Karakter Dalam Lagu Ilir-ilir Yang Terabaikan

Ilir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo taksengguh penganten anyar
Bocah angon peneken blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekne
Kanggo mbasuh dodotira
Dodotira kumitir bedhahe pinggir
Domana jlumatana
Kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane
Mumpung jembar kalangane
Ya suraka surak hore

Lagu dolanan Ilir-Ilir di atas merupakan lagu yang mempunyai maksud dan tujuan untuk menjelaskan kepada manusia mulai dari lahir sampai meninggal dunia. Lagu tersebut saat ini sudah hampir tidak lagi terdengar. Hanya kadang kala mendengar dari campursari, kalau ada orang yang sedang punya kerja. Atau kalaupun sering mendengar itupun karena kebetulan mempunyai kaset yang terbatas saja. Jaman reformasi sekarang ini kalau mendengar lagu Jawa sepertinya alergi.

Oleh karena itu Penulis yang merasa bangga dengan lagu tersebut merasa ingin sekali menyampaikan karakter yang ada di dalam lagu tersebut kepada pembaca sebagai bekal hidup di dunia. Selain itu dari kecil sudah diajari orang tua menyanyikan lagu itu, rasanya senang sekali walaupun belum tahu arti dan maknanya. Padahal sebenarnya lagu Jawa tersebut penuh dengan ajaran yang amat sangat berguna kepada semua orang mulai dari masih bayi, anak-anak sampai mempunyai anak sendiri ( tua ). Amat disayangkan apabila orang tua jaman sekarang tidak memperkenalkan lagu ini kepada anaknya. Kenapa demikian ? Karena banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari lagu tersebut antara lain tentang perilaku ( unggah-ungguh ), sopan santun ( subasita ) dan tata karma yang baik.

Perlu diletahui bahwa manusia hidup di dunia ini dari kecil sampai tua pasti mengalami dan mempunyai salah antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Alloh yang biasa disebut dengan dosa. Sebenarnya yang menjadi sumber dari pada kesalahan dan dosa itu berada dalam diri manusia itu sendiri. Pada umumnya manusia itu mengalami sakit luar / kulit, penyakit dalam, ada penyakit kotor lahir batin. Penyakit kotor lahir merupakan penyakit di dalam hubungan persahabatan, sering bertemu kadang muncul perilaku yang menyinggung perasaan, kadang tidak peduli dengan orang lain.

Arti dan makna daripada lagu tersebut diatas akan penulis artikan mulai dari awal yaitu Ilir-ilir tandure wus sumilir adalah ketika anak masih dalam kandungan seorang ibu . Sembilan bulan lebih sepuluh hari kemudian lahir melihat terangnya dunia dan hawa yang tertiup angin sepoi-sepoi.

Takijo royo-royo taksengguh penganten anyar, artinya bahwa bayi yang baru lahir kemudian dengan bertambahnya waktu dapat membuka mata, bisa tersenyum menawan, kulitnya mulus. Terlihat semakin besar makin menyenangkan hati, begitu cantik / ganteng dipandang mata dan tidak membosankan bagi yang melihatnya. Seperti memandang pengantin baru yang sedang berduaan.

Bocah angon penekna blimbing kuwi, anak yang setiap harinya bekerja sebagai penggembala binatang memang sangat berat bebannya. Karena harus bisa menjaga keselamatan binatang, jangan sampai dimakan binatang buas, apalagi dicuri oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Dan ada lagi penggembala yang berebut tempat untuk menggembala. Karena banyaknya tanaman yang bisa dimakan, kadang menjadikan penggembala saling berkelahi. Tetapi kalau penggembala itu sudah dewasa mungkin akan lain ceritanya.

Menggembala anak dan menggembala binatang akan lebih jauh perbedaannya. Karena anak / manusia itu mempunyai watak dan perilaku yang sulit untuk dirubah sesuai dengan keinginan orang lain. Dalam lagu ini yang dimaksud dengan bocah angon adalah bapak ibu atau orang tua kepada anaknya, guru dengan muridnya, pemerintah kepada bangsa termasuk generasi penerusnya. Walaupun sulit ( lunyu ) mempunyai keinginan untuk mendidik menjadi anak yang baik, agar menjadi bangsa yang bertanggungjawab atas keselamatan terutama nusa dan bangsa ini memang bukan harapan yang mudah, karena sudah beberapa kali berganti aturan yang dipakai nyatanya masih tetap belum tertata dengan baik dan bahkan belum berbuah manis. Jadi walaupun sesulit apapun seharusnya tidak merasa kecewa apalagi putus asa bahkan mundur, tetapi haruslah semangat dalam mencapai cita-cita yang diinginkan. Blimbing ini merupakan alat pembersih ( sabun ) pada jaman dulu, kalau jaman sekarang pengganti sabun.

Kanggo masuh dodotira, dodotira kumitir bedhahe pinggir. Umpama dodot / jarik itu kotor maka harus dicuci. Kotoran itu bisa menjadi bersih apabila dicuci dengan sabun. Begitu juga dengan kelakuan yang tidak baik dalam kehidupan manusia yang namanya dosa atau kelakuan yang melanggar aturan, juga harus dibersihkan. Karena kesalahan itu bisa bertambah sedikit demi sedikit. Sebagai contoh misalnya kalau orang tidak jujur. Ketika pertama ditanya sudah tidak jujur maka untuk selanjutnya juga tidak mungkin akan jujur. Karena kalau jujur akan mendapatkan sangsi yang berat, jadi takut untuk jujur. Contoh yang lain misalnya pencuri ( mengambil milik orang lain ). Awalnya hanya mencuri, terus merampok, merampok dengan cara membunuh karena ketahuan oleh pemiliknya. Itulah contoh dosa yang makin bertambah banyak.

Dondomana jlumatana kanggo seba mengko sore, Rusaknya pakaian bisa untuk diperbaiki lagi dengan cara dijahit ataupun ditambal. Tetapi sebaliknya kelakuan yang tidak baik harus diperbaiki dengan ajaran yang baik, itupun kalau manusia itu mau berubah menjadi baik. Pada umumnya orang yang bisa memberi petunjuk yang baik adalah orang yang bisa dipercaya, berwibawa, pandai dalam hal agama dan bisa menjadi contoh bagi orang lain.

Memperbaiki diri lahir dan batin dengan perbuatan yang baik. Untuk apa ? Kanggo seba mengko sore, untuk semua manusia besar, kecil, tua muda, kaya miskin, laki-laki perempuan, tanpa pandang bulu. Bahwa suatu saat akan menghadap kepada Tuhan dan harus siap mempertanggungjawabkan atas semua perbuatan yang sudah dilakukan selama hidupnya. Tuhan Maha Adil, kalau banyak dosa akan masuk neraka tetapi kalau perbuatannya baik maka akan masuk surga. Manusia tinggal memilih akan masuk neraka atau surga. Yang jelas kalau masuk ke surga harus selalu berbuat baik dan tidak melakukan kesalahan. Begitu sebaliknya apabila ingin masuk ke neraka, silahkan untuk berbuat yang melanggar aturan agama.

Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane, yo suraka, surak hore, ini mempunyai arti dan makna bagi orang yang masih muda dan yang sudah tua. Untuk yang masih muda haruslah bisa mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya. Supaya yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya bodoh menjadi pandai dan digunakan dengan sebagaimana mestinya yaitu yang pantas. Watak yang malas akan menjadi rajin, yang sembrana menjadi lebih berhati-hati, dengan harapan mendapatkan anugerah/ imbalan yang baik.

Oleh karena perbuatan itu kemudian bergembira ria dan bersyukur kepada Tuhan karena sudah bisa mencari jodoh dan mendapatkan pekerjaan yang layak dan barokah. Kalau masih muda sudah mendapatkan pasangan, pekerjaan, kepandaian, itu merupakan kehidupan yang sudah komplit dalam berumah tangga. Bekal hidup yang bersifat batin juga harus selalu bersyukur kepada Tuhan dengan melakukan perbuatan yang tidak melanggar aturan agama yang dianut.

Arti dan makna bagi orang yang sudah tua, perbuatan secara lahir hidupnya hanya menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya untuk mengurangi kesalahan dan dosanya. Bisa menjadi contoh bagi anak-anak yang masih muda, menjauhkan fitnah-fitnah, tidak membuat sakit hati orang lain, saling bantu membantu, tolong menolong, bersedekah dan mengamalkan kebaikan dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan dalam bentuk perbuatan batin adalah beribadah menurut agama dan keyakinan masing-masing, sehingga bisa menghapuskan semua dosa-dosanya. Masalah hilang dan tidaknya dosa-dosa itu tergantung dari manusianya sendiri. Yang terpenting adalah melakukan segala sesuatu menurut aturan agama.

Dengan kebiasaan berbuat baik itu perbuatan yang dilakukan waktu muda yang berupa kejelekan maka lama-lama akan terhapus oleh perbuatan yang baik. Manusia hidup itu hanyalah berusaha dan berdoa, semuanya hanya Tuhan yang menentukan. Dosa itu berasal daribanyaknya perilaku yang menyimpang dari aturan agama. Siapapaun yang melanggar aturan agama akan mendapatkan hukuman. Beribadah dihadapan Alloh itu hanya agar manusia itu bahagia, sehat, selamat, bisa melakukan perbuatan yang tidak melanggar aturan Negara dan agama.

Namun yang namanya manusia, perilakunya serba dalam bayangan kesalahan dan dosa. Banyak yang masih mempunyai watak sombong, melik ( menginginkan barang / kepunyaan orang lain ), serakah demi keperluan pribadi tanpa memikirkan orang lain, ingin kaya dengan mengumbar hawa nafsu supaya cepat kaya sampai melakukan korupsi, mencuri, merampok, berbohong.

Sedangkan manusia yang sering mengumbar hawa nafsu yaitu sering selingkuh, memperkosa, minum, yang mana semua itu merupakan larangan pemerintah dan agama. Sebenarnya manusia itu sudah mengetauhi bahwa perbuatan itu adalah salah dan dosa, tetapi kenapa tetap dilakukan? Itulah yang namanya manusia tidak mau mengendaikan hawa nafsu, sulit untuk menyembuhkan karakter / kebiasaan yang tidak baik. Sering terdengar kata-kata “ batuk/ watak mudah obatnya tetapi kalau watak sulit terobati”.

Dengan sedikit penjelasan tersebut di atas , alangkah baiknya kita sebagai manusia yang banyak dosa akan mengurangi perbuatan buruk yang makin lama makin bertumpuk-tumpuk. Menjadi contoh untuk selalu berkarakter atau melakukan kebiasaan yang tidak melanggar norma agama. Hidup akan lebih tenang dan nyaman kalau berkarakter baik, sebaliknya hidup tidak akan tenang apabila berkarakter buruk.

Apapun pilihan anda, anda sendirilah yang akan mendapatkannya. Oleh karena itu pilihan terserah anda!
Ditulis oleh : Sri Suprapti, Guru SMP Negeri 8 Surakarta No.Hp. 081329405977

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *