Era Digital Disruption di Perguruan Tinggi ?

Jonathan Rante Carreon, dosen Huachiew Chalermprakiet University, Thailand saat seminar di kampus Univet Bantara Sukoharjo

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Dunia pendidikan tinggi Indonesia sedang memasuki fase keterkejutan digital atau era digital disruption. Mahasiswa yang lahir di era ini, memiliki budaya yang sangat berbeda dengan generasi yang lebih lama.

Di zaman ini, hanya bermodal gadget mereka lebih memiliki akses terhadap informasi, jaringan yang mendunia, dan mampu lebih update dari dosennya. Tidak ada sekat penghalang yang membatasi.

Seperti diungkapkan Jonathan Rante Carreon, dosen Huachiew Chalermprakiet University, Thailand saat hadir sebagai pembicara dalam seminar yang bertema The Important Of English Competence To Face The 4th Industrial Revolution di kampus Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo. Kamis, (15/2/2018).

“Sekarang, orang hanya duduk sambil memegang gadget sudah bisa melakukan banyak hal. Mulai belanja hingga menjalankan bisnis secara online. Dunia pendidikan harus memanfaatkan teknologi juga agar tidak tertinggal.” ujarnya dalam bahasa inggris dalam seminar yang dihadiri 100 dosen dan mahasiswa Univet.

Maka tak mengherankan jika ada orang bisa meraih gelar dari Perguruan Tinggi luar negeri tanpa harus bersusah payah hadir di perkuliahan bertemu dosen pengajarnya.

“Agar tak ditinggalkan mahasiswa. Dalam menghadapi era digital disruption, kampus harus kreatif dan membiasakan berdialog menggunakan bahasa sosial media untuk menguasai era digital,” katanya.

Kunci menghadapi tantangan era digital disruption ini selain mengikuti perkembangan teknologi, kampus juga harus bisa menawarkan apa yang tidak bisa ditawarkan oleh pembelajaran – pembelajaran dengan sistem online tersebut.

Sebelumnya, Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Ali Mursyid menyampaikan, untuk menghadapi era digital disruption, pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah. Salah satunya mendorong kepada dosen – dosen muda menempuh pendidikan S3 melalui program Univet mencari Doktor.

“Sedang untuk penguasaan IT, kami tidak terlalu khawatir karena di sini banyak dosen muda yang sudah familiar dengan teknologi semacam itu,” tandasnya. (jia)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *