Bisnis Hotel ‘Zaman Now’ Peluang Atau Tantangan?

“Hotel harus bisa menciptakan sesuatu yang sulit untuk ditiru, unik,
tidak bisa tergantikan, dan bernilai.” – Dicky Sumarsono

JATENGONLINE, SOLO – Improvisasi tidak bisa muncul secara tiba-tiba dan mendadak. Namun, butuh proses, perlu perjuangan secara konsisten. Semantara bisnis perhotelan di era leisure ekonomi, mendorong munculnya disruptive leader, datangnya generasi milenial sejalan kemajuan teknologi berubah demikian cepat, membuat penggiat bisnis perhotelan dituntut untuk merespon dengan sigap dan cepat mengikuti arus perubahan. Agar bisnis hotel tak makin terpuruk karena tidak mengikuti perubahan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Azana Hotels and Resort, operator hotel yang kian eksis dengan pertumbuhan hotel yang dikelola dan dimilikinya, tanggap akan perubahan dan perkembangan landscape bisnis perhotelan di Tanah Air.

“Seluruh top leaders dan sales marketing team dari 30 hotel yang dikelola saat ini, untuk membuat program leisure experience dengan selalu membuat senang dan menciptakan WOW experience untuk semua customer-nya,” ujar Dicky Sumarsono, CEO Azana Hotels and Resorts.

Menurut Dicky, bahwa bisnis hotel saat ini harus kita perlakukan sebagai bisnis leisure dengan menyuntikkan elemen experience ke value proposition yang ditawarkan kepada konsumen.

Sebab ketika berada di model peradaban dunia lama, masih bisa melihat lawan dengn jelas, supply demand-nya tunggal, banyaknya bisnis dengan cara owning economy serta pola kerja dan bisnis yang masih linier.

Frontone Hotel Jayapura, salah satu hotel yang dioperasikan Azana Hotels & Resorts memiliki ke unikan tersendiri

“Di bisnis hotel era kini, lawan-lawan semakin tidak terlihat, supply and demand melalui jejaring, pola bisnis tidak perlu lagi menggunakan owning economy tapi cukup dengan sharing economy, dan polanya lebih real time serta exponential,” jelasnya.

Di industri perhotelan “zaman now” banyak peluang yang bisa diambil dari perusahaan lain atau dari ide bisnis yang telah berjalan dari perusahaan lain, yang mungkin belum optimal dan masih bisa dikembangkan hanya dengan menurunkan biaya, memperbaiki kinerja, merubah strategi, dan melakukan perubahan-perubahan kecil.

“Konsumen baru semakin empowered dengan digitalisasi. Maka dari itu marketing pun harus bergerak dari enjoyment, experience, engagement, kemudian empowerment,” kata Dicky.

Konsumen pun sudah saatnya diberikan panggung, imbuh Dicky, karena mereka menginginkan momen-momen berkesan di setiap pengalamannya menginap di hotel yang akhirnya akan tercipta sebuah storytelling yang kuat yang memungkinkan pesan-pesan mereka menjadi viral dari satu customer ke customer lain.

Semakin cepat hotel bergerak, semakin mudah untuk mengubah tantangan bisnis menjadi kesempatan berbisnis yang baru. Hanya yang bergerak lambat akan melihat digitalisasi sebagai sebuah ancaman.

“Era kini sudah tidak lagi relevan jika bisnis hotel masih menggunakan segmentasi dalam memilah-milah pasar,” katanya. Semua sudah harus melihat niche market karena pasar hotel menjadi lebih spesifik. Sebagai pengusaha hotel harus melihat ke beberapa bagian kecil yang ada di setiap market tersebut.

Diperlukan model bisnis unik yang cocok di setiap bentuk strategi usaha. Khususnya hotel dan cara yang paling dasar dalam mengembangkan model bisnis diantaranya dengan mengidentifikasi suatu nilai produk yang masih belum terpenuhi sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Di era leisure dan digital seperti saat ini, semua hotel wajib mengubah pola kerja dan model operasi. Fundamentalnya yang bisa mendorong marjin untuk menghasilkan keuntungan yang signifikan.

Sementara itu, sejumlah idenya menginspirasi tentang bisnis model yang dapat diterapkan dalam industri perhotelan dengan cara dan strategi baru demi meraih profit optimal berkelanjutan dalam siklus high competitive.

Termasuk dua buku yang ditulis sebelumnya berjudul Dahsyatnya Bisnis Hotel di Indonesia dan Luar Biasa Bisnis Restoran di Indonesia, sangat menginspirasi dan sukses jadi referensi.

Dicky, demikian sapaan sosok entrepreneur muda namun kenyang pengalaman itu, segera mem-publish buku ketiga nya di bulan Februari ini, dengan judul besar “Winning Competition”. Starting point-nya pada business model sebagai cara dan strategi baru untuk menciptakan profit yang optimal dan berkelanjutan.

“Anda tak perlu kalah dulu untuk menjadi pemenang.” pungkasnya. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *