Tim PKMs USB Dampingi Pembuatan Jamu Instan Salam di Boyolali

JATENGONLINE, SOLO – Salam merupakan salah satu tanaman yang telah banyak dikenal oleh masyarakat. Daun dari tanaman ini biasanya dimanfaatkan sebagai salah satu bumbu dapur yaitu penyedap karena daun salam memiliki aroma khas yang bisa menambah kelezatan masakan.

Daun salam saat ini sudah dimanfaatkan oleh beberapa pengusaha jamu tradisional menjadi salah satu bahan pembuatan jamu untuk meredakan gejala asam urat, kolesterol dan hipertensi. Salah satu pengusaha jamu instan yang memanfaatkan daun salam adalah kelompok produsen jamu daun salam “Pawon Herbalku” yang ada di Donohudan, Ngemplak Boyolali.

Kelompok produsen jamu daun salam “Pawon Herbalku” menjadi mitra dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKMs) yang didampingi oleh Tim (PKMs) Universitas Setia Budi Surakarta (USB).

Kegiatan pendampingan ini merupakan wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dari Dosen Fakultas Farmasi USB dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang didanai oleh Kemenristek Dikti.

Dalam proses produksinya, peralatan yang digunakan oleh kelompok produsen jamu tersebut masih sangat sederhana dan pengerjaan produksinya hampir semua dilakukan secara manual.

Proses pengeringan daun salam masih mengandalkan sinar matahari, proses penghalusan masih dengan blender biasa, proses penguapan air ekstrak daun salam masih menggunakan panci biasa, sampai ke proses pengemasan menggunakan plastik yang ditutup dengan cara di bakar menggunakan api dari lilin.

Padahal peluang produk jamu instan daun salam ini sangat tinggi untuk dipasarkan, karena selama ini belum ada produk di pasaran dari bahan daun salam dalam bentuk sediaan instan yang memiliki khasiat dari daun salam sangat besar

Dalam kegiatan ini Tim PKMs yang diketuai oleh Hery Muhamad Ansory, dengan anggota Fitri Kurniasari dan Nila Darmayanti melakukan penyuluhan dan pelatihan mengenai Good Manufacturing Practice (GMP) serta cara bagaimana menghasilkan produk yang baik dan higienis.

Untuk membantu kelompok produsen jamu, tim juga menyerahkan alat press jamu instan daun salam dan mesin evaporator kristalisasi, agar proses karamelisasi/kristalisasi jamu instan daun salam akan menjadi lebih cepat dan akan menghasilkan produk yang lebih tercampur rata dan memiliki kristal yang baik.

Tim juga menyerahkan perlengkapan Good Manufacturing Practice (GMP), mesin ekstraktor dan mesin kristalisator untuk mempermudah dan menjaga kualitas proses pembuatan jamu instan daun salam.

Kegiatan yang dilakukan selama empat bulan ini diharapkan dapat tambahan IPTEK kepada mitra agar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk jamu instan daun salam yang berdaya jual tinggi.

Karena pemanfaatan daun salam untuk mencegah penyakit degeneratif menjadi bentuk jamu modern yang praktis penggunaannya memiliki peluang yang cukup tinggi dan selama ini belum ada di pasaran. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *