Butuh Pendampingan ‘Napiter’ Kembali ke Masyarakat

JATENGONLINE, SOLO – Dialog Publik bertema ‘Mereka Telah Kembali & Kita Rajut Lagi Persaudaraan Kebangsaan’ yang di selenggarakan oleh Jaringan Lintas Kultural (JLK), Selasa (19/2/2019), fokus pada kembalinya eks narapidana teroris (napiter) ke masyarakat.

Seperti diketahui para eks napiter berharap masyarakat bersedia menerimanya kembali, selepas dari penjara, bahkan tak sedikit dari mereka yang ingin fokus mengurus keluarga, termasuk anak dan istrinya yang selama ini ia tinggalkan.

Namun, seringkali eks napiter tidak bisa kembali dengan nyaman ditengah masyarakat. Dimana mereka harus berjuang keras memulihkan kepercayaan masyarakat, yang diakui oleh para eks napiter, hal itu tidak mudah meskipun menyatakan telah meninggalkan faham radikalisme.

Tiga pembicara yang dihadirkan sebagai nara sumber pada Dialog Publik yakni Dr. Amir Mahmud-Direktur Amir Institute, Ustadz Joko Suroso-mantan Napi Teroris dan Ahmad Hafidh Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta, menyampaikan pandangan sesuai dengan disiplin ilmu dan pengalaman masing-masing.

“Pemerintah harus memiliki strategi dan program yang seimbang tentang wawasan kebangsaan, baik bagi napiter dan juga pada masyarakat,” papar Dr Amir Mahmud, di hadapan ratusan peserta dialog.

Ditambahkan Direktur Amir Insitute, bahwa pemerintah harus menyiapkan pengkondisian saat eks napiter mau kembali ke tengah masyarakat, selain bekal ekonomi khususnya, juga pemahaman wawasan kebangsaan.

“Pemerintah untuk mengkondisikan masyarakatnya bisa menerima eks napiter,” jelasnya.

Deklarasi Kebangsaan disela acara Dialog Publik
‘Mereka Telah Kembali & Kita Rajut Lagi Persaudaraan Kebangsaan’ yang di selenggarakan oleh Jaringan Lintas Kultural (JLK), Selasa (19/2/2019)

Sementara itu, JLK hadir untuk menjembatani dan berusaha ikut memfasilitasi, sejumlah kendala yang dihadapi eks napiter saat ketika akan kembali ke tengah masyarakat.

“Memulihkan kepercayaan publik yang harus dilakukan, mereka juga kesulitan untuk mendapatkan tanda identitas diri, baik kartu keluarga maupun KTP,” ujar Sofwan Faisal Sifyan, Ketua JLK disela acara, yang di gelar di RM Nogiri Mbak Yun, Mangkubumen, Solo.

“Saat ini JLK tengah mendampingi 8 dari 30 eks napiter bebas bersyarat yang menetap di Solo Raya,” imbuh Faisal.

Pendampingan yang dilakukan Faisal, diawali dengan pembuatan identitas diri, kemudian pendampingan ekonomi, sebab sebagian besar eks napiter selepas masa tahanan tidak lagi memiliki pekerjaan tetap.

“Mereka sebagian besar pengusaha swasta mandiri, sebelum ditahan tapi setelah lepas tahanan nganggur, ini yang harus dibantu, jika tidak ada pekerjaan akan timbul masalah baru lagi,” jelasnya. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *