Indonesia Harus Mampu Suplai Ekspor Daging Halal

Prof. Dr. Betania Kartika Muflih dari INHART (The Interhational Institution of Halal Research and Training) Malaysia

JATENGONLINE, SOLO – Saat ini Indonesia masih bergantung pada daging impor, dimana daging impor tersebut belum tentu terjamin kehalalannya. Rafiuddin Shikoh, Chief Executive dan Managing Director perusahaan riset Dinar Standard, menyampaikan mayoritas pengekspor daging ke negara muslim berasal dari negara non-OIC (Organisation of Islamic Cooperation).

“Di era gaya hidup halal ini, Indonesia harus mampu mengambil rantai nilai menjadi supplier pengekspor daging halal ke negara-negara di seluruh dunia. Jangan sampai peluang ini diambil oleh negara-negara pesaing lainnya,” papar Prof. Dr. Betania Kartika Muflih dari INHART (The Interhational Institution of Halal Research and Training) Malaysia, pada Kuliah Umum “The Growth of Halal Industry”. Kamis (19/10/2017)

Tentunya hal ini harus didukung oleh pemerintah Indonesia, lanjut Betania, dengan berbagai kebijakan dan inovasinya. Agar Indonesia dapat bersaing dan merebut pangsa pasar dunia serta menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Kegiatan yang dilaksanakan di gedung Sidoluhur Kampus UNIBA Surakarta tersebut, diikuti sebanyak 250 peserta mengikuti acara ini. Mereka adalah mahasiswa UNIBA dan masyarakat umum serta praktisi perhotelan dan restaurant. Atas kerjasama antara Program Studi Peternakan dan Pasca Sarjana UNIBA Surakarta.

“Dikaitkan dengan kehalalan produk, maka bagian-bagian dalam sistem yang menghasilkan dan mentransformasikan hasil pertanian menjadi bahan setengah jadi maupun barang jadi seperti dalam definisi agroindustri di atas, harus memenuhi prinsip-prinsip mendasar yang harus diperhatikan mengenai kehalalan suatu produk,” jelas Prof Betania.

Kehalalan suatu produk ditentukan oleh beberapa faktor yang dijelaskan (Dahlan, 2009) yakni 1). Sumber Daya Manusia (Man). Abattoirs yang menjadi pemotong hewan merupakan penganut agama Islam; 2). Bahan Baku (Materials). 3). Mekanisme (Mechanism).

Memadukan sumber daya alam yang kaya dengan populasi muslim terbesar di dunia secara komprehensif dapat diwujudkan melalui konsep pengembangan agroindustri halal. Hal tersebut merupakan bentuk yang tepat untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki sehingga menjadi penghasil produk-produk bernilai tambah, berdaya saing tinggi dan dalam rangka memenuhi potensi kebutuhan pasar halal domestik dan internasional. Agroindustri halal diharapkan dapat menjawab keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif.

Sedangkan Rektor UNIBA Surakarta, Prof. Dr. Ir. Hj. Endang Siti Rahayu, MS, mengatakan bahwa Studium General ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan industri halal dalam bidang agroindustri baik dari segi keislaman maupun pengetahuan ilmiah. Dan, meningkatkan pengetahuan mahasiswa pascasarjana dalam industri halal. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *