BRM. Kusuma Putra: Sriwedari Sebagai Sentral Budaya Solo

JATENGONLINE, SOLO – Kembalinya Sriwedari ke pangkuan Pemkot Solo dan untuk ruang public bagi masyarakat kota Solo di sambut gembira oleh warganya. Sebagai ungkapan rasa syukur warga bersama para seniman dan budayawan menggelar tradisi umbul donga di pendhapa Joglo Sriwedari belum lama ini.

Seperti diketahui, bahwa sengketa tanah Sriwedari antara pihak ahli waris dengan Pemkot Solo berlangsung alot dan cukup lama. Dimana, ahli waris mengklaim telah memenangkan gugatan, namun pihak Pemkot juga memiliki bukti pengelolaan lahan Sriwedari dengan di milikinya sertifikat HP 40 – 41 yang lahan tersebut akan di manfaatkan sebesar besarnya untuk kepentingan warga Solo dan bangsa Indonesia secara umum.

“Bukti kepemilikan sertifikat hak pengelolaan adalah bukti fisik sah secara hukum dan dapat di pertanggung jawabkan,’ terang BRM. Kusuma Putra, selaku Pembina Forum Komunikasi Masyarakat Sriwedari.

Dengan adanya bukti pengelolan sah secara hukum, imbuhnya, pelaporan ahli waris ke kepolisian adanya dugaan pengrusakan dalam pembangunan taman Sriwedari, telah salah kaprah.

“Sampai dengan saat ini belum ada putusan pengadilan yang membatalkan SHP 40 -41. Maka, Pemkot Surakarta lah berdiri sebagai pihak yang sah menguasai lahan Sriwedari,” tegasnya.

Menurut, pria kolektor lukisan Nyi Roro Kidul ini, pelaporan terhadap walikota Solo adalah tidak benar atau abcuure libel, dan pelapor tidak mempunyai hak sebagai pelapor karena tidak mempunyai legal standing terhadap permasalahan tersebut.

“Dan sudah sepantasnya apabila pihak yang berwenang tidak memproses perkara tersebut,” ketusnya.

Sebagai ikon seni dan budaya kota Solo, Sriwedari kata Kusuma, dengan adanya masjid taman Sriwedari maka lengkaplah sudah Solo sebagai kota budaya dan religi. Keberadaan masjid taman Sriwedari juga mampu meneguhkan history taman Sriwedari di masa kejayaan Mataram Islam era PB X.

Sriwedari sebagai ruang publik di harapkan tidak hanya menjadi ruang kreasi membangun seni dan budaya, tetapi juga mampu menjadi pelumas roda ekonomi masyarakat, khususnya bagi warga Sriwedari.

Sedangkan adanya perluasan ruang terbuka hijau dalam merevitalisasi taman Sriwedari adalah upaya menjaga ekosistem taman Sriwedari yang tetap berpegang teguh pada nilai budaya kearifan lokal.

“Budaya yang seharusnya menjadi dasar pembangunan kota Solo di masa depan. Sehingga di masa yang akan datang, para generasi muda masih mengenal nilai nilai luhur warisan budaya dari keberadaan Taman Sriwedari,” kata Kusuma.

Dan, keberadaan museum radya pustaka, museum keris, stadion sejarah R.Maladi, kios buku Sriwedari (Busri), pasar lukisan, Jemparingan dan paguyuban seni tradisi lainya semakin meneguhkan Sriwedari sebagai central budaya di Kota Surakarta. (ian)

Satu tanggapan untuk “BRM. Kusuma Putra: Sriwedari Sebagai Sentral Budaya Solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *