Antara Idul Fitri, Silaturahmi dan Trah

Berbagi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari silaturahmi rutin ‘Trah Reso’ setiap tahun sekali disaat lebaran atau Idul Fitri di Desa Taru, Sukoharjo. Kamis (6/6/2019)

JATENGONLINE, KLATEN – Fajar 1 Syawal 1440 H / 2019 M, bersama-sama dengan umat Islam semuanya dari segala arah dan penjuru dunia dari sabang sampai merauke tak henti-hentinya mengumandangkan alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil.

Bahkan sebagian masyarakat, pada malam hari raya Idul Fitri melakukan takbir keliling. Hal ini sesungguhnya merupakan manifestasi kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa, atau sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang diperoleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh.

Sebagaimana firman Allah SWT “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”

Takbir ditanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kalimat tasbih ditujukan untuk mensucikan Allah dan segenap yang berhubungan dengan-Nya. Tidak lupa kalimat tahmid sebagai puji syukur juga di tujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya. Sementara tahlil dilantunkan untuk memperkokoh keimanan, bahwa Dia lah Dzat yang maha Esa dan maha Kuasa.

Foto keluarga ‘Trah Reso’ berfungsi untuk mengabadikan momen

Makna Idul Fitri
Hari raya Idul Fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa, memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa. Kata Id berdasar dari akar kata aada – yauudu yang artinya kembali sedangkan fitri bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci. Adapun fitri yang berarti buka puasa berdasarkan akar kata ifthar (sighat mashdar dari aftharo – yufthiru) dan berdasar hadis Rasulullah SAW yang artinya : ”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Dalam Riwayat lain: “Nabi SAW. Makan kurma dalam jumlah ganjil.” (HR Bukhari).

Dengan demikian, makna Idul Fitri berdasarkan uraian di atas adalah hari raya dimana umat Islam untuk kembali berbuka atau makan. Oleh karena itulah salah satu sunah sebelum melaksanakan shalat Idul Fitria dalah makan atau minum walaupun sedikit. Hal ini untuk menunjukkan bahwa hari raya Idul Fitri 1 syawal itu waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa.

Sedangkan kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alayh). Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alayh) . Dari penjelasan ini dapat disimpulkan pula bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Ziarah ke makam dan mendoakan leluhur menjadi pembuka kegiatan silaturrahmi ‘Trah Reso’

Idul Fitri dalam konteks ini berarti kembali kepada asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar. Bagi ummat Islam yang telah lulus melaksanakan Ibadah puasa di Bulan Ramadhan akan diampuni dosanya sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan Ibunya. Sebagaimana Sabda Nabi SAW yang Artinya“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci.”

Dalam bahasa Jawa, hari raya Idul Fitri disebut juga dengan istilah “lebaran”. Lebaran mengandung maksud lebar-lebur-luber-labur. Lebar artinya kita akan bisa lebaran dari kemaksiatan. Lebur artinya lebur dari dosa. Luber artinya luber dari pahala, luber dari keberkahan, luber dari rahmat Allah SWT. Labur artinya bersih sebab bagi orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa, maka hati kita akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa,makanya wajar kalau mau lebaran rumah-rumah banyak yang di labur hal ini mengandung arti pembersihan dhohir disamping pembersihan batin yang telah di lakukan.

Pemaknaan hari raya Idul Fitri hendaknya bersifat positif seperti menjalin silaturrahmi sebagai sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama makhluk. Silaturahmi tidak hanya berbentuk pertemuan formal seperti Halal bi Halal, namun juga bisa dengan cara menyambangi dari rumah ke rumah, saling duduk bercengkerama, saling mengenalkan dan mengikat kerabat. Apalagi sekarang permohonan maaf dan silaturahmi sudah tidak mengenal batas dan waktu sebab bisa menggunakan jejaring media sosial.

Makam Leluhur Nyai Reso Sumarto, Desa Taru, Sukoharjo

Begitulah pentingnya silaturahmi sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. (HR.Daud,Tirmidzi&Ibnu Majah) . “

Dalam kesempatan berlebaran di hari raya yang suci ini, mari satukan niat tulus ikhlas dalam sanubari, hilangkan rasa benci, rasa dengki, rasa iri hati, rasa dendam, rasa sombong dan rasa bangga dengan apa yang kita miliki hari ini. Mari ganti semua itu dengan rasa kasih sayang dan rasa persaudaraan. Dengan hati terbuka, wajah yang berseri-seri, ulurkan tangan untuk saling bermaafan.

Foto Bareng ‘Trah Reso”

Jalin Ukhuwah Perkuat Persaudaraan
Mengenali nasab atau garis keturunan itu sangat penting sebab memungkinkan terjalinnya terus-menerus tali persaudaraan. Hal ini dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu álaihi wasallam sebagaimana beliau sabdakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari sebagai berikut:

Artinya, “Kenalilah nasab-nasabmu, maka tali persaudaraanmu akan terus bersambung. Sesungguhnya jika tali persaudaraan terputus, maka hubungan itu menjadi jauh meskipun sebetulnya dekat. Sebaliknya tali persaudaraan itu menjadi dekat bilamana kamu terus menyambungnya sekalipun telah jauh hubungannya.”

Keluarga Besar Trah Reso selalu berharap untuk keluarga yang belum bisa bergabung, segera bergabung…

Tradisi ahlen, yakni pertemuan antar bani atau antar keluarga dalam trah tertentu di hari-hari Lebaran merupakan salah satu cara mengenalkan dan mengenali garis keturunan. Demikian pula tradisi saling berkunjung ke rumah sanak saudara yang memiliki hubungan nasab juga merupakan cara mengenalkan dan mengenali garis keturunan sekaligus menyambung tali persaudaraan agar tidak putus.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu álaihi wasallam telah dengan jelas mengisyaratkan bahwa sungguhpun suatu hubungan genealogis telah cukup jauh, tapi bisa dekat ketika jalinan silaturahim terus berlangsung. Dalam struktur silsilah Jawa generasi pertama disebut anak, generasi kedua putu, generasi ketiga buyut, generasi keempat canggah, generasi kelima wareng, generasi keenam udeg-udeg, generasi ketujuh gantung, generasi kedelapan siwur, generasi kesembilan debok bosok, dan generasi kesepuluh galih asem.

Hubungan antarsesama generasi keenam (udeg-udeg) atau generasi ketujuh (gantung) misalnya, tentu sudah cukup jauh. Namun, hubungan itu bisa menjadi dekat apabila mereka saling mengenal garis keturunannya dan terus menerus menjalin silaturahim dengan baik. Sebaliknya sungguhpun dekat suatu hubungan genealogis, misal sesama generasi kedua (putu), hubungan mereka bisa jauh apabila sama-sama tidak saling menyadari garis keturunannya.

Ketika di antara mereka yang sesama generasi kedua (putu) tersebut tidak terjalin silaturahim, maka potensi putusnya tali persaudaraan mereka cukup besar. Inilah yang sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah agar jangan sampai terjadi pada umat beliau.

Peringatan Rasulullah shallallahu álaihi wasallam tersebut penting untuk diperhatikan sebab dalam hadits yang lain beliau bersabda yang artinya, “Belajarlah dari nasab-nasabmu hal-hal yang mempererat persaudaraan, sesungguhnya mempererat persaudaraan menumbuhkan kecintaan terhadap sanak saudara, memperbanyak rejeki (harta), dan memperpanjang umur.” (HR. Tirmidzi)

Jadi menjalin silaturahim dengan sanak saudara yang memiliki hubungan nasab itu penting, terlebih di saat-saat Lebaran dimana terdapat banyak kesempatan karena merupakan hari-hari libur secara nasional. Tradisi pertemuan antar bani atau ahlen dan saling berkunjung ke rumah sanak saudara adalah salah satu contoh cara bagaimana kedua hadits di atas diamalkan.

Di balik itu semua, ternyata terdapat banyak hikmah sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, yakni: Pertama, menumbuhkan cinta di dalam internal sanak saudara yang memungkinkan terjadinya gotong royong atau saling menolong. Juga tidak menutup kemungkinan terjalinnya hubungan yang lebih dekat lagi, seperti perkawinan (dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat).

Kedua, memperbanyak rezeki (harta). Semua rejeki berasal dari Allah subhanu wata’ala karena Dia-lah Sang Pemberi Rejeki. Tetapi tanpa bersosialisasi dengan sesama manusia, rejeki sulit didapat sebab seringkali rejeki dihasilkan dengan berinteraksi dan komunikasi. Silaturahim dengan sanak saudara memperluas wilayah jangkauan rejeki.

Ketiga, memperpanjang umur. Kalimat ini bisa bermakna harfiah, dan bisa pula bermakna majaz. Silaturahim dengan sanak saudara memperpanjang umur bisa berarti Allah akan memberi umur panjang seperti usia bisa mencapai lebih dari 70 tahun. Dalam makna majaz, hal ini bisa berarti seseorang mendapat banyak kesempatan berbuat kebaikan meski usianya sendiri relatif pendek sehingga amal kebaikannya setara dengan mereka yang berumur panjang.

Itulah pentingnya ahlen dan saling berkunjung antar saudara di Hari Lebaran. Kedua tradisi ini hanyalah sebagian dari teknis atau cara bagaiamana kedua hadits di atas diamalkan. Persoalan adanya tuduhan bidáh dari pihak tertentu, tidak perlu kita cemaskan. Bukankah kita telah memahami bahwa kategori bidáh ada lima, yakni: haram, sunah, wajib, makruh, dan mubah sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami, dalam kitab Al-Qawaídu Al-Kubra, Al-Mausum bi Qawaidil Ahkam fi Ishlahil Anam, hal. 337.

Mari, kita buka lembaran baru yang masih putih, dan kita tutup halaman yang lama yang mungkin banyak terdapat kotoran dan noda seraya mengucap Minal Aidin Walfaizin Mohon Ma’af Lahir dan Batin. Semoga Allah SWT, selalu memberikan pertolongannya kepada kita semua.

Oleh karena itu marilah kita jadikan Idul Fitri tahun 2019 ini berbeda dengan Idul Fitri di tahun-tahun sebelumnya karena kita baru saja telah melaksanakan pesta demokrasi pemilihan presiden. Walaupun kemarin beda pilihan itulah seninya berdemokrasi, mari merajut kembali dan maksimalkan bersilaturahmi untuk meminta maaf, memberi maaf dan menjadi seorang pemaaf. Jangan biarkan kedengkian dan kebencian merasuk kembali ke jiwa kita yang telah suci. Ian Prasetyo – Pimpinan Redaksi Jatengonline

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *