Guru Tak Akan Naik Pangkat Tanpa PKB

Bila tidak  mau melakukan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ( PKB )

JATENGONLINE, SOLO – Pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ( PKB ) adalah unsur utama yang kegiatannya juga diberikan angka kredit untuk pengembangan karir guru.

PKB ini harus dilakukan berdasarkan kebutuhan guru yang bersangkutan. Kebutuhan untuk mencapai dan / atau meningkatkan kompetensinya di atas standar kompetensi profesi guru. Tujuannya untuk memperoleh angka kredit sebagai kenaikan pangkat / jabatan fungsional guru.

Beberapa waktu yang lalu Bidang GTK Dinas Pendidikan Kota Surakarta mengundang Guru TK, SD dan SMP se- Surakarta yang telah mengumpulkan berkas PKB PAK hadir di ruang Aula lt. 3 pukul 10.00 WIB untuk pengarahan PKB (mengambil hasil PKB periode Juli 2017). Penulis merupakan salah satu guru yang diundang. Kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh guru yang akan mengajukan kenaikan pangkat. Karena sebelumnya, kalau mau kenaikan pangkat langsung mengajukan dafar usulan penilaian angka kredit.

PKB baru pertama kali ini dilakukan, penulis sengaja membuat tulisan ini untuk sekedar menambah pengetahuan bagi guru yang belum jelas dan bahkan tidak tahu sama sekali. Alhamdulillah apabila tulisan saya ini dimuat di jatengonline tercinta. Karena penulis menganggap pengalaman ini bisa sebagai acuan bagi guru lain yang belum pernah melakukan PKB. Penulis merasa mendapatkan pengalaman yang sangat berharga sekali dan selayaknya untuk diberikan kepada guru yang memerlukannya.

Syarat yang diwajibkan oleh guru inilah yang membuat kendala bagi banyak guru yang berhenti ( jalan di tempat ), di golongan tertentu lebih dari 5 (lima) tahun. Kenapa demikian ? Salah satunya Guru wajib mengikuti diklat / seminar yang ada jumlah jamnya yang disebut dengan Pengembangan Diri (PD).Sebagai acuan PD piagam ditandatangani minimal oleh pejabat eselon 2 (setingkat Kadinas). Pengembangan Diri (PD) tersebut harus ada dokumen antara lain : Undangan, Surat Tugas, Laporan, Sertifikat . PD ini juga harus memenuhi kebutuhan sesuai dengan golongannya, minimal mempunyai 3 (tiga) angka kredit.

Bagaimana dengan guru yang tidak pernah mengikuti diklat / seminar? Guru harus berfikir seribu kali supaya bisa mengikuti diklat atau seminar dalam setiap tahunnya agar terpenuhi kebutuhannya. PD ini merupakan harga mati, karena tidak bisa diganti dengan apapun juga. Pengalaman penulis mengajukan PD sejumlah 5 angka kredit tetapi yang lolos penilaian hanya 2 angka kredit.

Saat ini banyak sekali beredar ajakan tentang diklat/ seminar/workshop bahkan dicantumkan jam sekaligus. Tetapi kadangkala pihak yang menyelenggarakan tidak berfikir, ( maaf ) diklat 2 hari tetapi 32 JP, ini kan tidak masuk akal. Sedangkan guru kadangkala juga tidak berfikir sampai sedetail itu. Yang penting dapat 32 JP , dianggap mendapat nilai 1 angka kredit.

Untuk mengajukan penilaian ini semua guru wajib mengisi dengan yang namanya “Format Nilai PKB Perorangan”. Yang pertama muncul adalah identitas, mulai dari nama, NIP, Unit Kerja dan Gol/ Ruang/Pangkat. Format nilai PKB perorangan terdiri dari : (1). Pengembangan Diri (PD). (2) Publikasi Ilmiah (PI) : PTK, Modul, Buku Pelajaran, (BSNP / Buku ISSN )/ Artikel / Jurnal. (3) Karya Inovatif (KI).

Untuk Publikasi Ilmiah masih banyak pilihan yang harus dilakukan oleh guru sebagai wujud dari profesionalisme guru dan salah satu bentuk upaya untuk memperbaharui mental. Jenis-jenis Publikasi Ilmiah : (1) presentasi pada forum ilmiah, (2) melaksanakan publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan ilmu pada pendidikan formal. (3) melaksanakan publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru. Bisa membuat PTK, Modul, Buku Pelajaran, (BSNP/ Buku ISSN) / Artikel/ Jurnal. Memang banyak pilihan publikasi ilmiah yang bisa diambil oleh guru dalam rangka mewujudkan profesionalismenya. Jadi bisa dikatakan bahwa mempublikasikan tulisan berarti mengibarkan bendera keilmuwan.

Karena banyak pilihan inilah yang membuat guru bisa mendapatkan kesempatan untuk melakukan pilihan. Dalam pembuatan PI ini tentunya juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Banyak kendala yang terjadi dalam mengerjakan PI ini, salah satunya adalah apabila belum terbiasa menggunakan laptop. Semuanya harus ditulis dengan komputer dan harus diprint juga.

Banyak juga kendala yang ditemui waktu pengumpulan berkas-berkas mulai dari melacak undangan, surat tugas, laporan dan sertifikat. Selain itu juga printer yang selalu error (tidak lancar) dan belum lagi kalau mati lampu. Sebagian berkas masih berada di laptop. Apabila sudah wajib mengumpulkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Ditambah lagi dengan membenahi PTK yang masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan karena harus diseminarkan. Setelah semua terpenuhi sesuai dengan waktu yang ditentukan, dikumpulkan berkas penilaian ke Bidang PTK Dinas Pendidikan.

Pengalaman penulis, sebelum penilaian PKB dibagikan penulis dipanggil pengawas untuk melengkapi beberapa kekurangan antara lain ; dalam penulisan artikel harus dilengkapi bahwa itu benar-benar tulisan sendiri dan surat pernyataan dari Kepala Sekolah bahwa tulisan itu merupakan karya dari guru yang bersangkutan. Kemudian dari beberapa artikel itu dijilid menjadi satu buku dengan judul di sampul “artikel”. Untuk yang lain menurut pendapat penulis, bahwa yang tidak direvisi adalah sudah benar (agak sombong dikit).

Ternyata pendapat yang seperti itu salah besar. Maklum pendapat kan bisa berbeda-beda. Sama dengan pendapat tim penilainya dengan pendapat penulis juga berbeda. Setelah kemarin mendapatkan nilai yang sudah diberikan dari Tim Verifikasi Nilai PKB, perasaan baru terasa plong dalam hati. Anggapan bahwa yang lain tidak direvisi itu benar memang salah besar. Terbukti bahwa pengembangan diri yang jumlahnya 5 judul dalam jangka waktu mulai tahun 2013 s.d 2017 mendapatkan nilai 2. Kemudian di Publikasi Ilmiah 10 judul mulai tahun 2015 s.d 2017 mendapatkan nilai 8. Yang terakhir Karya Inovatif mendapat nilai 0. ( bagaimana rasanya mendapatkan nilai 0 ? ).

Penilai dari masing-masing format itu ada 2 (dua). Jadi kalau penilai yang 1 memberi nilai 1 kemudian penilai yang lain menilai 0 berarti jumlah nilai rata-rata 0. Yang menjadi pertanyaan penulis adalah di format unsur Pengembangan Diri (PD). Menurut pengalaman yang sudah penulis lakukan adalah dokumen yang terdiri dari undangan, surat tugas, laporan dan sertifikat yang ada jumlah jamnya. Pertanyaannya adalah bahwa mengapa PD mendapatkan nilai 0 (nol) kalau semua dokumen sudah lengkap ada ? Kalau mendapat nilai 0 (nol) alangkah baiknya kalau diberi keterangan/ alasan yang jelas. Karena PD ini untuk guru yang bersangkutan hanya membuat laporan saja, yang lain hanya tinggal menerima jadinya saja.

Untuk unsur Publikasi Ilmiah (PI) , menurut penulis masih sangat kurang mendapatkan sosialisasi. Pendapat dari guru yang satu dengan yang lainnya berbeda, termasuk penulis sendiri. Nilai PTK itu hanya 4 dan 0, tidak ada nilai 1,2 dan 3. Terutama mengenai Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan jurnal. Antara PTK dengan jurnal tidak diperbolehkan menggunakan judul yang sama. Kalau terjadi demikian, maksudnya sudah masuk ke jurnal tetapi berlanjut ke pembuatan PTK , maka yang dinilai hanya salah satu yaitu jurnalnya kemudian PTK bisa dinilai untuk tahun berikutnya. Benarkah demikian ?.

Unsur yang ke 3 (tiga) adalah Karya Inovatif (KI) , ternyata anggapan penulis meleset jauh sekali. Penulis beranggapan bahwa KI itu sama dengan alat peraga. Berhubung penulis itu mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa , maka alat peraga yang akan dimintakan nilai berupa ; jinising gamelan; aksara Jawa, sandhangan, lan pasangan; jinising Jarik. Penulis mengambil foto-foto kemudian diprint dan dipotong-potong ditempel sesuai dengan kebutuhan. Itupun dibantu oleh sesama Guru Bahasa Jawa senior. Pekerjaan ini dilakukan serasa melakukan pekerjaan dengan benar (pedenya terlalu besar).

Sekedar mengingatkan saja, bahwa usul Penetapan Angka Kredit Guru :
1. DUPAK usulan berdasarkan Permen PAN dan RB Nomor 16/2009 (masa penilaian minimal 4 semester sejak masa penilaian PAK terakhir).

2. Memiliki nilai PKB yang dipersyaratkan dan diperoleh dalam masa penilaian pengajuan. Persyaratan dari sub unsur PKB untuk masing-masing pangkat/golongan adalah sebagai berikut :
a. Guru golongan III/a ke golongan III/b , subunsur pengembangan diri sebesar 3 (tiga) angka kredit.
b. Guru golongan III/b ke golongan III/c, subunsur pengembangan diri sebesar 3 (tiga) angka kredit, dan sub unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif sebesar 4 (empat) angka kredit.
c. Guru golongan III/c ke golongan III/d, subunsur pengembangan diri sebesar 3 (tiga) angka kredit, dan subunsur publikasi ilmiah dan /atau karya inovatif sebesar 6 (enam) angka kredit.
d. Guru golongan III/d ke golongan IV/a , subunsur pengembangan diri sebesar 4 (empat) angka kredit, dan subunsur publikasi ilmiah dan /atau karya inovatif sebesar 8 (delapan) angka kredit. Bagi guru golongan tersebut sekurang-kurangnya mempunyai 1 (satu) laporan hasil penelitian dari subunsur publikasi ilmiah.
e. Guru golongan IV/a ke golongan IV/b, subunsur pengembangan diri sebesar 4 (empat) angka kredit, dan subunsur publikasi ilmiah dan /atau karya inovatif sebesar 12 (dua belas) angka kredit. Bagi guru golongan tersebut sekurang-kurangnya mempunyai1 (satu) laporan hasil penelitian dan 1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber –ISSN.

3. Angka Kredit Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) sebagaimana dimaksud pada butir 2 a, b, c, d, dan yang diakui diperoleh dalam masa penilaian sebagaimana tercantum pada poin 1 (satu). Khusus guru yang telah memperoleh nilai PKB pada penilaian Periode 2013 – 2015 tetapi belum mencukupi syarat untuk naik pangkat maka nilai PKB yang telah diperoleh dari Tim PKB dapat diperhitungkan untuk usul DUPAK berikutnya.

Semoga tulisanku ini bisa menjadikan tambahan pengetahuan bagi bapak ibu guru yang belum melakukan Penilaian Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ( PKB ). Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini banyak bapak ibu guru yang berlomba-lomba mengibarkan bendera keilmuan dengan mengajukan penilaian PKB untuk kenaikan pangkat. Dan semoga tidak ada guru yang pangkatnya berhenti dengan waktu lama, karena terkendala dengan syarat-syarat yang diperlukan.

Mohon maaf kalau masih ada kesalahan ataupun kekurangan dalam penulisan ini. Semua ini pengalaman yang diperoleh dari penulis sendiri. Semoga bisa menambah manfaat bagi guru yang akan melakukan penilaian pada tahun yang akan datang.
Setelah mendapatkan penjelasan tugas guru salah satunya adalah seperti tersebut di atas masih adakah yang menganggap bahwa guru bekerjanya enak ? gajinya besar ? masih dapat sertifikasi lagi ? Masihkah ada yang mengganggap bahwa guru kurang profesional ? Guru yang bagaimanakah ???.

Ditulis: Dra. Sri Suprapti, Guru SMP Negeri 8 Surakarta, No.Hp. 081329405977



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress