Menjual Produk Tabungan Saat Donor Darah Mungkinkah ???

(Membongkar Rahasia Coaching)

Melakukan penjualan, tidak sekedar produk kita terjual dalam waktu singkat dan kita dapat untung besar. Bila itu yang kita kehendaki, bisa dipastikan konsumen tidak akan melakukan pembelian ulang (repeat order).

Maka kita harus berhati-hati, bila ada penawaran seminar yang bombastis. Menjanjikan kiat dan trik penjualan yang bisa melipatgandakan omzet penjualan dan keuntungan dalam waktu singkat. Pasti itu hanya bersifat instant.

Kita berjualan produk tentunya berharap bisa berkesinambungan, untuk jangka panjang. Tidak hit and run, seperti tukang obat di pasar yang mampu “menghipnotis” pengunjung dengan permainan sulap. Menjanjikan obat yang dijual bisa untuk segala penyakit.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menjual produk dengan efektif dan efisien ? Tidak bisa tidak, kita harus memiliki ketrampilan mendengar dan mengajukan pertanyaan dengan baik.

Penjual yang baik, tidak banyak berbicara. Bila kita banyak bicara konsumen tidak respek terhadap kita dan produk yang kita dijual. Maka perhatikan penjual obat di pasar banyak berbicara namun materi pembicaraan dialihkan bukan tentang obat yang dia jual. Namun dialihkan ke hal-hal yang seolah-olah dia memiliki ilmu kesaktian yang tinggi dan bisa menerawang hal-hal yang ghoib.

Setiap kata yang dikeluarkan bertujuan untuk mensugesti konsumen agar membeli obat yang dia jual, maka dalam waktu sekejap obatnya laku keras. Ludes terbeli oleh penonton bukan ?

Namun apakah, hari berikutnya dia jual lagi ditempat itu. Pasti tidak. Dia berpindah tempat untuk mencari mangsa yang baru.

Bila kita ingin menjadi penjual yang handal dan profesional, lakukan hal-hal yang wajar. Pahami dengan baik siapa calon konsumen kita. Pahami apa kebutuhannya. Apa harapannya.

Untuk bisa melakukan hal di atas. Kita harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan komunikasi, khususnya ketrampilan mendengarkan dan mengajukan pertanyaan kunci.

Agar kita bisa menguasai hal tersebut apa yang harus dilakukan ???

Jawabnya simpel. Pelajari pengetahuan dan ketrampilan COACHING. Prinsip-prinsip dan sesi coaching sangat membantu kita meraih apapun tujuan kita. Termasuk dalam penjualan.

Mempelajari coaching tidak bisa hanya dari membaca buku atau belajar lewat internet dan melalui youtube, serta media sosial. Namun belajar coaching akan efektif bila dilakukan lewat proses pembelajaran dan simulasi secara langsung, serta berkesinambungan.

Saya telah membuktikan keefektifan coaching saat menjalankan profesi saya selaku dosen, trainer dan saat melakukan prospek pada calon konsumen.

Salah satu contoh. Belum lama ini saya ikut donor darah di kantor PMI disebuah kota. Disaat proses pengambilan darah yang waktunya tidak lebih dari sepuluh menit saya mampu melakukan penjualan pada petugas PMI yang mengambil darah saya. Padahal saya belum kenal sebelumnya dengan petugas tersebut. Baru pertama kali bertemu.

Namun sebelum proses pengambilan darah selesai, petugas PMI tersebut, dengan sukarela menyatakan membuka dua rekening tabungan untuk putra-putrinya.

Apakah saya hipnotis petugas PMI tersebut ???

Tentunya tidak. Saya hanya menerapkan prinsip-prinsip coaching. Saya lebih banyak bertanya, mendengarkan dan berempati. Apakah Anda juga ingin mencoba ???

Solo, 7 Januari 2019

Suharno
Certified Profesional Coach
Direktur Amalia Consulting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *