Benang Merah Tour Kebangsaan Omah Ijo

Tour Kebangsaan : Saat berfoto bersama di Vihara Dhamma Sundara

JATENGONLINE – Hari yang selalu saya nantikan dalam hidup ini terjadi pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018. Saya sangat ingin sekali dekat dengan agama lain, mengetahui ajaran mereka dan bagaimana cara peribadatanya.

Tour Kebangsaan adalah jawaban dari keinginan saya selama ini. Melihat lebih dekat, mempelajari dan memahami agama lain sangat menyenangkan dan mendatangkan banyak pengetahuan baru bagi saya.

Dengan mengunjungi Masjid Agung Keraton Surakarta, Gereja Kristus Raja Grogol Sukoharjo, Vihara Dhamma Sundara Surakarta, Pure Sonosewu Mojolaban Sukoharjo dan Klenteng Tien Kok Sudiroprajan Surakarta.

Masuk ke tempat ibadah agama lain yang selama ini saya anggap tabu dan bertanya apa saja yang selama ini terngiang di kepala saya telah tesalur dengan apik dalam ‘Tour Kebangsaan’ ini.

Saya belajar keseriusan dalam memeluk agama dari agama Khatolik. Sang Romo di Gereja Khatolik Kristus Raja berkata, “Tidak semua orang bisa masuk dalam agama Khatolik. Perlu keseriusan dan proses belajar yang mendalam agar bisa menjadi umat Yesus.”

Saya yakin tidak hanya di agama Khatolik saja, tetapi disemua agama juga mengajarkan demikian-perlunya keseriusan dalam beribadat kepada Tuhan dan menjalankan aturan agama.

Gereja Bethany
Pelajaran berharga selanjutnya datang dari Gereja Bethany Indonesia, yaitu nilai saling berbagi. Tuhan telah memberikan segalanya kepada manusia, tidak pernah sekalipun perhitungan. Dia lah sang Maha Pemberi dan Maha Kaya. Mengadakan pasar murah dan bakti sosial adalah bukti cinta kasih para umat Kristiani kepada masyarakat sekitar, tanpa memandang perbedaan agama yang dianut mereka.

Vihara Dhamma Sundara
Dan, Sang budhha mengajarkan pentingnya untuk selalu berpikir positif, belas kasih, rasa simpati dan keseimbangan batin. Damai adalah kesan saya ketika memasuki Vihara Dhamma Sundara. Suasananya, cara sang pandita menyampaikan, dan penjelasan yang disampaikan beliau sangat menyentuh dan realistis. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan pada umatnya. Karena semua agama baik, tetapi terkadang tercoreng oleh umatnya yang tidak mau taat pada aturan Sang Khaliq.

Klenteng Tien Kok Sie
Selanjutnya adalah Klenteng Pasar Gede. Selama ini saya selalu bertanya-tanya:

“Mengapa orang keturunan Tionghoa bisa sukses dalam hidup, memiliki harta yang banyak, dan penguasa ekonomi di Indonesia ? “Apakah mereka ditakdirkan dari lahir sebagai orang yang kaya? Sedangkan umat lain ditakdirkan untuk miskin?”

Setelah saya membaca dan mendapat penjelasan lansung dari sang pendeta Konghucu saya jadi paham, bahwa kebanyakan mereka sukses ya karena usaha yang mereka lakukan. Pak Chandra mengatakan bahwa kesuksesan atau keberuntungan 30% berasal dari Tuhan dan Doa kita, sedangkan yang 70% sisanya adalah hasil dari kerja keras dan usaha yang kita lakukan.

Itulah yang membuat mereka selalu berusaha, pantang menyerah dan amatlah tekun. Hal lain yang patut kita teladani dari umat Kong Hu Chu adalah rasa hormat dan taat kepada orang tua mereka yang sangat besar. Dan itu memang jurus ampuh ketika kita sedang dilanda masalah, merasa ingin menyerah dan seolah hidup tak ada harapan lagi; kembali mengingat orang tua kita, melihat bagaimana kerja keras mereka agar selalu bisa membuat anak-anak tersenyum adalah obatnya, tidak ada yang lain.

Orang tua kita selalu mengharapkan kesuksesan kita, jadi apakah kita tega membuat mereka kecewa karena kita pada akhirnya menyerah??? Coba pikir lagi. Dan umat Kong Hu Chu sangat memgang teguh itu.

Masjid Agung Surakarta
Di masjid agung suasana bersejarah sangat menyelimuti hati saya. Sebuah saksi bisu perjuangan bangsa berasal dari sana. Percaya atau tidak, pada zaman dahulu masjid dijadikan sebagai tempat menimba ilmu, berdiskusi, dan basis perjuangan untuk menentang para penjajah, tidak hanya sebagai tempat ibadah, cagar budaya, dan destinasi wisata seperti sekarang.

Itulah yang harus kita kembalikan, mengapa berdiskusi tentang politik, sekarang dianggap tabu oleh sebagian orang? Maka dari itu, perlulah kita mempelajari agama Islam dengan lebih baik lagi. Islam tidak hanya mengatur bagaimana cara berhubungan dengan Allah tapi lebih dari itu yaitu _way of life_ pelajari, pahami dan praktikan.

Tuhan telah berbaik hati menciptakan agama agar bisa membimbing hambanya sesuai apa yang dikehendaki. Sudah bukan saatnya lagi bagi setiap warga negara (Indonesia) yang umurnya sudah 72 tahun untuk tidak saling mengkafirkan, menyalahkan dan menghakimi. Karena sesungguhnya yang berhak menilai seseorang kafir atau tidak itu murni hak prerogatif Tuhan, lalu kenapa kita mencampuri hak Tuhan?

Hidup rukun dan tolerir, damai dalam bernegara nyatanya di ajarkan oleh semua agama. Maka dari itu beragamalah dalam menjalankan kehidupan bernegara ini. Saling dukung saling doa demi kesejahteraan NKRI sesuai dengan apa yang menjadi kepercayaan masing-masing adalah sebuah kewajiban bagi setiap warga negara.

“Sekali lagi saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua panitia dan pendukung acara Tour Kebangsaan ini, sangat bermanfaat dan semoga bisa rutin dilaksanakan kedepannya,” ujar Indah Kurnia Sari, salah satu peserta Tour Kebangsaan.

Tempat-tempat peribadahan di Indonesia ini menampakkan kebebasan orang tanpa unsur paksaan. Apapun tempat ibadah itu semua indah KECUALI isinya. Ada tempat ibadah yang luarnya candi isinya meditasi, ada tempat ibadah yang luarnya dan isinya renungan. “Saya katakan jelek untuk tempat ibadah yang isinya pengkafiran-pengkafiran,”.

Saya merasakan sendiri gereja itu nyaman bagi saya di dalamnya, tidak seperti terlihat dari luarnya, yang saya bahkan ragu untuk masuk, ternyata di dalamnya termasuk pendetanya yang begitu wellcomenya. Saya menyaksikan sendiri banyak senyuman ceria di dalam vihara bahkan dari orang-orang yang berkerudung, menyatakan mereka merasakan kenyamanan. “Tapi saya menyaksikan raut wajah orang murka itu hanya di tempat-tempat yang isinya pengkafiran di sana sini.”

Simplenya bagi saya “apapun tempat ibadah itu positif karena semua keyakinan melantunkan kebaikan, dan hanya akan merusak suasana yang ada jikalau keburukan disebar didalamnya (itu tergantung orang di dalamnya).

Hanya tuhan yang nyata yang mengetahui mana kebenaran serta kesalahan, kita hanya punya akal sebagai sangu (bekal) dari sang pencipta untuk mengetahui mana kebaikan serta mana keburukan. ‘lakukan yang terbaik dengan cara masing-masing harapkan kebenaran di dalamnya.

“Karena yang tahu benar hanya Tuhan dan kebenaran TIDAK MUNGKIN berada dalam keburukan. ” – Seperti dituliskan Indah Kurnia Sari, Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNS.

Tour Kebangsaan : Peserta sangat akrab di dalam bus yang membawa mereka ke tujuan yakni tempat ibadah lima agama. Sabtu (24/3/2018)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress