In Memoriam: Rachmad Wahyudi Yang Saya Kenal

Oleh: Suharno – Dosen Prodi Akuntansi dan Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.

Kabar duka menyelimuti kota Solo. Rachmad Wahyudi akuntan publik senior di kota Solo telah menghadap kehadirat Ilahi, Rabu pukul 3 dini hari. Ratusan orang bertakziah dan puluhan karangan bunga menghantarkan ke pemakaman terakhir. Dalam sekejap jagad media sosial diramaikan ucapan belasungkawa. Padahal beberapa hari ini keluarga Rachmad Wahyudi masih viral di media sosial karena menikahkan putranya Zaga dengan mas kawin yang tidak lumrah yaitu 2.300 lembar saham. Berita viral ini masih berlangsung. Tiba-tiba kita dikejutkan kabar duka beliau dipanggil Allah SWT.

Saya sebagai sahabat, merasa sangat kehilangan dengan sosoknya. Seorang profesional akuntan publik yang sangat humble. Mengapa begitu besar perhatian masyarakat terhadap Rachmad Wahyudi ? Semasa hidup beliau dekat semua elemen masyarakat dari tingkat atas sampai lapisan bawah. Dari kalangan pejabat tinggi negara, termasuk Presiden RI, Joko Widodo, sampai rakyat jelata.

Orangnya entengan bila dimintai pendapat dan diundang sebagai narasumber, baik oleh kalangan perguruan tinggi, ormas, orsospol, termasuk media. Terbuka, humoris, dan selalu rendah hati. Karena kedekatan dengan masyarakat. Tidak aneh bila nama almarhum juga sempat masuk 10 nominasi bakal calon walikota Solo 2020 yang digelar oleh Unisri pada bulan lalu.

Saya mengenal sosok beliau sejak kuliah di jurusan Akuntansi UNS. Saya angkatan 1983 dan beliau angkatan 1984. Kami adalah angkatan pertama di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UNS. Semasa kuliah beliau juga hoby bermain musik. Tergabung dalam Kaisar Band era 80-an yang sangat dikenal dengan hitnya Kerangka Langit. Sebagai anak band ada yang berbeda dengan personil band lainnya. Banyak yang tidak tahu, bahwa almarhum juga seorang qori, pembaca Al Quran yang sangat fasih dan merdu suaranya.

Sosok Rachmad Wahyudi mengawali karir dari bawah. Lulus kuliah bergabung dengan Yamaha Music selama enam tahun sebagai internal auditor. Kemudian pulang ke Solo bergabung dengan PT Sritex selama empat tahun sebagai Corporate Internal Auditor. Setelah itu merintis usaha sendiri, mendirikan Kantor Akuntan Publik (KAP) Rachamad Wahyudi, dikenal dengan sebutan RWC, hingga akhir hayat. Klien RWC beragam dari perusahaan, organisasi sosial, pemerintah,LSM, lembaga pendidikan baik yang berada di Soloraya maupun dari luar Jawa.

Daya tarik RWC adalah setiap tampil di muka umum menyampaikan ide gagasan selalu out the box. Berani tampil beda. Tidak suka formalitas. Acara mencair degan guyonan ringan yang mengalir yang terkadang juga diselingi bermain keyboard disela-sela acara. Ide gagasan yang disampaikan ke publik,mudah dipahami, karena terformat sistimatis, runtut dan membumi. Materi akuntansi dan pengelolaan keuangan yang berat bisa tersampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami semua kalangan.

Beberapa kali saya berkesempatan dengan beliau di forum seminar maupun workshop. Beliau selalu mengajak audien berfikir dengan nalar sehat, jernih dan obyektif serta tidak menggurui. Gaya ini banyak disukai oleh publik. Maka setahu saya beliau tidak memiliki lawan, karena merangkul semua kalangan.

Hargai Kearifan Lokal Walau beliau sebagai sosok akuntan publik, namun dalam hubungan sosial kemasyrakatan tetap menjunjung adat tradisi yang ada. Salah satunya saat menikahkan putranya Zaga tetap menjunjung tinggi adat dan tradisi jawa. Mulai dari acara pasang bleketepe, tuwuhan, siraman, ijab qobul dan ngunduh mantu semua prosesi dijalankan menggunakan adat Jawa. Walau menjunjung adat tradisi beliau juga mengakomodir generasi melenial. Saat putranya memiliki ide memberikan mas kawin berupa 2.300 lembar saham didukung sepenuhnya.

Pesta pernikahan pun dikombinasi adat jawa dan nasional. Prosesi ngunduh mantu diawali dengan prosesi adat jawa. Setelah selesai dilanjut dengan meghadirkan Donie pemain musik Ada band dari Jakarta. Acara balutan jawa dan modern ini berlangsung meriah.

Meninggalnya RWC sebenarnya sudah ada tanda-tanda atau firasat, khususnya yang saya tangkap. Beberapa hari saat persiapan ngunduh mantu, saya diundang di Griya RWC yang letaknya dibelakang Soto Sawah, Klodran. Saya diminta sebagai ketua panitia ngunduh mantu.Sekilas sayamelihat dan merasakan kondisi beliau kurang fit. Seminggu kemudian diagendakan acara Kumbokarnan di Rumah Makan Boga Bogi. Namun beliau tidak bisa hadir, karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan sehingga harus dirawat di Rumah Sakit Brayat Minulyo.

Saat acara siraman kondisi belum pulih. Kita sarankan agar tidak mengikuti acara sepenuhnya. Namun bersikukuh tetap ingin melaksanakan rangkaian acara. Apapun kondisinya. Kondisi itu berlanjut malam hari saat calon temanten diantar mindodareni ke pihak perempuan, beliau tetap nguntapke dari Griya RW. Berlanjut pagi harinya saat ijab qobul, malam hari resepsi pernikahan di tempat temanten putri, sampai hari H ngunduh temanten. Beliau tetap hadir walaupun harus duduk di kursi roda menyambut kedatangan para tamu. Bahkan sempat nyanyi bareng dengan Donie Ada Band.

Disela-sela acara beliau memberikan ucapan secara langsung kepada tamu undangan. Mohon maaf atas segala kesalahan, karena tidak bisa menjamu dan menemui dengan baik. Serta memberikan doa restu untuk ananda yang sedang di pelaminan.

Hal yang sampai saat ini saya masih belum bisa melupakan saat acara adat dulangan . Pinisepuh yang mengatur acara berkata “ Ini dulangan yang terakhir untuk mas Zaga “, secara spontan saya menyeletuk “ Lho kok yang terakhir… “ ada perasaan was-was yang saya rasakan namun tidak bisa diungkapkan lebih jauh. Barulah tadi pagi dini hari jam 3.00 saya mendapat wa dari Zaga yang mengabarkan beliau sudah kembali keharibaan Allah SWT.

Seketika saya tercekam membaca wa. Inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Kita kehilangan sosok akuntan yang telah mematahkan mitos akuntan itu kesannya angkuh dan menakutkan. Sosok RWC mampu menghilangkan kesan itu. RWC sering memberikan masukkan terhadap pengelolaan keuangan untuk pemerintah daerah di Soloraya. Kritiknya sangat membangun dan tidak menyakiti, namun konstruktif. Selamat jalan sahabat, pintu Surga insya allah menantimu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: