter pupuk organik, dengan hasil dan kualitas yang lebih baik.

“Ada juga manfaat bagi pengelola rumah potong hewan, yakni bila kotoran biasa dijual untuk pupuk kandang hanya dihargai rp 50 /kg, namun bila diolah terlebih dulu bisa mencapai harga Rp 400 – 600 / kg.”

Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof Ali Mursyid memberi apresiasi atas pelaksanaan IBM yang dikembangkan sejumlah dosen Univet, dan ia berharap akan semakin banyak aplikasi penelitian dosen agar bisa memberi manfaat pada masyarakat langsung.

“Kami dorong para dosen untuk terus meneliti dan kemudian mengaplikasikan pada masyarakat. hingga nanti semakin luas masyarakat mendapat manfaat, apalagi manfaat untuk pertanian, peternakan, lingkungan maupun kemajuan perekonomian lainnya,” tandas prof Ali Mursyid. (jia)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme wordpress