Omset Industri Kreatif Melejit, Di Tengah Kelesuan Ekonomi

JATENGONLINE, SOLO – Disaat pengusaha besar mengeluh ekonomi sedang lesu, pelaku ekonomi kreatif yang notabene adalah pelaku usaha sektor mikro, kecil dan menengah justru sebaliknya omzetnya mengalami kenaikkan yang signifikan. Bahkan mampu merambah dan menembus pasar ekspor.

Hal ini diungkapkan, Yani Mardiyanto, owner kain lukis Nasrafa pada tampil dalam talkshow Lingkup Ekonomi Fakultas Ekonomi Unisri, di salah satu stasiun radio, Senin (7/8/2017).

Acara talkshow dipandu dosen fakuktas ekonomi Unisri dan konsultan bisnis, Drs. Suharno, MM, Ak, CA, MIPR, berlangsung interaktif, pendengar banyak yang mengajukan pertanyaan via telpon.

Lebih lanjut, Yani, memaparkan usaha yang digeluti lima tahun yang lalu, awalnya hanya iseng-iseng.

“Di kampung kami pun, wilayah Jebres, anak-anak muda banyak yang hobi melukis, tapi sayang melukisnya di tembok-tembok. Kebetulan saya bekerja di pabrik tekstil yang banyak bersentuhan dengan kain. Saya mulai mengajak mereka melukis di jilbab,” ungkapnya.

Awalnya memproduksi 40 jilbab. Baru habis setelah satu bulan. Produk mulai dikenal, saat sering mengikuti pameran diberbagai kota. Salah satu pameran yang diikuti Inacraf di Jakarta. Saat itulah order terus berdatangan dari berbagai kota dan luar negeri.

Modal awal usaha hanya sekitar 10 juta dari uang tabungan untuk pengadaan peralatan. Setelah berkembang BRI memberikan pinjaman 20 juta. Melihat usaha kami makin berkembang dengan program KUR kami dapat pinjaman 100 juta.

“Alhamdulillah pinjaman yang kami terima bisa untuk tambahan modal kerja. Namun kami pesankan untuk pengusaha pemula jangan buru-buru cari pinjaman sebelum usahanya berkembang,” pesannya.

Kini, Yani, telah memiliki karyawan 12 orang dan produknya tidak hanya jilbab lukis namun telah merambah pada produk fashion yang bermedia kain, seperti beragam busana, topi, sepatu dan payung.

Saat ini yang sedang booming adalah payung lukis dijual dengan harga 200 ribu, sedang jilbab pada kisaran 50 ribu sampai 200 ribu.

Saat ini pemasaran mengandalkan media sosial, khususnya Facebook dan Instagram serta event pameran. Untuk outlet sedang merintis di tujuh kota besar, salah satunya Bandung. Sedang yang di luar negeri produk merambah Singapura.

Menurutnya, pasar produk ekonomi kreatif sangat prospektif di pasar luar negeri, khususnya Asia dan Eropa.

Seiring berkembangnya usaha, Yani, telah menyiapkan aspek manajemen secara profesional. Termasuk mendaftarkan merek Nasrafa.

“Alhamdulillah merek Nasrafa baru saja terdaftar di Kemenkumham. Setelah melewati proses kurang lebih empat tahun. Sehingga merek Nasrafa sudah tercatat di HAKI,” paparnya.

Kunci sukses berwirausaha menurut Yani adalah kedisiplinan, tepat janji, dan kreativitas. Harus berani membuat produk yang berbeda dengan yang sudah ada.

Pemandu talkshow, Suharno, ikut menegaskan bahwa kelesuhan ekonomi saat ini lebih disebabkan telah terjadinya pergeseran perilaku konsumen yang tidak disadari para pengusaha besar.

“Kelesuan ekonomi sebagian besar dirasakan pengusaha ritel. Karena telah terjadinya kejenuhan pasar modern. Konsumen dulu berbelanja di mal-mal. Namun sekarang mereka tidak mau ribet dan buang waktu. Mereka telah banyak bergeser membeli secara on line. Lihat saja saat ini jasa pengiriman barang tumbuh pesat,” ungkapnya.

Diakhir acara, Suharno, berharap pelaku usaha dan masyarakat untuk selalu siap menghadapi perubahan, dengan selalu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan, karena perubahaan adalah keniscayaan (arn).



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress