FinTech Bentuk Inovasi Sistem Keuangan di Era Digital

Forum Bisnis Pas Fm Solo, menghadirkan Laksono Dwionggo Kepala OJK Solo, Aloysius Andy Sulistyo Pincab BRI Sudirman dan Yohanis Barata Randa BM PT FIF di Orient Restaurant Hartono Mall. Rabu (25/10/2017)

JATENGONLINE, SOLO – Bisnis sektor finansial adalah salah satu bidang yang mendukung kekuatan perekonomian. Seiring berkembangnya teknologi, bidang finansial pun turut mengalami perkembangan dan perubahan ke arah yang lebih praktis dan modern.

FinTech adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu inovasi di bidang jasa finansial yang mengacu pada inovasi finansial dengan sentuhan teknologi modern.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo, Laksono Dwionggo menyebutkan, konsep FinTech yang mengadaptasi perkembangan teknologi yang dipadukan dengan bidang finansial diharapkan bisa menghadirkan proses transaksi keuangan yang lebih praktis, aman serta modern.

“Ada banyak hal yang bisa dikategorikan ke dalam bidang FinTech, diantaranya adalah proses pembayaran, transfer, proses peminjaman uang secara peer to peer dan masih banyak lagi, selama kegiatan tersebut membuat masyarakat lebih nyaman dan aman, OJK mendukungnya,” papar Laksono, pada Forum Bisnis Pas Fm Solo, di Orient Restaurant Hartono Mall. Rabu (25/10/2017)

Banyak hal yang membuat perkembangan FinTech mampu mempengaruhi gaya hidup masyarakat, sehingga membuat bidang FinTech terus tumbuh menjadi sebuah kebutuhan baru bagi masyarakat. Praktis membantu perkembangan startup baru berupaya untuk menciptakan inovasi di bidang FinTech.

Di kawasan Asia Tenggara, FinTech berperan mengentaskan kemiskinan lebih dari 600 juta jiwa sambil terus berusaha memberikan bukti nyata tentang keuntungan startup demi meningkatkan kepercayaan para investor.

“Tidak hanya berfokus pada perolehan keuntungan yang besar, FinTech rupanya juga mampu meningkatkan taraf hidup dan daya beli masyarakat,” kata Yohanis Batara Randa, Branch Manager PT FIF di Solo Raya.

Lebih lanjut Yohanis menjelaskan, untuk mensikapi pertumbuhan IT dan bertujuan untuk memberikan kemudahan layanan bagi kosumennya, PT FIF anak perusahaan dari Astra ini pun, meluncurkan beragam program, diantaranya Digital Application Form (DAF) selain Mobile Customer.

“Konsumen tidak harus datang secara fisik, cukup melalui DAF untuk melakukan kontrak,” tegasnya

Sementara, kekuasaan lintah darat yang hadir sebagai ‘penolong’ masyarakat namun menetapkan bunga pinjaman yang tinggi tentu menjadi suatu masalah klasik yang belum dapat diatasi secara maksimal. Namun dengan kehadiran FinTech, diharapkan sistem peminjaman uang bisa dilaksanakan dengan cara yang lebih transparan dan menjadi hak umum bagi semua masyarakat.

Tidak ada salahnya kan kalau dari sekarang kita mulai mempelajari tentang perkembangan FinTech di Indonesia. Pembentukan asosiasi FinTech di Indonesia akan membuka era baru bagi bidang ekonomi yang lebih praktis, modern dan mampu menjangkau masyarakat dari seluruh kalangan ekonomi.

Peningkatan layanan yang diberikan oleh perbankan pun, sudah mengedepankan fasilitas berbasis tehnologi terbarukan ini, seperti yang dilakukan oleh BRI, pengadaan satelit secara mandiri sebagai upaya back up program berbasis IT yang diluncurkannya, selain efisien juga lebih hemat.

“Menyitir perkataan Bill Gates, bahwa masyarakat masih tetap membutuhkan layanan transaksi perbankan, tapi bukan kantor bank nya. Sehingga efisien dan kepraktisan menjadi pilihan, kedepan kita tidak akan bisa menolak kemajuan, karena perubahan itu akan tetap ada, dan kita harus siap dengan perubahan itu,” terang Aloysius Andy Sulistyo, Pimpinan Cabang BRI Sudirma Solo.

Untuk mensikapi perubahan perilaku nasabah, imbuh Andy, BRI menggandeng sejumlah industri Fintech untuk diajak bekerjasama, sekitar 6 perusahaan fintech bakal di rangkulnya, dari fintech seperti Doku, Belanja.com, dan Gojek yang telah bekerjasama.

“Tehnologi kita pakai rasio, namun pelayanan tetap pakai hati,” tegasnya.

OJK membentuk dua unit atau direktorat baru guna merespons perkembangan industri jasa keuangan berbasis teknologi ini, yakni Unit Inovasi Keuangan Digital dan Unit Perizinan dan Pengawasan Fintech.

Upaya OJK merespons perkembangan fintech juga dilakukan dengan membentuk Forum Pakar Fintech dan pusat inovasi atau “innovation hub” khusus fintech.

Forum pakar tersebut menjadi wadah pengembangan arah industri fintech yang beranggotakan individu-individu dari 21 entitas seperti kementerian, lembaga, asosiasi, universitas, dan perusahaan pelaku usaha terkait.

Komite tersebut akan memberikan rekomendasi dan masukan sekaligus memfasilitasi koordinasi antarlembaga dengan pelaku perusahaan rintisan fintech.

Sedangkan pusat inovasi fintech OJK diproyeksikan menjadi titik singgung berbagai inkubator fintech untuk kemudian mendiskusikan perkembangannya.

Sebagaimana diketahui, Asosiasi Fintech Indonesia mencatat hanya terdapat empat perusahaan fintech di 2006. Pada kurun 2015-2016, tercatat terdapat 165 perusahaan rintisan fintech yang terdaftar di OJK.

Pelaku fintech di Indonesia tersebut sekitar 43 persen bergerak di sektor pembayaran, 17 persen layanan pinjam meminjam langsung berbasis teknologi informasi, dan sisanya berbentuk agregator, crowdfunding dan lain-lain. (ian)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress