PG Tjolomadoe Jadi Pusat Pendidikan Sejarah

Venue seluas 6,4 hektar tahap awal revitalisasi PG Tjolomadoe. Foto diambil Senin ( 4/12/2017)

JATENGONLINE, SOLO – Pabrik gula Tjolomadoe berparas Art Deco itu, telah diambil alih pemerintah, selanjutnya di revitalisasi dan dinasionalisasi oleh Republik Indonesia dari pemerintahan Swapraja Mangkunegaran.

Karena dinamika pengoperasian pabrik gula yang berujung pada penutupannya di tahun 1998 lalu itu telah membawa bangunan bersejarah itu menjadi Aset BUMN. Oleh Presiden Joko Widodo, bangunan bersejarah itu dihidupkan kembali sebagai venue seni budaya bagi Solo Raya.

Tepat memperingati 156 tahun keberadaannya, sekaligus sebagi penanda selesainya tahap awal revitaslisasi bangunan bersejarah tersebut bakal digelar sejumlah even menarik, di venue di lahan seluas 6,4 hektar ditahap awal ini, pada hari Sabtu (9/12/2017)

“Kami mengundang warga Solo Raya untuk menyaksikan acara revitalisasi pabrik tjolomadoe, yang nantinya sebagai pusat kebudayaan, pusat tourisme, convention hall, musium heritage, shopping archade,” terang Lia Imelda, Mewakili Konsultan Arsitek Yuke Ardhiati. Selasa (7/12/2017)

Ditambahkan Lia, bahwa pabrik gula ini dirancang memiliki multi purpose hall, dimana dijadwalkan nanti di bulan Maret 2018, akan digelar pertujukan berkelas internasional, yang pertama kali digelar konser secara akbar.

“Tjolomadoe nantinya selain sebagai daya tarik wisata dan destinasi, juga bakal menjadi pusat pendidikan sejarah dan pariwisata di Solo,” imbuh Lia.

Seperti disampaikan Yuke Ardhiati, Konsultan Arsitek, bahwa pabrik bergaya Arsitektur Indies itu didirikan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Arya Mangkunegara ke-IV pada 8 Desember 1861. Kehadiran bangunan berserambi, berpilar Tuscany, beratap limasan dengan cerobong yang mengangkasa telah menjadi tetenger kebangkitan pulau Jawa dalam bidang industri gula.

Pabrik yang dinamai Tjolomadoe adalah bangunan industri gula pertama milik bumiputera di tanah Jawa. Nama itu menyiratkan simbolisme ‘gunung yang menebar kemuliaan’. Dan terbukti, sepuluh tahun kemudian, di tahun 1871 keuntungan Tjolomadoe telah melahirkan pabrik gula kedua Tasikmadoe sebagai simbolik ‘lautan madu’.

Keberanian Sang Adipati dalam mendirikan pabrik gula di tengah suasana kolonial merupakan sebuah transformasi. Dari kehidupan bangsawan bumiputera pemilik tanah menjadi bangsawan industriawan. Berkat bantuan yang diulurkan oleh Mayor Cina Be Biau Tjoan dan Nyi Pulungsih telah mengantar produksi gulanya hingga menjangkau Singapura dan Bandaneira.

Berkahnya mengantar ‘Wong Cilik’ belajar berdikari secara ekonomi seraya menjunjung lestarinya budaya tradisi; Manten Tebu, Cembengan dan Slametan. Tersebab tuntutan modernitas, oleh penerusnya, Mangkunegara ke-VII façade/paras muka bangunan pabrik digubah bergaya Art Deco ditengarai tulisan Anno 1928 di dua sisi dindingnya. Setahun kemudian, ia menjadi saksi bisu kunjungan kenegaraan Raja dan Ratu Siam. Tjolomadoe menoreh kemitraan dagang antara bumiputera dengan mancanegara.

“Sejak 8 April 2016, sejumlah persero di lingkup BUMN menyatukan barisan menggarap bangunan berparas Art Deco itu untuk tiga decade ke depan,” kata Yuke dalam rilisnya.

Kini, situs dan bangunan bekas pabrik gula Tjolomadoe itu sedang menunggu statusnya sebagai Cagar Budaya karena dalam dirinya terpenuhi empat kriteria; usia 50 (lima puluh) tahun, merepresentasi masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun; memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Manakala samar-sama mengalun tembang Pangkur bertajuk Mingkar Mingkuring Angkara, bait-bait pepatah adiluhung karya Mangkunegara IV terdengar. Mingkar mingkuring angkara ?Akarana karenan mardi siwi, Sinawung resmining kidung, Sinuba sinukarta, Mrih kretarta pakartining ngèlmu luhung, Kang tumrap ning tanah Jawa, Agama ageming aji. Bila diartikulasikan dalam bahasa Indonesia, maka syair tembang “Menghindarkan Diri dari Angkara” itu demikian menginspirasi: Di saat ingin mendidik putra, kemaslah ke dalam keindahan kata. Gubahlah dengan indah, Agar tujuan ilmu luhur tercapai, Yang berlaku di tanah Jawa, Agama menjadi pegangan para pemimpin.

“Manakala sinergi BUMN ingin menoreh karya, cita rasa yang semanis gula akan tetap terasa, cita rasa bangga akan tetap terjaga di bumi Colomadu. Bukan lagi simbolik tentang gunung madu penebar kemuliaan akan tetapi sebuah hamparan ruang seni budaya yang akan menjadi saksi bisu warga Solo Raya dan warga dunia,” tambah Yurike Ardhiati, selain Doktor dibidang arsitektur adalah penulis “Bung Karno Sang Arsitek”, 2005 dan “Bung Karno dalam Panggung Indonesia”, 2013.

Bangunan berparas Art Deco akan segera hadir kembali sebagai ruang bagi warga bersilaturahmi, bercengkrama, seraya menggelar seni-budaya. Inspirasi kejayaan masalalu diharapkan berimbas bagi Sang Diri, membawa memori indah seraya mengukir jati diri; Aku, menjadi saksi Colomadu bagi Indonesia . (ian)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress