Inilah Ungkapan Jawa Yang Unik

JATENGONLINE – Bahasa Jawa dapat digunakan sebagai wahana pembentukan budi pekerti dan sopan santun karena kaya dan lengkap perbendaharaan kata sebagai bahasa yang meliputi ; fungsi, aturan atau norma kebahasaan, variasi atau tingkatan bahasa, etika dan nilai-nilai budaya yang tinggi dengan segala peran fungsinya ( Sabdawara, 2001).

Masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah tradisi atau budaya yang masih berkembang sampai saat ini adalah larangan-larangan yang bagi orang di luar Jawa adalah unik. Dikatakan unik karena tradisi itu mengandung pesan moral yang baik atau perbuatan baik bagi masyarakat Jawa. Tujuannya adalah agar orang itu tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau tidak melanggar unggah-ungguh yang berlaku bagi masyarakat Jawa umumnya dan Jawa Tengah khususnya.

Larangan-larangan yang dimaksud di atas adalah merupakan salah satu unsur kebudayaan Jawa. Penulis melihat keseharian orang yang menggunakan kata-kata yang disampaikan oleh orang Jawa itu sendiri. Ungkapan yang berupa larangan dan disertai akibat ini diungkapkan dengan bahasa Jawa. Sebenarnya bahasa Jawa ini merupakan salah satu bahasa yang banyak dikuasai oleh hampir semua masyarakat yang berada di wilayah pulau Jawa. Mulai dari anak yang masih kecil sampai usia lanjut semua menggunakan bahasa Jawa.

Bukan berarti terus meninggalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Karena belum ada sejarahnya, apabila anak kecil diajari bahasa Jawa kemudian besarnya tidak bisa berbahasa Indonesia. Tetapi justru sebaliknya , kalau anak masih kecil sudah diajari menggunakan bahasa Indonesia, maka besarnya akan tidak tahu sama sekali bahasa Jawa. Bahkan anak jaman sekarang tidak sedikit yang diajari menggunakan bahasa Indonesia. Maka tidak salah kalau anak sekarang tidak bisa mengerti unggah-ungguh layaknya orang Jawa. Orang tua juga tidak menyadari bahwa sedikit banyak ikut andil dalam menghilangkannya.

Sama sekali tidak menyadari bahwa begitu indahnya unggah-ungguh orang Jawa. Sebagai contoh dalam menggunakan bahasa Indonesia, antara bapak, ibu, anak, anjing, ayam ataupun binatang yang lain. Kata yang digunakan kalau sedang makan, maka mereka sama yaitu makan. Itu berarti antara bapak dan anjing sama. Maukah bapak anda disamakan dengan anjing ? Coba , kalau menggunakan bahasa Jawa , bapak dhahar, ibu dhahar, kula nedha, asu nyathek, pitik nothol. Masihkan anda akan mengajarkan anak kecil kaliyan menggunakan bahasa Indonesia dan melupakan bahasa Jawa? Terserah anda !!!.

Bahasa Jawa sebagai produk dari masyarakat Jawa, juga merupakan cerminan budaya Jawa. Sifat dan perilaku masyarakat Jawa dapat dilihat melalui bahasa dan budayanya. Begitu juga perkembangan kebudayaan Jawa akan dapat memperkaya bahasa Jawa. Kekayaan budaya dalam bahasa Jawa dapat dijadikan alat untuk meningkatkan budi pekerti atau tata krama, karena di dalam bahasa Jawa penuh dengan ajaran tata krama atau unggah ungguh, sehingga bahasa Jawa dapat dikatakan sebagai bahasa yang menyiratkan budi pekerti luhur, atau cerminan tata krama masyarakat Jawa. Dalam budaya Jawa terdapat banyak peribahasa dan ungkapan yang di dalamnya terdapat ajaran keutamaan hidup bagi masyarakat Jawa dalam melakukan segala perbuatan.

Peribahasa dan ungkapan sebagai salah satu ajaran hidup dalam masyarakat Jawa harus dipahami sesuai dengan konsep dan maknanya. Dengan pemahaman terhadap ungkapan dalam bahasa Jawa tersebut akan ditemukan ajaran hidup yang sesungguhnya. Kebudayaan masyarakat Jawa terdapat bermacam-macam ungkapan. Salah satu ungkapan yang menarik yang akan disampaikan di sini adalah ungkapan ora ilok ( tidak baik ). yang berupa larangan untuk melakukan suatu perbuatan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan etika.

Bagi orang Jawa, khususnya orang tua, ungkapan ora ilok menjadi salah satu ungkapan yang digunakan untuk mengingatkan sesuatu hal kepada anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Kalimat-kalimat yang mengikuti ungkapan ora ilok mengandung nasihat-nasihat berisi pelajaran unggah-ungguh, etika, atau budi pekerti, dan merupakan tuntunan dalam melakukan segala tindakan dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pergaulan dengan masyarakat luas.

Saya sebagai guru bahasa Jawa yang mana siswa yang dihadapi adalah anak yang baru menginjak remaja. Ketika masuk kesekolah ini, anak-anak masih belum terlihat perilakunya karena baru saja lulus dari Sekolah Dasar. Beberapa bulan kemudian barulah terlihat aslinya. Akan terlihat kebiasaan sehari-hari sopan santun atau budi pekerti yang dilakukan di rumahnya. Dan itu akan terlihat jelas sekali cermin anak-anak saat di rumah.

Dari sinilah pelajaran budi pekerti yang berupa larangan ini disampaikan ke siswa agar merubah yang sebelumnya kurang baik menjadi baik atau bahkan lebih baik. Larangan ungkapan ora ilok dalam bahasa Indonesia berarti tidak baik merupakan ungkapan dengan tujuan untuk melarang penutur kepada mitra tuturnya untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang tidak baik. Karena larangan yang disampaikan ini jika seseorang melanggar maka akan berakibat yang tidak baik.

Contoh ungkapan larangan adalah : ora ilok mbuwang uwuh / resak neng slorogan utawa longan “ tidak baik membuang sampah di laci atau di kolong. Selain itu ungkapan ora ilok bocah sekolah lungguh karo jigang ‘tidak baik anak sekolah duduk dengan mengangkat kaki’.

Dengan melihat bentuk ungkapan di atas, makna ungkapan ora ilok bocah sekolah lungguh karo jigang adalah sebagai nasihat guru kepada peserta didik supaya bersikap sopan, karena tidak pantas jika seorang peserts didik duduk dengan mengangkat kaki. Dengan terbiasa bertingkah laku yang baik dan sopan di rumah, diharapkan si anak tidak akan canggung dan tidak bersikap yang kurang pantas baik di luar rumah maupun dalam pergaulan.

Contoh lain : Ora ilok mangan karo ngomong ‘tidak baik makan sambil bicara’. Dilihat dari bentuknya, larangan ini berlaku untuk umum, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Larangan ini pun mempunyai makna yang tidak diungkapkan secara langsung. Makna larangan ora ilok mangan karo ngomong ini merupakan ajaran atau nasihat supaya dalam hidup, orang harus bertingkah laku yang sopan dengan tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas.

Selain itu, jika larangan itu dilakukan ( makan sambil bicara ) bisa menyebabkan tersedak. Ora ilok mangan karo mlaku ‘tidak baik makan sambil berjalan’ Dilihat dari bentuknya, larangan ini berlaku untuk umum, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Larangan inipun mempunyai makna yang tidak diungkapkan secara langsung. Makna larangan ora ilok mangan karo mlaku ini merupakan ajaran atau nasihat supaya dalam hidup, orang bertingkah laku sopan dan sesuai dengan norma, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas. Selain itu, secara rasional kalau makan sambil berjalan tentu saja makanannya bisa kotor terkena debu atau kuman yang akan membahayakan kesehatan orang yang bersangkutan.

Ora ilok mbuwang uwuh neng longan ‘tidak baik membuang sampah di bawah tempat tidur’. Ungkapan ora ilok yang artinya dalam bahasa Indonesia ‘tidak baik membuang sampah di bawah tempat tidur’ itu tentu saja tidak pantas dilakukan karena tidak baik untuk kesehatan, sebab kalau sampah itu membusuk bisa menjadikan bau tidak sedap/tidak enak.

Selain itu, bisa juga sampah akan menjadi sarang bibit penyakit. Ungkapan ini berfungsi untuk umum dan sebagai nasihat untuk semua orang supaya melakukan segala sesuatu sesuai dengan etika. Kebersihan adalah sebagian dari iman.

Orang Jawa terutama para generasi tua, mulai menanamkan pengertian tentang hal yang baik dan benar untuk dilakukan sesuai dengan etika melalui banyak cara, antara lain dengan menggunakan ungkapan ora ilok. Secara tidak langsung, ungkapan ora ilok, ini merupakan salah satu cara yang arif untuk mengingatkan keluarganya untuk bersikap sopan,bertindak sesuai dengan tata krama. Dengan mematuhi dan tidak melanggar larangan ora ilok ini, secara tidak langsung orang sudah memberikan pengajaran berbudi pekerti.

Pendidikan budi pekerti melalui ungkapan ora ilok merupakan usaha untuk menyiapkan anak menjadi manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dalam kehidupan sekarang dan masa yang akan datang. Banyak hal yang dapat dipetik dari ungkapan ora ilok tersebut, salah satunya adalah pitutur atau nilai budi pekerti yang masih relevan dengan nilai-nilai yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat sekarang ini. Di samping itu, pengajaran berbudi pekerti merupakan upaya pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan, dan perbaikan perilaku anak agar mereka mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara selaras, serasi, dan seimbang.

Dengan pengajaran berbudi pekerti diharapkan akan menjadi bekal bagi masa depannya, karena budi pekerti luhur dapat menciptakan sikap sopan santun dalam bersikap dan berbuat baik, tertib menurut adat yang baik yang menunjukkan tingkah laku yang beradab. Dalam ungkapan ora ilok ini, penanaman etika dihubungkan dengan norma sopan santun, tata cara berperilaku yang baik dalam pergaulan bermasyarakat.

Ungkapan ora ilok dalam bahasa Jawa masih sering digunakan oleh masyarakat Jawa, terutama di daerah-daerah yang belum banyak mendapat pengaruh budaya modern. Ora ilok dalam bahasa Jawa mengandung pesan moral dan nilai-nilai kebaikan atau budi pekerti bagi masyarakat Jawa.

Ungkapan tersebut dimaksudkan agar seseorang tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau melanggar unggah-ungguh. Masihkah anda sebagai orang tua mengajarkan ungkapan ora ilok kepada anak cucu anda ? Bagaimana kalau mereka tetap melanggar???.

Ditulis Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 8 Surakarta. No. Hp. 081329405977

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *