Adalah Mustahil Jika Sampai Saat Ini Ada Orang Mempermasalahkan Sertifikasi Guru

Barangkali terasa aneh juga jikalau saya ikut-ikut tetapi saya tidak main-main bahkan saya bersungguh-sungguh ingin mengutarakan sesuatu yang perlu dan harus saya sampaikan. Dalam hal ini masalah tunjangan sertifikasi guru yang masih ada saja orang yang menggunjingkannya. Sertifikat Pendidik merupakan bukti kelulusan sertifikasi guru dalam jabatan dan dinyatakan sebagai guru profesional bidang studi mata pelajaran masing-masing, diketahui dan disyahkan oleh Rektor atau Ketua Rayon.

Penulis sendiri merupakan salah satu hasil dari pada didikan guru, walaupun saya tidak terlalu pandai dalam dunia pendidikan setidaknya saya paham bagaimana beban yang dipikul oleh seorang guru.

Saya sebagai penulis membaca tulisan di media sosial yang intinya mengunjing guru yang mendapatkan tunjangan sertifikasi. Bukan berarti saya menganulir tulisan di media sosial, tatapi saya ikut miris / sedikit kecewa dengan tulisan itu.

Saya tidak akan membicarakan departemen-departemen yang lain. Penulis di sini setiap harinya bekerja sebagai guru, merasa sangat beruntung sekali karena bisa menjalankan tugas dengan baik walaupun belum maksimal maksudnya masih belum profesional seperti yang diharapkan banyak orang. Sekaligus sebagai orang tua siswa yang bersekolah di salah satu sekolah di kota Surakarta.

Guru dan sekolahpun juga ikut berlomba-lomba untuk menghadapi seluruh aspek kehidupan manusia dan memajukan sekolah masing-masing. Mohon maaf tulisan saya ini ngelantur ke mana-mana karena keterbatasan ilmu yang saya peroleh.

Mohon maaf juga kepada “orang-orang” yang masih banyak sekali menulis di media sosial yang ngrasani / menggunjing guru yang sudah menerima tunjangan sertifikasi. Saya sendiri tidak tahu maksud dan tujuannya apa sehingga sampai tega-teganya mengatakan guru hanya memikirkan tunjangan sertifikasi dibanding menjalankan tugas mendidik.

Apakah tidak ada pekerjaan lain selain mempermasalahkan tunjangan guru?

Guru harus menjalankan tugas setiap hari dan dibuktikan dengan menulis di buku agenda mengajar sebagai salah satu yang dilakukan oleh guru. Menurut informasi dan pengamatan saya terhadap dunia pendidikan yang aktual dan faktual, selama ini guru banyak tugas-tugas yang harus diemban yaitu mendidik anak agar sukses dalam pendidikan untuk menghadapi masa-masa yang akan datang.

Juga harus menyiapkan 12 komponen lainnya antara lain ; Kurikulum ( KI & KD ), Silabus, Kalender Pendidikan, Program Tahunan, Program Semester, RPP, KKM, Jadwal Mengajar, Daftar Nilai, Daftar Hadir Peserta Didik, Bank Soal. Semua itu harus bertanggung jawab terhadap atasan ( Kepala Sekolah, Pengawas ), tanggung jawab terhadap anak didik agar supaya bisa terarah, mempunyai karakter / kebiasaan yang baik dan sopan santun terhadap orang lain.

Melaksanakan proses pembelajaran yaitu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi dan menilai hasil pembelajaran, menganalisis hasil pembelajaran, melaksanakan tindak lanjut dan hasil penilaian. Melaksanakan tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah yaitu sebagai wali kelas.

Komponen di atas adalah tugas guru yang masih minim artinya masih belum semuanya. Sebetulnya guru yang bersertifikasi itu sudah bisa dikatakan sebagai guru professional. Namun kenyataan masih ada lagi tugas lain yaitu pengembangan professional berkelanjutan.

Antara lain melaksanakan pengembangan diri ( mengikuti diklat fungsional, kegiatan kolektif guru yang meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian guru), melaksanakan publikasi ilmiah ( presentasi pada forum ilmiah, hasil penelitian atau gagasan ilmu pada bidang pendidikan formal ), melaksanakan publikasi buku teks pelajaran ( buku pengayaan dan pedoman guru ), melaksanakan karya inovatif, melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru ( tim penilai mahasiswa PPL/Magang, KORPRI, PGRI, Koperasi ).

Setelah melihat penjelasan yang sudah saya uraikan di atas maka saya yakin dengan melihat tugas – tugas yang harus dilakukan oleh guru, tidak akan ada lagi orang yang ngrasani guru. Guru bukan lagi tempat atau tujuan untuk dijadikan rasan-rasan lagi.

Memang guru yang hebat haruslah bisa mengendalikan diri untuk tidak emosi. Tetapi untuk kali ini aku hanya akan menyampaikan sedikit rasa kecewaku yang sudah meluap, agar bisa menjadi lega dan untuk mengurangi rasa tidak hormat saya terhadap siapapun yang masih saja menggunjing guru.

Hanya untuk menjadi pengertiannya bahwa guru juga manusia yang masih mempunyai perasaan seperti yang lainnya. Hormati guru dan orang tuamu, itu merupakan salah satu slogan yang sudah terpasang disekolah. Tidak cukup hanya tulisan “Hormati Gurumu”.

Guru menjadi contoh peserta didik untuk selalu menghormati guru dan orang tua, dan yang lebih tua juga mengharagai yang lebih muda. Jadi alangkah baiknya orang-orang yang selalu menggunjing guru, saat ini diakhiri. Janganlah mengkhawatirkan tugas guru dalam mendidik peserta didik di sekolah dan dukunglah para orang tua peserta didik untuk mendidik di saat peserta didik bersama anda di rumah.

Semua pegawai dan pejabat itu berhasil karena didikan dari seorang guru. Saya yakin di negara kita yang kita cintai ini mayoritas mengenyam dunia pendidikan. Untuk yang menulis di media sosial, benarkah anda sudah mengenal dunia pendidikan?.

Saya yakin anda pernah mengenyam dunia pendidikan lewat para guru. Mohon kerendahan hati dan kerelaan saudara untuk menghargai jerih payah guru yang mendidik saudara. Karena saya yakin sekali anda juga hasil dari didikan guru. Anda bisa membaca dan menulis karena didikan para guru juga dan saya yakin anda dulu waktu di sekolah menjadi peserta didik teladan dan mempunyai prestasi.

Mohon maaf saya orang yang awam ini ikut nimbrung mencoba memberanikan diri bukan berarti saya membela guru karena saya menyadari saya bisa baca tulis juga dari guru bahkan sampai saat ini saya belum bisa membalas jasa guru saya. Di negara manapun kalau tidak ada guru, bagaimana jadinya?

Ditulis: Sri Suprapti, Guru – Hp. 081329405977

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *