Ternyata Ini Penampil IMF 2019 di Pendapi Gedhe Balaikota Solo

Ketua Penyelenggara IMF 2019 Solo, R.Ay. Irawati Kusumorasri bersama penampil dari Indonesia dan mancanegara saat Konferensi Pers di Pendapi Gedhe Balaikota Surakarta. Kamis (4/7/2019)

JATENGONLINE, SOLO – International Mask Festival (IMF) merupakan acara tahunan berskala internasional yang mengusung konsep pertunjukan seni topeng dan pameran kerajinan topeng. Berikut informasi singkat penampil IMF 2019

Jumat, 5 Juli 2019
Pada malam hari ini, pertama akan tampil pertujukan Berdirinya Kerajaan Singo Barong di Alas Lodoyo dari Sanggar Singo Yogo. Kerajaan Alas Lodoyo merupakan bagian cerita singkat dari perjalanan Klono Sewandono untuk mempersunting Dewi Songgolangit dari Kerajaan Kediri.

Yang dalam perjalanan dari Pajang menuju Kediri baru sampai diperbatasan Jawa Timur melewati hutan (alas bernama Lodoyo). Dikawasan hutan/alas Lodoyo diduduki sekelompok brandalan yang sakti disebut Warok dan mempunyai raja yang sakti mandraguna dengan sebutan Singo Barong, karena berkepala harimau dengan burung merak diatas kepalanya.

Tiada yang bisa mengalahkan raja Singo Barong dan akhirnya menjadi kerajaan yang besar dan banyak ditakuti. Singkat cerita hanya Klono Sewandono yang berhasil mengalahkan Singo Barong pada akhirnya kerajaan alas Lodoyo menjadi bagian dari kerajaan Bantarangin yang dipimpin Prabu Klono Sewandono dan istrinya Songgo Langit.

Penampilan kedua, akan dilanjutkan dengan pertunjukkan Tari Losari dari Sanggar Purwa Kencana. Tari Topeng gaya Losari mempunyai sejarah yang sangat panjang, tari ini diciptakan oleh Panembahan Losari atau Pangeran Losari atau Pangeran Angkawijaya sekitar 400 tahun yang lalu. Pada awalnya tarian ini diciptakan untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam penyajiannya, Topeng Losari mengedepankan penokohan dari cerita Panji, berbeda dengan tari topeng dari wilayah Cirebon lainnya yang lebih mengedepankan perkembangan sifat manusia yang menjurus ke nilai filosofis. Saat ini yang menarikan Tari Topeng Losari adalah Nur Anani M Irman atau sering dipanggil Nani Topeng Losari yang merupakan generasi ketujuh trah langsung penari topeng losari atau disebut juga Dalang Topeng Losari.

Nani Topeng Losari adalah cucu dari Maestro Ibu Dewi Sawitri (Dalang Topeng Dari Losari yang merupakan generasi keenam dari trah topeng Losari). Nani sebagai dalang Topeng Losari menari selalu dengan mata tertutup dan tidak pernah memperdulikan penonton apakah jumlahnya banyak atau sedikit karena bagi Tari Topeng Losari menari lebih kepada berdoa untuk Tuhan, Tubuh dan Bumi.

Meski pada hakikatnya bahwa di Topeng Losari tarian lebih menggambarkan tentang penokohan dan lebih ke penjiwaan bukan tentang filosofis. Perlu diketahui bahwa di pakem Tari Topeng Losari, kotak topeng dan Nayaga dijadikan sebagai pusat atau patokan energi, sebab dalang Topeng Losari dari generasi ke generasi percaya sekali bahwa di antara gamelan ada sembilan Wali, dalang-dalang Topeng di Cirebon percaya bahwa Tari Topeng berasal dari Wali yaitu salah satunya Sunan Kalijaga, tetapi kemudian di Topeng Losari di sempurnakan oleh Raden Angka Wijaya atau Pangeran Losari.

Oleh sebab itu di Topeng Losari, Dalang Topeng atau penari selalu atau lebih banyak menghadap ke arah Kotak Topeng dan Nayaga ketika menari. Begitu juga halnya dengan penyajian Topeng Losari, di pakem Topeng Losari disela tarian selalu diselingi dengan bodoran lakon atau juga disebut dengan selingan lawak yang melibatkan beberapa Nayaga, ini berlaku dari generasi ke generasi dan pakem tersebut sampai seterusnya tidak boleh dihilangkan.

Tari Topeng gaya Losari memiliki ciri yang berbeda dengan tari topeng gaya Cirebon lainnya, baik dilihat dari latar belakang, penokohan, koreografi, tata busana, wanda kedok, musik maupun tata cara penyajian. 3 gerak yang menjadi ciri khas yang menarik dalam gaya Losari adalah gerak Galeyong, Pasang Naga Seser (kuda-kuda menyamping lebar) menyerupai sikap Kathakali di India dan sikap Gantung Kaki yang mirip sekali dengan kaki patung Dewa Shiwa sebagai Nataraja dari India yang mengharuskan penarinya memperlihatkan telapak kakinya ke samping.

TARI PANJI SUTRAWINANGUN, sering disebut juga Tari Pamindo karena lagu pengiringnya Pamindo. Di Topeng Losari, Tari Pamindo disebut juga sebagai Tari Panji. diberi nama Tari Panji karena tokoh wayangnya adalah tokohnya yang disebut Sebagai Raden Panji Sutrawinangun atau Sebagai Tokoh Wayang Samba di Cerita Topeng Losari. Tari Pamindo atau Panji Sutrawinangun menggambarkan Tentang Tokoh Raden Panji yang mempunyai karakter Lembut, dan Kharismatik.

Di topeng Losari Cirebon Panji menggambarkan sifat manusia yang baru dilahirkan, didalamnya terkandung makna kejujuran, kepolosan dan apa adanya dan kemurnian jiwa manusia yang baru menginjak bumi, digambarkan oleh warna kedok berwarna putih kekuningan. Makna “Baru Dilahirkan” disini menggambarkan sebuah filosofi tentang kesucian dan keagungan. Karakter dari tarian ini adalah Lanyap (Sedikit gagah) yang didahului oleh bagian dodoan yang halus dan hampir tidak melangkah, kedoknya berparas seorang putri cantik.

TARI RAMPAK KLANA BANDOPATI, Tari Rampak Klana Bandopati ditarikan oleh 3 orang penari. Tarian yang berkarakter kuat, gagah dan kasar sehingga membutuhkan stamina yang baik, karena jenis tariannya sangat dinamis dan lebih menitikberatkan pada penguasaan intensitas tenaga dan teknik gerak serta penjiwaan karakter. Tokoh wayangnya adalah Prabu Klana Bandopati dari cerita Jaka Buntek, kedoknya berwarna merah tua berparas raksasa Buas.

Di topeng losari, Tari Klana lebih menggambarkan tokoh seorang raja bernama Klana Bandopati, Klana Bandopati menggambarkan sifat manusia penuh angkara murka dan sombong, digambarkan dengan warna kedok merah, mata melotot, ini merupakan makna gambaran sifat manusia yang tidak baik dengan pesan moral agar sifat seperti ini jangan ditiru.

Ketiga, pertunjukan Tari Bapang dari Tedjo Dance. Menari Topeng Bapang sudah menjadi bagian training ketubuhan penyaji. Pengusaan tradisi ini semakin lama semakin membuat penyaji menyadari, bahwa masih banyak training ketubuhan yang lain, yang penyaji perlu jelajahi. “Bapang ku..?” adalah sebuah karya tari untuk mengapresiasi dan mempersembahkan tradisi sebagai penguat identitas diri. Sehingga, ketika penemuan dan pencapaian ketubuhan lain perlahan meninggalkannya, tetapi spirit Bapang akan terus menubuh dalam diri penyaji.

Tarian ini menggambarkan perjalanan tokoh bernama Bapang Jayasentika dari Kadipaten Banjarpatoman yang akan menghadap Prabu Klana Sewandanan. Bapang diungkapkan sebagai tokoh yang memiliki kepribadian yang bangga akan sanjungan, yaitu tampak pada sikap dan gerak-gerik yang membusungkan dada dan tangan yang di rentangkan, serta penggunaan tenaga pada bagian awal gerakan.

Keempat, penampilan Tari Topeng 5 Wanda dan Tari Fragmen dari Sanggar Seni Wijaya Kusuma. Sanggar Seni Wijaya Kusuma berasal dari Desa Bulak Kec. Arjawinangun,Kab. Cirebon Jawa Barat. Berdiri tahun 2005. Didirikan oleh Inu Kertapati putra yang pewaris langsung dari Maestro Topeng Cirebon ( Sujana Arja ).

Sanggar Wijaya Kusuma aktifitasnya melestarikan dan mengembangkan seni tradisi Cirebon, tari topeng khususnya. Dalam perjalanannya, telah melakukan lawatan seninya juga hingga mancanegara. Diantaranya Amerika, Inggris, Australia, Russia, Yunani, Korea, dan negara Asia lainnya.

Tari Topeng 5 Wanda adalah gambaran fase kehidupan manusia dari lahir hingga tiada. Dari halus sampai yang kasar. Tari Fragmen Jingga Anom vs Tumenggung adalah gambaran perselisihan keserakahan dan kebaikan.

Sabtu, 6 Juli 2019
Ngesti Budoyo, Gunung Kidul (Klono Sewandono Ndusto);
Anton Lambert & Wito Geerts, Belgia (Accepting Kelana);
Sanggar Handayani, Kebumen (Tari Topeng Cepetan);
Sanggar Seni Wijaya Kusuma, Cirebon (Tari Fragmen Jingga Ano vs Tumenggung); Tedjo Dances, Solo (Tari Bapang);

“Penutupan IMF 2019 yaitu menari bersama Goyang Maria Mariana,” pungkas Alif, Humas IMF 2019. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *