Quo Vadis Bahasa Jawa

JATENGONLINE, SOLO – Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa komunikasi yang digunakan secara khusus di lingkungan etnis Jawa. Bahasa ini merupakan bahasa pergaulan, yang digunakan untuk berinteraksi antar individu dan memungkinkan terjadinya komunikasi dan perpindahan informasi sehingga tidak ada individu yang ketinggalan zaman (Ahira, 2010). Menurut Hermadi (2010), bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari di daerah Jawa, khususnya Jawa tengah.

Sebagai orang Jawa Tengah sudah seharusnya bangga menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi setiap harinya dimanapun berada, kapanpun dan dengan siapapun juga. Itu artinya di setiap keluarga seharusnya menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi setiap harinya. Anak dengan orang tuanya dan sekaligus mengajari putra putrinya untuk menggunakan bahasa Jawa yang benar. Bukan menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 423.5/5/2010 yang ditetapkan di Semarang tanggal 27 Januari 2010 berisi tentang : Mata Pelajaran Muatan Lokal Bahasa Jawa untuk jenjang SD/SDLB/MI, SMP/SMPLB/MTs/Negeri dan swasta Propinsi Jawa Tengah yang terdiri dari Standar isi Mata pelajaran Muatan Lokal (Basa jawi) SD/MI. Dan Standar Kompetensi Lulusan Mata pelajaran Muatan Lokal (Basa Jawi) SMP/MTs.

Untuk SMP muatan lokal Bahasa Jawa diberikan waktu 2 jam setiap minggunya. Keputusan yang disebutkan itu artinya yang wajib menggunakan Bahasa Jawa selain Jawa Tengah sendiri juga termasuk Yogyakarta. Tidak mengherankan kalau Propinsi Jawa Tengah, karena kejayaan dalam kehidupan di kraton pada masa lampau banyak sekali terdapat di daerah Jawa Tengah dibandingkan dengan daerah Jawa yang lainnya. Dengan begitu, bahasa Jawa merupakan bahasa asli masyarakat Jawa di Indonesia, khususnya di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan daerah sekitarnya. Bahasa Jawa adalah bahasa ibu yang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat jawa.

Bahasa Jawa juga merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dijaga, karena jika tidak bahasa Jawa dapat terkikis dan semakin hilang dari Pulau Jawa. Disebutkan sebagai warisan budaya, artinya harus dijaga supaya tidak menjadi hilang apalagi diakui miliknya oleh orang lain. Warisan harus dilestarikan dan dijaga sepenuh hati. Karena kalau sudah hilang, artinya sudah tidak mempunyai kekayaan lagi. Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah di pulau Jawa, maka bahasa Jawa memiliki fungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah (Khalim dalam Tubiyono, 2008).

Apabila bahasa Jawa sudah tidak digunakan oleh masyarakat jawa, apa yang akan dibanggakan ?. Bahasa Jawa merupakan bahasa budi yang menyiratkan budi pekerti yang luhur atau merupakan cerminan dari tata krama dan tata susila. Tata krama ( ucapan) berbahasa dan tata susila (perilaku) menunjukkan budi pekerti yang menggunakannya. Sebagai alat perhubungan dengan keluarga dan masyarakat yang lainnya, itulah bahasa Jawa.

Bahasa Jawa memiliki hak hidup yang sama dengan bahasa Indonesia, sesuai dengan penjelasan Undang-Undang dasar 1945 yang mengamanatkan bahasa (daerah) Jawa akan dihormati dan dipelihara oleh negara, termasuk pemerintah pusat atau daerah (Alwi, 2000). Maka dari itu, generasi muda suku Jawa sudah sepantasnya melestarikan bahasa Jawa demi kelangsungan dan tetap terjaganya bahasa Jawa di pulau Jawa. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan dari rumah, yaitu dengan menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi di lingkungan keluarganya. Terutama seorang ibu yang seyogyanya memperkenalkan budaya atau bahasa Jawa. Karena kalau keluarga sudah tidak mau atau malah mungkin gengsi menggunakan bahasanya sendiri, maka sudah jelaslah bahasa Jawa akan punah.

Sebagai guru Bahasa Jawa, merasa ikut prihatin dengan kondisi siswa saat ini. Contohnya, seorang siswa kepada orang tuanya mengatakan bahwa guru bahasa Jawa galak. Dan seketika itu juga, dicari penyebabnya dan bertanya kepada orang tua siswa tersebut.. Ternyata siswa itu dalam komunikasinya di rumah menggunakan bahasa Indonesia. Sambil malu-malu orang tua mengatakan bahwa, sulit menggunakan bahasa Jawa. Siapa yang akan disalahkan ?.

Beginilah salah satu ciri-ciri kalau masa depan bahasa Jawa akan sepenuhnya suram. Orang tua tidak menyadari bahwa komunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa itu juga akan membuktikan bahwa anak akan menghargai dan menghormati orang tua dan orang yang lebih tua. Orang tua di manapun juga tidak ingin anak-anak mereka tidak menghargainya dan tidak menghormatinya. Orang tua yang baik akan terus mempertahankan bahasa Jawa karena kelangsungan hidup dan matinya sebuah bahasa terletak pada kemauan generasi mudanya untuk menggunakan, bahkan menjadi kebanggaannya.

Bahasa Jawa bukanlah sebagai bahasa orang kampung ataupun bahasanya orang tua saja, seperti yang kita dengarkan. Terbukti generasi muda jaman sekarang sudah mulai tertarik dengan kreasi juga berinovasi menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi terbatas misalnya kaos, stiker, media sosial, juga lagu-lagu Jawa yang populer di seluruh Indonesia. Kaos yang digunakan para kaum muda itu menggunakan kata-kata bijak yang bisa digunakan sebagai nilai positif dalam kehidupan masyarakat umumnya. Seperti misalnya “sabejo bejone wong lali, isih bejo wong kang eling lan waspada “ artinya bahwa semujur-mujurnya orang yang lupa , akan masih beruntung orang yang selalu ingat dan berwaspada.

Menjadi orang yang selalu ingat atau sadar, selalu waspada agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.Akan tidak ada seorang murid yang melawan gurunya dan tidak ada guru yang melakukan kekerasan terhadap orang lain. Contoh yang lainnya adalah “Becik ketitik ala ketara” artinya berbuat baik dan buruk itu akhirnya akan terlihat juga. Perbuatan baik dan perbuatanan buruk, walaupun ditutup-tutupi suatu saat pasti akan terlihat juga. Dalam bahasa Indonesia ada peribahasa sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan jatuh juga.Kata-kata tersebut mempunyai pesan moral dan kebaikan yang dapat kita pahami. Jadi kalau sudah memahami arti yang tersirat dalam kalimat itu maka kita akan menjalankan supaya dikemudian hari bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar.

Sebagai orang Jawa seharusnya mengenal tentang nilai-nilai yang terkandung dalam kalimat dari para pendahulu kita, agar supaya kita sebagai orang Jawa tidak mudah kehilangan identitas diri sebagai orang Jawa. “Wong Jawa sing njawani” artinya orang Jawa yang mengerti tentang identitas orang Jawa. Yang terkenal dengan lemah lembut tingkah lakunya dan halus tutur katanya. Karena apabila generasi muda bersikap acuh terhadap pendahulu kita, maka tidak akan mengenal lagi sikap adiluhung dan tidak akan mengenal lebih dekat filosofi Jawa.

Orang tua tidak berusaha mengajarkan anak-anak mereka mengguanakan bahasa Jawa yang baik dan benar, itu artinya bahwa mereka tidak mau dihormati oleh anak-anaknya. Tetapi sebaliknya, kalau anak-anak mereka diajak komunikasi oleh orang tuanya dengan menggunakan bahasa Jawa itu artinya bahwa orang tua sudah mengajarkan untuk menghormati orang lain termasuk orang tuanya sendiri. Bagaimanakah kalau anak –anak tidak menghormati anda ? Masihkah orang tua mengharapkan anak anda untuk “mikul dhuwur mendhem jero”( ngajeni /menghormati ) ?. Terserah pilihan anda !.

Oleh : Dra. Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 8 Surakarta, No. Hp. 081329405977

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger