Bagaimana Potensi Investasi di Tahun Politik ?

JATENGONLINE,  SUKOHARJO – Mulai dari tahun 2018, kampanye politik mulai digelar. Pasalnya, sedikitnya 17 provinsi, 39 kota juga 115 kabupaten akan melakukan kegiatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara bersamaan pada 27 Juni 2018 mendatang. Ditambah, 2019 mendatang akan digelar Pemilihan Presiden yang mulai berkampanye sejak Oktober 2018, belum lagi Pemilihan Legislatif.

Namun, apakah tahun politik ini berdampak besar pada ekonomi secara signifikan, khususnya di bidang investasi?

Menurut, Ir. Susanto Ketua Asosiasi Broker Properti Indonesia (Arebi) Jawa Tengah mengatakan, pengusaha sebetulnya tidak perlu takut berinvestasi jelang menjamurnya pesta demokrasi di tahun 2018 dan 2019.

“Perusahaan tidak menunda investasi, atas kekhawatiran akan tahun politik, baik usaha skala menengah maupun besar.” katanya pada Kuliah Umum dan Interdisciplinary Sharing bertema “Potensi Investasi Di Tahun Politik” di Syariah Hotel Solo. Sabtu (6/3/2018)

Tahun politik, imbuh Susanto yang juga Prinsipal IREA Property ini, tidak berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, baik berupa bisnis maupun investasi utamanya di sektor properti.

Menurutnya investasi di properti adalah aset tidak lancar yang dikuasai perusahaan untuk menghasilkan rental (Yield) atau untuk kenaikan nilai (Capital Gain) atau keduanya, tetapi tidak untuk digunakan dalam kegiatan usaha sehari-hari.

Investasi properti dengan jenis-jenisnya meliputi Tanah, Rumah, Gudang, Pabrik Hotel, Mall, Apartemen, Perkantoran, Stadion atau GOR serta Kos-kosan

“Fokus tetap berinvestasi, karena sudah terbukti tahun politik atau kegiatan politik tidak berdampak negatif terhadap pertumbuhan bisnis, seperti pelaksanaan pilkada serentak di tahun sebelumnya,” kata Susanto.

Adapun syarat yang harus dipenuhi agar suatu properti dikatakan memiliki nilai yaitu memiliki daya guna, ketersediaan terbatas dan kepemilikannya dapat dipindahkan. Tujuannya untuk menentukan nilai pasar dan nilai likuiditas.

“Menetukan nilai jual dapat dilakukan melalui Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach), Pendekatan Biaya (Cost Approach) dan Pendekatan Pendapatan (Income Approach),” lanjut Susanto.

Sedangkan untuk menentukan nilai properti berdasarkan Nilai (Value) adalah hasil guna suatu properti yang dinyatakan dalam suatu mata uang yang diperoleh melalui proses penilaian pada tanggal tertentu. HARGA (Price) adalah sejumlah uang yang disepakati oleh penjual dan pembeli di pasar. BIAYA (Cost) adalah jumlah uang yang dikeluarkan dalam melakukan pengadaan atau pembangunan suatu properti

Jelang tahun politik, Susanto optimis melihat pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah dan DIY akan berada di atas 6%. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) turut menjadi pihak yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Harapannya indeks yang meningkat di pertumbuhan lapangan kerja, juga akan diikuti dengan pengurangan kemiskinan dan pengurangan pengangguran,” pungkasnya.

Kuliah Umum Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UMS) dihadiri oleh seratusan peserta baik dari kampus setempat juga dari umum, menghadirkan keynote speaker selain Ir Susanto, M. Wira Adibrata Kepala Kantor BEI Perwakilan Solo dan Branch Manager Area DIY Jateng PAC Securitas Hery Gunawan Muhammad. (ian)

https://web.facebook.com/irsusantoliem/videos/10211366785746373/?t=6

Dijual Rumah di Colomadu, akses mudah ke Bandara Adisumarmo, Terminal Kartasura, Superindo, Pusat Kuliner, Rumah Sakit.  Hubungi agen properti iREA untuk informasi lebih detail dan untuk lihat lokasi.
www.irea.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!