Catatan Akhir Tahun: Mau Dibawa Kemana BPR ???

“Hari ini kita ada dipenghujung akhir tahun 2018. Semoga Rencana Bisnis BPR (RBB) 2018, dapat kita raih,” kata Direktur Amalia Consulting,
Komisaris BPR Gajah Mungkur dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Drs. Suharno, MM, MIPR, CPC, CA, Akuntan.

Tahun 2019 penuh tantangan. Dari masalah internal diantaranya pemenuhan modal inti, pelaksanaan GCG, manajemen resiko, pelaporan pelaksanaan RBB, sampai pemenuhan struktur dan fungsi pejabat eksekutif lainnya.

Sedangkan dari permasalahan eksternal, persaingan lembaga keuangan kian ketat dan berdarah-darah. Khususnya persaingan suku bunga kredit dengan Bank Umum yang menggulirkan kredit super murah, seperti KUR. Sehingga take over pun tidak terhindarkan. Bank Umum mencaplok segmen pasar BPR.

Dampaknya bunga tabungan dan deposito cenderung naik, namun suku bunga kredit condong turun. “Perang” terbuka yang tidak seimbang menjadi tak terhindarkan. BPR yang tidak siap, berdarah-darah. BPR harus pandai menyusun strategi bisnis agar RBB 2019 dapat diraih.

“Dari pengamatan kami di lapangan. Permasalahan yang banyak dihadapi BPR, yang harus menjadi fokus utama, yaitu pada aspek pengembangan soft skills. Utamanya masalah ketrampilan manajerial dan leadership,” imbuhnya.

Leadership dan manajerial, belum berjalan optimal, masih cenderung sentralistik. Akibatnya semua keputusan masih memusat di tangan bapak ibu. Dari hal-hal sepele, sampai yang strategis, terangnya.

Pendelegasian tugas belum sepenuhnya jalan. Regenerasi kepemimpinan pun menjadi terhambat. Terpaksa harus mengambil jago dari luar saat pemenuhan struktur jabatan.

Menghadapi kondisi dan situasi tersebut BPR harus mengambil langkah melakukan transformasi perubahan. Bila tidak akan terjadi seleksi alam. BPR yang tidak segera berubah akan tergusur dan tergeser dalam kancah persaingan yang sangat kompetitif di era digital seperti saat ini.

Apalagi secara alami juga telah terjadi pergeseran generasi. Generasi X mulai memasuki masa pensiun. Generasi Y atau melenial mulai menggantikan posisi generasi Y. Kedua generasi ini berbeda dalam kultur kerja dan perilaku. Dalam situasi tersebut pola kepemimpinan dan manajerial juga harus berubah.

“Merubah pola pikir dan budaya kerja karyawan tidak mudah. Salah satu model yang cocok adalah melaksanakan prinsip-prinsip COACHING,” tegas Suharno.

Coaching adalah sebuah model pola kepemimpinan dengan prinsip kesetaraan antara pimpinan dan karyawan. Tidak menggurui dan mendikte. Potensi karyawan dioptimalkan dengan mengajukan pertanyaan yang menantang dan powerful.

Pimpinan harus lebih banyak mendengarkan, agar bisa menggali dan memberdayakan potensi karyawan.

Pola ini sudah diterapkan dibanyak perusahaan Amerika, Eropa dan Jepang sepuluh tahun lalu. “Kami prediksikan 2019 bidang coaching akan booming di Indonesia,” yakinnya.

Dari hasil survey, penerapan coaching bisa meningkatkan kinerja dan produktivitas SDM empat kali lipat, bila dilaksanakan dengan konsisten dan berkesinambungan.

“Kami selaku akademisi dan praktisi BPR berharap kepada pimpinan BPR untuk tanggap terhadap perubahan dan cepat mengantisipasinya. Kunci utama bisa bertahan dan berkembang terletak pada SDM yang kompeten dan profesional. Selamat memasuki 2019. Sukses untuk kita semua,” pungkasnya. (arn)

Drs. Suharno, MM, MIPR, CPC, CA, Akuntan. WA 0813 295 117 45

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *