Porwanty Astuty Suka ‘Mbolang’ & Anti Mainstream

JATENGONLINE, SOLO – Ada istilah menarik yang berkembang akhir-akhir ini. Istilah tersebut adalah “mainstream”. Istilah ini bahkan bisa dibilang masuk ke kategori bahasa gaul yang digunakan oleh banyak anak muda di Indonesia. Tidak hanya masuk ranah populer, istilah mainstream pun digunakan di berbagai bidang, termasuk di bidang perhotelan.

Lantas sebenarnya, apa arti “mainstream”? bagi sosok wanita bersahaja, yang baru beberapa hari kembali ke kota Solo, setelah 3 tahun lebih ‘mbolang’ ke kota lain.

Dialah Purwanti Astuti, atau akrab di panggil Tuty, General Manager gress di Megaland Hotel, karena bergabung dengan manajemen hotel yang terletak di lokasi strategis kota Solo, jalan Slamet Riyadi ini resmi pada Senin (5/2/2018).

Tak banyak berubah memang, tetap smart, ceria dan ramah seperti 3 tahun lalu saat bergabung dengan hotel brand berbeda. “Anti mainstream juga menjadi gaya hidup yang berbeda dan menarik. Orang yang kreatif umumnya senang dengan aktivitas anti mainstream karena tidak mau ikut-ikutan,” kata ibu dua anak ini.

Dalam kehidupan misalnya, ketika orang banyak menggunakan baju lengan pendek, maka yang anti mainstream akan memilih menggunakan baju yang lengannya panjang sebelah, yang kanan panjang dan yang kiri pendek.

Lantas, seperti apa anti mainstream yang akan diterapkan di perhotelannya? Bila melihat kondisi pasar saat ini, disadari atau pun tidak persaingan hotel semakin ketat, jumlah hotel di sepanjang jalan utama di kota Solo pun tumbuh makin marak. Sehingga market kian terbatas.

“Segera saya bersama tim mulai menerapkan strategi berbeda. Selain merangkul media yang mana sebelumnya bahkan mediapun tidak banyak yang tahu,” ujar Tuty, ditemui di resto hotelnya. Cara terbaik untuk mengenalkan hotel dengan cepat adalah memanfaatkan media digital, imbuhnya, apalagi saat ini tren masyarakat lebih banyak mencari informasi melalui online.

“Optimalkan koordinasi dengan tim untuk melakukan terobosan dan perubahan untuk hotel Megaland sebagai hotel terbaik pilihan tamu dan masyarakat,” tegasnya.

Meski strategi yang rencanya dilakukan itu bertahap, namun Tuty optimis melihat jika saat ini hotel yang dipimpinnya ini akan semakin dilirik tamu. Dengan selalu memberikan motivasi terus berkreasi dan berinovasi untuk melakukan perubahan.

“Kalau hambatan sudah pasti ada. Namun saya selalu melihat hambatan itu bukan halangan dalam mencapai kesuksesan melainkan justru peluang bagus bagi yang mau berfikir secara positif,” tekad ibu yang sudah banyak berkecimpung di dunia hospitality dengan berbagai karakter owner, manajemen maupun tim.

Tuty juga selalu menekankan kepada karyawannya untuk menjadikan pekerjaan itu sebagai ibadah. Sehingga dalam pengerjaanya itu berasal dari hati. Menekankan pada mereka untuk selalu rajin dan pantang menyerah. Bila satu proyek gagal maka ganti dengan yang lain.

“Dan jangan pernah berputus asa melainkan menjadikan kesulitan itu sebagai tantangan untuk lebih kreatif dan inovatif,” katanya. Strategi untuk menghadapi perkonomian yang lesu. Dirinya bersama dengan tim selalu melihat pasar sebelum bertindak.

“Kita harus jeli melihat pasar. Apa yang tengah menjadi tren market, wilayah mana yang tengah ramai dan sebagainya. Dan bila sudah dapat memahami pasar dan market baru disusun strateginya menerapkan anti mainstream karena tidak banyak orang menggunakannya,” jelasnya.

Diakhir pertemuan, saya sempat bertanya apa keinginan Tuti diluar hotel. Wanita 2 anak ini mengaku ingin menjadi pengusaha sukses. Semoga ! (ian)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress