Mengurai Benang Merah Pemilu Damai Untuk Indonesia Lebih Baik

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Gegap gempita pesta demorasi kian terasa memasuki masa kampanye dan mendekati hari coblosan, sejumlah penandatanganan pakta integritas untuk menjaga pemilu damai dilakukan demi menjaga keutuhan dan persatuan bangsa.

Indonesia adalah bangsa besar yang telah lolos dari cobaan demokrasi. Pemilu presiden 2014 sebelumnya, yang oleh banyak orang sempat diprediksikan chaos, nyatanya dengan mulus telah bisa dilalui.

“Pemilu 2019, tentu bukan berarti tanpa cobaan. Sejak awal harus disadari bahwa setiap kontestasi politik seperti pemilu, niscaya akan penuh dengan berbagai strategi dan intrik politik,” ujar H. Faisal Sifyan, Pembina Lembaga Kajian Lintas Kultural (LKLK).

Ancaman menggunakan isu-isu sara dalam kampanye, serta penyebaran dis-informasi, ujaran kebencian, hingga kampanye hitam, dinilainya Faisal, masih akan membayangi.

Bermodalkan demokrasi kita yang telah matang didukung jiwa sosial kita yang memiliki akar keindonesiaan begitu kuat, yakin akan mampu melewati pemilu yang di gelar serentak pada 17 April 2019 mendatang berlangsung damai.

“Tidak ada alasan untuk menolak Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa,” tegasnya.

Tidak ada tempat bagi tindakan anarkis, sara, dan ujaran kebencian dari oknum atau pun kelompok manapun di bumi Indonesia ini karena hal itu bertentangan dengan Pancasila, jati diri bangsa Indonesia dan bahkan ajaran agama yang ada di Indonesia sekalipun.

Sangat tidak dibenarkan memaksakan sesuatu dengan menghalalkan dan membenarkan segala cara.Yang dibutuhkan adalah sebuah kebersamaan dan rasa kembali mengerti bahwa kita adalah satu bangsa yang sama dan memiliki keinginan bersama untuk membangun Indonesia dan menjaga hingga akhir hidup kita.

Sehubungan dengan hal tersebut, LKLK berencana mengadakan Simposium Nasional “Mengurai Benang Merah Pemilu Damai, Untuk Indonesia Yang Tak Tercerai Berai #2019PEMILUDAMAI” pada Kamis, 14 Maret 2019, tempat Hotel Kusuma Sahid PrinceJl. Sugiyopranoto No.20 Kampung Baru, Pasar Kliwon, Surakarta

Simposium diikuti sedikitnya 200 peserta dari Perwakilan Tokoh Masyarakat, Tokoh Lintas Agama, Ormas Keagamaan, Ormas Politik, Organisasi Kepemudaan, Mahasiswa dan Mahasantri, Perwakilan Pelajar dan Santri

Menghadirkan narasumber Dr. Amir Mahmud (Direktur Utama Amir Institute Surakarta), KH.M. Dian Nafi, M.Pdi (Pengasuh PP Al Muayyad Windan Surakarta), Pdt. Utomo Prasetya (Gembala Gereja Injili Di Tanah Jawa). Moderator Tri Rohmadi, S.H (Direktur LBH Rohmad Lawyer Surakarta)

Ketua Pelaksana Jaringan Lintas Kultural, Fadhel Moubharok IF mengatakan, simposium ini dimaksudkan sebagai upaya membendung oknum dan kelompok yang tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan situasi nasional untuk merongrong persatuan dan kesatuan anak bangsa Indonesia.

“Membangun sikap saling pengertian dan lapang dada terhadap perbedaan pilihan berdemokrasi yang dianut masing-masing anak bangsa,” pungkas Fadhel. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *