Potensi Pasar BPR/BPRS Masih Menjanjikan

JATENGONLINE, SOLO BARU – Paguyuban Pemegang Saham dan Komisaris BPR/BPRS (Pesakom) Soloraya, Rabu (7/2/2018), bertempat di Best Western Hotel, Solobaru, menyelenggarakan seminar “Outlook Ekonomi 2018: Langkah Industri BPR/BPRS di Era Digital “.

Ketua Pesakom, Wymbo Widjaksono, menjelaskan tujuan seminar sebagai ajang silaturahmi dan belajar antar pemegang saham dan komisaris, sekaligus untuk saling berbagai informasi terbaru terkait pengelolaan BPR.

Acara dihadiri Pemegang Saham dan Komisaris BPR/BPRS Soloraya, Pengurus Perbarindo Jawa tengah dan Ketua OJK Solo. Tampil sebagai pembicara Lana Soelistianingsih dari PT Samuel Aset Manajemen dan Satrio Yudianto Owner dan Komisaris Utama BPR Surya Yudha Grup.

Lana Soelistianingsih memaparkan melambatnya perekonomian 2017 akibat penurunan eksport dan turunnya konsumsi domestik. Namun 2018 perekonomian Indonesia diproyeksi akan lebih baik karena adanya berbagai program bansos, padat karya dan tahun politik yang berdampak meningkatnya konsumsi rumah tangga.

“Membaiknya ekonomi mestinya memberi ruang tumbuh kredit bank. Walaupun kemungkinan masih ada perebutan dana dengan obligasi korporasi dan penerbitan obligasi pemerintah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Lana Soelistianingsih yang juga staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), mengharapkan para bankir bisa menangkap peluang perubahan gaya hidup konsumen di era millennials, yang cenderung ingin praktis dan serba cepat, tidak mau ribet dengan berbagai macam aturan dan prosedur dalam semua aktivitas.

Sementara itu, owner dan komisaris utama BPR Surya Yudha memotivasi peserta untuk selalu optimis dan selalu mau belajar, serta berfokus untuk membesarkan BPR.

“Pasar kita masih luas ditingkat kecamatan. Jangan masuk di kota. Potensi ekonomi tingkat kecamatan sangat bagus. Kita harus fokus menggarapnya. Tidak perlu takut dengan berbagai proyeksi dan prediksi. Saya telah membuktikan saat mendirikan BPR tahun 1992 aset hanya 120 juta dan karyawan hanya 13. Sekarang aset menjadi 2,4 trilyun dengan 2 ribu karyawan, kantor BPR tersebar di setiap kecamatan di Jawa tengah,” paparnya.

Lebih lanjut, Satrio Yudiarto, mengatakan suku bunga di Indonesia tergolong tinggi, surga bagi investasi, sehingga investor berbondong bondong ke Indonesia. Mestinya peluang itu dimanfaatkan dengan baik agar tidak dikuasai lembaga keuangan asing.

“Jangan takut dengan berbagai macam prediksi, fakus bekerja, saya telah membuktikan disaat krisis menerpa, justru BPR Surya Yudha terus tumbuh dan berkembang ” ungkapnya membakar semangat peserta. (arn)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress