‘Jawa Ilang Jawane’ Mengikis Budi Pekerti dan Tata Krama

JATENGONLINE – Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa komunikasi yang selalu digunakan secara khusus di lingkungan etnis Jawa. Bahasa merupakan bahasa pergaulan, yang digunakan untuk berinteraksi antar individu dan memungkinkan terjadinya komunikasi dan perpindahan informasi sehingga tidak ada individu yang ketinggalan zaman ( Ahira, 2010 ).

Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa pergaulan se hari-hari di daerah Jawa, khususnya jawa Tengah. Hal ini bisa dibuktikan bahwa kejayaan kehidupan keraton di masa lampau banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dibanding dengan di daerah Jawa yang lain.

Dengan begitu, maka Bahasa Jawa merupakan bahasa asli masyarakat Jawa di Indonesia, khususnya di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan daerah sekitarnya. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu yang menjadi warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dijaga. Apabila bahasa Jawa ini tidak dijaga dengan baik, maka tidak aneh apabila bahasa Jawa ini akan terkikis bahkan akan semakin hilang dari Pulau Jawa ini.

Kita sebagai orang Jawa sudah terkenal dengan rasa toleransi yang besar. Tebukti bahwa sebagai masyarakat Jawa sudah bisa atau mampu mempunyai watak mengalah ( ngalah bukan berarti kalah ). Bahasa Jawa tidak bisa menjadi bahasa nasional, masyarakat Jawa tetep legawa. Bahkan kondisi saat ini sedikit demi sedikit anak-anak sudah tidak bisa lagi menggunakan basa krama yang baik. Termasuk di daerah Jawa sendiri yaitu Yogyakarta dan Surakarta.

Bahasa Jawa sudah hampir-hampir hancur dan menghadapi kematian. Orang Jawa yang hilang keJawaannya. Generasi penerus bangsa yang sekaligus orang Jawa, menganggap bahwa bahasa Jawa sudah bukan lagi bahasa Ibu. Sudah terbukti bahwa banyak anak jaman sekarang apabila diberi pertanyaan oleh orang tua dengan bahasa Jawa, untuk menjawabnya memilih menggunakan bahasa Indonesia, karena tidak bisa bahasa Krama.

Apabila orang tua yang mau bersabar dan mau menjaga kelestarian bahasa Jawa, tidak mungkin mau menerima jawaban dari anak yang menggunakan bahasa Indonesia. Tetap berusaha mau membimbing anak-anaknya untuk selalu menggunakan bahasa Jawa.

Belum ada sejarahnya, apabila anak dibiasakan menggunakan bahasa Jawa di rumah kemudian di sekolah tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia. Sebaliknya apabila anak dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia di rumah, maka anak itu akan tidak tahu sama sekali dengan bahasa Jawa.

Intinya kalau orang tua yang bijaksana akan membimbing anaknya untuk selalu menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi setiap harinya. Selain bisa menggunakan bahasa krama dengan baik, maka otomatis anak itu akan dengan sendirinya mempunyai unggah-ungguh sesuai dengan perilaku orang Jawa yang terkenal halusnya.

Tidak bisa dipungkiri lagi oleh siapapun, kalau kita belajar bahasa Jawa, sudah pasti budi pekerti kejawaannya juga akan dipelajari. Kenapa demikian? Karena dalam pembelajaran bahsa Jawa akan ikut juga dipelajari tentang unggah-ungguh dan tata krama dan yang paling penting adalah tentang budi pekerti. Dengan begitu, orang yang mempelajari bahasa Jawa dengan baik, maka karakter atau kebiasaan pembelajaran budi pekerti yang baik masih bisa dimengerti atau dipahami.

Bahkan tidak sedikit orang-orang di luar Jawa yang ingin mempelajari bahasa Jawa. Mestinya orang Jawa sendiri merasa bangga dengan mereka. Tetapi kenyataannya, orang Jawa sendiri tidak mau menggunakan bahasanya sendiri dan memilih menggunakan bahasa Indonesia.

Masyarakat Jawa yang sudah tidak mau lagi menggunakan bahasa Jawa, maka tidak aneh kalau bahasa Jawa semakin menghilang. Dan kalau bahasa Jawa sudah tidak mau memakainya, bagaimana dengan budi pekerti, unggah-ungguh dan tata kramanya?.

Bahasa Jawa yang membuat masyarakat Jawa bisa menghormati orang tua dan menghargai yang lebih muda, akan sirna. Bahasa Krama membuat pengguna terhindar dari emosi kemarahan yang berlebihan. Tidak akan terjadi kemarahan ataupun emosi yang berlebihan apabila dalam percakapan sehari-hari menggunakan bahasa krama yang halus.

Sudah jelas apabila dalam percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Jawa, maka kualitas budi pekertinya akan semakin baik. Sebaliknya apabila bahasa Jawa sudah jarang atau bahkan tidak digunakan, kualitas budi pekertinya akan turun, itu artinya sudah tidak mempunyai unggah-ungguh dan tata krama yang baik. Kalau manusia sudah tidak mempunyai unggah-ungguh dan tata krama, tidak ada gunanya sama sekali.

Dengan terjadinya kualitas budi pekerti yang menurun dengan tidak menggunakan bahasa Jawa yang baik otomatis akan mengakibatkan aksara Jawa akan semakin tidak dikenal. Kalau keduanya sudah diabaikan, maka sudah jelaslah bahwa orang Jawa sudah hilang kejawaanya dan aksara Jawa sudah benar-benar mati. Aksara Jawa yang bisa dijadikan pedoman hidup manusia akan hilang. Manusia sudah tidak akan mengerti mengapa tulisan Jawa tidak ada spasinya? Mengapa aksara Jawa kalau dipangku pasti mati? Mengapa pasangan aksara Jawa tidak boleh lebih dari dua?

Perlu diketahui bahwa aksara Jawa tidak ada spasinya, artinya dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia haruslah selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu hal, agar selalu selamat dunia dan akherat. Tidak melanggar aturan agama dan hidup di dunia ini bisa bermanfaat bagi orang lain.

Aksara Jawa kalau dipangku pasti mati. Kita sebagai manusia, janganlah senang disanjung-sanjung ataupun dipuja-puja. Karena kalau kita terus menerus disanjung maka lama kelamaan akan jatuh, apabila suatu saat sudah tidak lagi dibutuhkan. Yang terakhir pasangan aksara Jawa tidak boleh lebih dari dua.Tidak perlu dijelaskan lagi, semua sudah tahu dan jelas, bagaimana kalau pasangan hidup kita lebih dari dua?

Dengan penjelasan yang sudah disebutkan di atas maka bisa disimpulkan bahwa bahasa Jawa dan aksara Jawa sangatlah perlu untuk dilestarikan. Jangan sampai bahasa dan aksara Jawa itu mati. Justru sebaliknya haruslah kita sendiri sebagai masyarakat Jawa yang mempunyai kewajiban untuk melestarikan bahasa Jawa dan aksara Jawa agar supaya bisa tetap hidup dan berkembang lagi. Bahasa menunjukan bangsa. Semoga wong Jawa ora ilang Jawane.
Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa SMP di Surakarta, No. Hp. 081329405977

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *