Modal Bismillah Jadi Berkah

Darmini Budi Rahayu generasi penerus Bu Mari Gudeg

JATENGONLINE – Nama Bu Mari Gudeg, tak asing lagi di kota Solo, kuliner yang sudah 46 tahun ini menjadi pelanggan setia orang ternama di Solo seperti para pengusaha, termasuk pemilik batik ternama di kota Bengawan ini. Selain juga menjadi langganan para pejabat.

Sederat nama yang tak asing ditelinga kita seperti Amien Rais, Hatta Rajasa, Harmoko, pernah singgah di gerainya. Singgah mereka bukan tanpa alasan, karena pingin merasakan sensasi dan mencicipi menu masakannya khas kota Solo yakni gudeg.

Dua Generasi

Spesialis menu khas Gudeg ini awalnya dirintis oleh Ibu Sukini yang kini sudah almarhum, kemudian usaha ini dilanjutkan dan diteruskan oleh beberapa anaknya, salah satunya Yayuk, panggilan akrab ibu dua anak ini, yang memiliki nama lengkap Darmini Budi Rahayu.
“Niat saya meneruskan usaha ini selain karena sejak kecil saya hobi masak, juga panggilan jiwa, agar nama orang tua dan usaha orang tua tetap dikenang,” jelasnya kepada JO di temui di Kartasura. Kamis (15/2/2018).

Keinginan untuk mengembangkan usaha gudeg ini ada, cerita Yayuk, karena ingin mengharumkan nama orang tua, dimana menu makanan khas berupa gudeg sambal goreng, ceker, opor ini telah menjadi kesukaan para pelanggan.

Karena pelanggan yang datang ke gerainya tidak hanya datang dari pulau Jawa saja namun juga di luar Jawa. Selain Jakarta, Surabaya, banyak pelanggannya datang dari Sumatera. Mereka singgah mampir di warungnya di Ngadirejo, Gembongan Kartasura.

Brand Gudeg Mari 2 (Mbak Yayuk) menjadi label yang saat ini dikembangkannya ”Saya akan berjuang keras untuk meneruskan usaha dari warisan orang tua ini,” tekadnya.

Sedangkan kiat yang dilakukannya agar pelanggan tidak kelain hati, sekaligus juga untuk menjaga kwalitasnya, selain mempertahankan taste dalam kekhasan citarasa gudegnya, komposisi bumbu tetap dijaganya, selain meningkatkan pelayanan terbaik bagi pelanggan.

Maka,tak heran apabila Gudeg Bu Mari 2 (Mbak Yayuk) ini banyak pelanggan yang datang. Bahkan terus meningkat, dalam kurun waktu tidak sampai satu minggu sebanyak 10 kg nangka, sebagai bahan gudeg, ludes terjual.

“Untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan, saya tidak peduli harga bumbu sedang naik sekalipun, tetap memprioritaskan rasa untuk pelanggan setia,” jelasnya.

Ketika disinggung modal yang digunakan untuk mengembangkan usahanya, Yayuk menjawab tersipu malu, sejatinya tidak banyak yang di butuhkan, modalnya hanya cukup bismillah aja semoga barokah, katanya.

Ibu bersahaja dengan dua putra ini selalu merendah dengan apa yang diraihnya saat ini, termasuk pelanggan yang tiap hari datang ke gerainya, ketika ditanya berapa orang tiap hari yang makan di gerainya, dijawabnya dengan merendah, pelanggannya kini dalam sehari bisa 30-50 orang.

Semasa dulu, Yayuk kecil setiap hari selalu diajak ibunya untuk belanja ke pasar, kemudian menyaksikan ibunya meracik bumbu dan memasak di dapur, membuatnya semakin tertarik dengan dunia masak memasak, kemudian kini menjadi hobinya yang memberi pemasukan tersendiri.

Yayuk merupakan anak ke 7 dari 9 bersaudara, mengaku masih terngiang hingga saat ini, dikala remajanya, orang tuanya selalu menanamkan kedisiplinan dan kejujuran dalam mengarungi kehidupan dan menjalankan usaha. Diakui Yayuk, kedua orang tuanya adalah orang pekerja keras, yang mendidik dan memberi pembelajaran tentang perilaku disiplin dan jujur menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Keuletan yang dilakukannya pun mampu membuatnya seperti sekarang.

Usaha yang dirintisnya di awali dengan mengontrak sebuah kios di Singosaren Solo. Halangan dan rintangan pun silih berganti menerpa usahanya, disiplin dan tekun bekerja mampu menghalaunya.

“Kalau mengingat perjuangan orang tua saya sangat bangga dan salut, makanya saya ingin meneruskan usaha orang tua agar nama ibu Mari Gudeg lebih terkenal dan bisa dikenang masyarakat,” kata wanita kelahiran 6 September 1976 ini, mengakhiri perbincangan. (uci)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.