Cinta Tanah Air ! ‘Modal’ Membangun NKRI

Dialog Publik Membangun NKRI Tanpa Radikalisme, Separatisme dan Rasisme

JATENGONLINE, SOLO Omah Ijo Lintas Kultural yang merupakan Media Sosialisasi Lembaga Kajian Lintas Kultural menggelar Dialog Publik “Membangun Persatuan Tanpa Radikalisme, Separatisme dan Rasisme”, Jumat (20/9/2019), meeting room Baron Indah Hotel Laweyan, Surakarta.

Menghadirkan Narasumber Pdt. Teri Iba. S. Th – Koordinator Mahasiswa Papua di Soloraya, H. Muhamad Mashuri, SE. MSi – Ketua PCNU Kota Surakarta, Awod Umar SH Eks Ketua Brigade Hizbullah Surakarta dan Drs. Tamso, MM – Asisten Wali Kota Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kota Surakarta.

Dialog kebangsaan yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai latar belakang ini berlangsung dengan lancar, mereka responsif dan aktif menyampaikan aspirasi dan pandangan mereka tentang persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana yang di sampaikan oleh para nara sumber.

Pdt. Teri Iba. S. Th, Koordinator Mahasiswa Papua di Soloraya, menyampaikan bahwa hidup di tanah rantau, apalagi di wilayah Solo Raya, maka sebagai orang rantau dari Papua dan sekitarnya, wajib untuk saling menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi nilai – nilai lokal yang berlaku dan berkembang di masyarakat tempat tinggal

“Mengedepankan prinsip kebersamaan dan saling berdiskusi untuk menyikapi segala berita dan kondisi yang ada, baik skala lokal regional di wilayah Solo Raya tempat merantau ataupun skala nasional, karena sangat seringnya dan aktifnya kegiatan – kegiatan yang dilakukan elemen masyarakat Solo ini baik langsung maupun via media sosial secara online,” paparnya.

H. Muhamad Mashuri, SE. MSi, Ketua PCNU Kota Surakarta memaparkan, bahwa Nahdalatul Ulama berdiri untuk menjaga Bhineka Tunggal Ika dalam beragama, yakni meskipun berbeda keyakinan dan mazhab tetapi tetap satu kesatuan, satu bangsa yaitu bangsa Indonesia

NU adalah yang pertama kali mereinkarnasi Lagu Yalal Wathon, melalui putra terbaiknya karangan KH.Wahab Hasbullah, dari yang sebelumnya masih asing ditelinga, bahkan pengurus NU sekalipun saat ini menjadi Jargon yang tak terpisahkan dari NU Hubbul Wathon minal Iman, Cinta tanah air adalah sebagian dari Iman.

“Peran Nahdlatul Ulama melalui pekikan semangat para Banser yang dengan lantang meneriakkan “NKRI harga mati!” seolah menjadi pembakar semangat untuk selalu mencintai dan mempertahankan Keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Awod Umar, SH., Eks Ketua Brigade Hizbullah Surakarta menjelaskan, dalam fakta sejarah peran aktivis – aktivis Islam untuk turut serta mendirikan bangsa serta andil dalam menjaga keutuhan serta kedaulatan bangsa dan negara Indonesia ini sudah tidak dapat dipungkiri lagi, sebut saja KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan KH Hasyim Asyari pendiri NU

“Dalam dinamika dan kemajemukan masyarakat muslim di Indonesia, dari sisi pendidikan pesantren dan lembaga pendidikan islam yang ada sudah dipercayakan kepada pelaku – pelaku yang terlibat disana seperti para ustadz, kyai, dan guru – guru yang ada,” papar Awod

Namun demikian, lanjutnya, perihal aktifitas diluar kedua hal itu, yaitu ketika terjun dimasyarakat langsung maka perlu dilakukan kontrol yang berkelanjutan dan terus menerus apakah ini murni dari kemauan aktivis islam yang sejatinya akan selalu membangun kedaulatan Indonesia atau dari oknum yang mengatasnamakan ummat islam yang justru membayakan dan merongrong kedaulatan NKRI

Sementara, isu tentang rasisme yang terjadi dihari lalu, seharusnya menjadikan pelajaran dan koreksi atas hubungan antara elemen ummat islam sendiri dan hubungan elemen islam dengan masyarakat. Bagaimana mungkin, ummat islam yang pada kasus kemarin justru menjadi dalang api penyulut rasisme yang terjadi di beberapa titik di wilayah Indonesia. Hal itu membuktikan bahwa ada oknum – oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan ummat islam untuk memecah belah ummat dan memecah belah bangsa dan persatuan kesatuan Indonesia

Drs. Tamso, MM, Asisten Wali Kota Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kota Surakarta, bahwa pemerintah berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang terbaik serta senyaman mungkin bagi warga masyarakat yang ada di wilayah Surakarta, baik itu warga asli ataupun para pendatang

“Isue nasional tentang kasus separatisme, radikalisme, dan rasisme secara khusus yang sempat menjadi pembicaraan nasional beberapa hari ini, untuk wilayah Surakarta cenderung aman dan kondusif tidak terjadi hal – hal semacam itu, karena respon cepat seluruh elemen pemerintah ataupun pihak terkait dengan mengedapankan prinsip musyawarah dan diskusi tadi sehingga di wilayah Surakarta tidak ada dan tidak terjadi kasus – kasus rasisme yang sedang hangat diperbincangkan,” terangnya.

Prinsip terbuka dengan masyarakat juga merupakan hal yang menjadi kunci untuk membangun keselarasan di wilayah Surakarta yang notabene sangat heterogen lapisan dan elemen masyarakatnya, dan pelayanan yang baik serta santun dengan masyarakat mampu menepis isu – isu nasional yang terjadi. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *