Waspada dan Hati-hati Dengan Medsos !

Kekuatan Pembentukan Karakter Anak Dari Sekolah dan Rumah – Kegembiraan Anak Bermain, Sebelum Adanya Gadget. (Foto: Kaskus)
JATENGONLINE, SOLO – Guru sebagai agen berubahnya karakter bangsa. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya menjadi lebih baik dari mereka, bahkan harus lebih pandai dari orang tuanya sendiri. Selain itu orang tua sangat mengharapkan agar anak-anaknya mempunyai karakter yang baik bagi agama, nusa dan bangsa. Tidak aneh kalau orang tua mencarikan sekolahan untuk anaknya sesuai dengan keinginan, salah satunya adalah karena kedisiplinannya. Bahkan walaupun tempatnya jauh tidak akan menjadi masalah, yang penting cocok dengan kondisi sekolahan tersebut.

Sekolah itu bukan hanya tempat untuk mencari ilmu saja, tetapi sekolah juga tempat belajar anak-anak untuk mendapatkan karakter mereka sendiri-sendiri. Di dalam mendapatkan ilmu dari sekolah, guru sebagai agen berubahnya karakter bangsa. Dengan metode yang digunakan masing-masing guru, mereka berusaha mendidik dan memberi contoh kepada siswanya. Sesuai dengan jarwa dhosok Guru yaitu digugu lan ditiru (bisa dipercaya dan bisa dicontoh).

Guru itu bukan hanya sebagai pekerjaan saja, tetapi juga mempunyai tugas yang mulia yaitu menyiapkan generasi penerus bangsa. Guru itu juga menjadi contoh bagi generasi penerus bangsa. Etos kerja guru, bekerja yang rajin, jujur, disiplin, gotong royong, ikhlas, prihatin. Hal ini diupayakan atau dimulai dari mengajar di kelas- kelas sampai mendidik anaknya sendiri di rumah.

Selain pendidikan di sekolah, ada pendidikan lain yang diperoleh dari televisi atau media sosial seperti facebook, youtube, twitter, path, instagram. Pendidikan dari sinilah yang sangat besar pengaruhnya bagi karakter anak jaman sekarang. Kebanyakan sekolah mempunyai aturan melarang siswa untuk membawa hape, jadi tidak ada masalah. Namun demikian, kalau di rumah sebagai orang tua wajib berhati-hati terhadap anaknya yang sudah dibiasakan memegang hape sendiri.

Jangan sampai lingkungan memberi pengaruh yang negatif yang datang dari tempat lain. Banyak sekali hal-hal yang negatif muncul dari hape anak-anak. Apalagi anak-anak sekarang merasa bertambah penasaran dan semakin lama meniru apa yang dilihatnya dari hape tersebut. Masih beruntung kalau yang ditiru itu positif, bagaimana kalau meniru yang negatif ?. Sebab yang namanya contoh itu ada yang baik dan ada yang buruk. Tergantung bagaimana perhatian orang tua mau peduli dengan anaknya dan mau menjelaskan kepada mereka atau sebaliknya.

Anak-anak sekarang semakin kritis. Bahkan dengan beraninya menyampaikan kepada orang lain karena orang tuanya sudah tidak peduli denganya. Terbukti setiap saat banyak orang tua yang dipegang hanya hape. Bahkan sudah jarang orang tua yang melakukan belaian kasih sayang dengan anaknya. Orang tua sudah jarang memeluk anaknya, mengelus, membelai, berada disamping anaknya. Yang lebih aneh lagi, orang tua sudah mengajarkan kepada anaknya untuk tidak ikut-ikutan dengan urusan orang tuanya.

Sepertinya anak-anak dipaksa untuk hidup sendiri, pasrah dengan pihak sekolahan. Orang tua merasa anaknya sudah disekolahkan dan bahkan merasa hanya dari sekolahlah karakter anaknya itu akan berubah menjadi baik. Dengan kata lain, pasrah segalanya semua sudah tercukupi dari sekolahan dan orang tua hanya tahu jadinya saja. Orang tua juga merasa sudah mencukupi semua biaya kebutuhan anaknya.

Tidak aneh kalau anak kecil jaman sekarang cita-citanya ingin menjadi hape. Alasanya, hape selalu dibawa kemana orang tua pergi, selalu dipegang, selalu dipijat dan selalu dielus-elus, dibawa ke supermarket, setiap saat selalu berada disampingnya. Perbuatan orang tua yang seperti inilah yang membuat anaknya mempunyai karakter yang kurang baik. Kalau di rumah sudah dibiasakan berkarakter kurang baik, maka tidak aneh kalau di sekolahan kondisinya akan tidak jauh berbeda dengan di saat berada di rumah. Anda sebagai orang tua, tidakkah mempunyai rasa belas kasihan terhadap anak anda sendiri ? Siapakah yang akan peduli dengan anak anda kalau anda sendiri tidak pernah mempedulikannya ?

Sangat disayangkan kalau orang tua hanya pasrah dengan pihak sekolahan. Padahal tidak semua aturan yang ada di sekolahan itu orang tua mengetahuinya. Banyak sekali kejadian yang terjadi karena tidak kesepahaman antara orang tua yang di rumah dengan pihak sekolahan. Salah satunya adalah, larangan untuk menggunakan sepeda motor bagi anak yang belum mempunyai SIM (Surat Ijin Mengemudi). Jelas kalau sekolah akan melarang bagi anak yang belum mempunyai SIM menggunakan sepeda motor.

Tapi dari pihak orang tua, dengan alasan yang beraneka macam misalnya karena tidak ada yang mengantar atau karena alasan lain anak tetap diijinkan menggunakan sepeda motor. Kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya terjadi kecelakaan maka orang tua sendirilah yang akan merasa kecewa. Akhirnya munculah penyesalan yang dirasakan. Itu salah satu contoh mendidik karakter yang harus dilakukan untuk anak-anak generasi penerus bangsa.

Sekolah dan di rumah itulah yang paling utama melakukan perubahan karakter. Guru dan orang tualah yang sangat berperan penting dalam merubah karakter bangsa. Berhati-hatilah dengan media sosial yang akan memberi pengaruh negatif dari tempat lain. Akan lebih bijaksana lagi kalau orang tua juga memantau pekerjaan rumah atau tugas yang lain dari sekolahan. Karena banyak terjadi di sekolah, anak yang tidak mengerjakan PR ataupun tugas yang lain. Bahkan buku mata pelajaranpun lupa tidak membawanya. Malah ada anak yang mempunyai satu (1) buku catatan yang isisnya bemacam-macam mata pelajaran (campur aduk).

Sebagai guru dan orang tua yang dititipi amanah untuk mendidik karakter bangsa, marilah kita wujudkan karakter bangsa yang sesuai dengan pribadi orang timur !.

Sri Suprapti

Ditulis oleh : Dra. Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta, No. Hp. 081329405977

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress