AMA SOC Reborn ! Disruption Digital

JATENGONLINE, SOLO – AMA Indonesia Chapter Solo menyelenggarakan seminar Disruption Digital dengan menghadirkan nara sumber kompeten di bidangnya di sesi pertama akan di hadirkan Daniel Tumiwa, Anggota Dewan Penasehat Asosiasi E-Commerce Indonesia (IdFA), Former CEO OLX Indonesia. Disesi kedua dihadirkan Rama Manusama, CEO Mandala Labs & Former of Head of Innovation & Strategy MDI Investement.

“Era digital telah membawa perubahan besar bagi masyarakat. Pola hidup dan kebiasaan menjadi berubah, kehadiran teknologi telah membuat hidup menjadi lebih mudah dan efisien,” papar Susanto Liem, Presiden AMA Indonesia Solo saat sambutan.

Dampak negatif dari teknologi, lanjut Susanto, menjadi suatu disrupsi bagi bisnis konvensional yang telah dirintis berpuluh-puluh tahun. Pelaku bisnis tidak boleh terus menerus melihat disrupsi digital ini sebagai sesuatu hal yang negatif, melainkan harus membekali diri dan karyawannya untuk berubah bersiap menghadapi dan mencari solusi di era disrupsi.

Daniel Tumiwa dihahadapan ratusan peserta seminar

Bukan rahasia lagi, ungkap Anggota Dewan Penasehat Asosiasi E-Commerce Indonesia (IdFA), Former CEO OLX Indonesia, kini dunia tengah menyaksikan perpindah­an mobil ke self driving car yang dikendalikan teknologi informasi atau internet melalui smartphone. Kemudaian petugas bengkel pun kelak bukan lagi seorang montir yang dikenal seperti pada abad ke-20 ini, melainkan para ahli IT yang bekerja dengan perangkat lunak.
“Internet of things yang membentuk peradaban ini, dan dalam menghadapi era disruption dibutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing,” terang Daniel Tumiwa.
Disruption adalah sebuah inovasi, menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru, menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital.

“Singkatnya disrupsi memiliki sesuatu yang premium tapi tidak harus membeli, lebih efisien, juga lebih bermanfaat,” lanjut Daniel.

Sementara, disruption menurut CEO Mandala Labs & Former of Head of Innovation & Strategy MDI Investement, akan menjadi berat karena tidak hanya wirausaha dan regulator, namun banyak orang tidak tahu apa yang tengah terjadi.

“Mereka berpikir telah melakukan cara-cara terbaik. Tak hanya langkah-langkah manajerial yang sistematis, prinsip-prinsip strong brand dan inovasi pun telah diterapkan, ternyata tak cukup hanya itu,” papar Rama Manusama.

Untuk membuka mata kita dan melihatnya kemudian membaca proses, lingkungan, dampak regulasi, strategi, dan akibat dari disruption. Belajar bersama dalam komunitas, industri berdampak disrupsi tetap dipertahankan melalui inovasi atau beralih di bidang yang baru sinergi dengan disrupsi.

“Ternyata motivasi saja tidak cukup, disaat dunia berubah, industri lama pun terdisrupsi tanpa bisa terelakkan. Banyak orang lama memilih untuk tidak menghadapinya,” imbuh Rama.

Seminar Disruption Digital diikuti sekitar 250 peserta, mulai dari akademisi, manajemen perusahaan, enterpreneur muda, UMKM dan profesi lainnya. Dilaksanakan di Grand Meeting Room Orient International Restoran, Jalan Slamet Riyadi 397 Solo, Sabtu 3 Februari 2018, mulai 08.00 – 15.00 WIB. (ian)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!