AREBI Jateng Kini Miliki Anggota 43 Perusahaan Agen Properti

Susanto Liem Ketua DPD AREBI Jawa Tengah

JATENGONLINE, SOLO – Semakin bertumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan jasa pemenuhan kebutuhan properti, jumlah anggota Asosiasi Realestat Broker Indonesia (AREBI) di wilayah Jawa Tengah terus mengalami peningkatan.

Seperti diketahui kebutuhan properti merupakan kebutuhan yang mendasar dari setiap manusia dan tetap menjadi suatu industri usaha yang terus di butuhkan setiap kalangan masyarakat.

Sehingga membuat pelaku usaha di industri jasa perantara properti bergandengan tangan erat untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan kepada kastamer untuk semakin professional dan bersertifikasi dalam wadah AREBI.

Jumlah anggota DPD AREBI Jawa Tengah, diawal tahun 2016 baru berjumlah 9 kantor agen properti, kini mendekati akhir tahun 2019 total kantor properti agen yang bergabung ada 43 dengan 2 DPC (Dewan Pimpinan Cabang) yakni Solo dan Semarang, dengan jumlah broker di kisaran 600 orang.

“DPD AREBI Jawa Tengah segera meresmikan DPC AREBI Purwokerto, dimana didaerah ini tingkat pertumbuhan pasar properti signifikan tumbuh membaik,” kata Ketua DPD AREBI Jawa Tengah, Susanto Liem, di kantornya. Jumat (22/11/2019)

Kami optimis, lanjut Susanto, bahwa Broker Properti semakin dibutuhkan dan diakui keberadaannya oleh Developer dan banyak masyarakat.

DPD AREBI Jawa Tengah berkomitmen memberikan dukungan lebih kepada para anggota dalam bentuk konsultasi legal, training & seminar properti, peluang network maupun kesempatan memasarkan primary project bersama-sama .

Agen Properti Minim Sertifikasi
Izin dan sertifikasi anggota AREBI masih minim, hanya kisaran 40-45 %, perusahaan agen penjual properti atau broker anggota Asosiasi Realestat Broker Indonesia (AREBI) yang sudah mengantongi Surat Izin Usaha Perusahaan Perantara Perdagangan Properti (SIU-P4)

Diakui Susanto, masih adanya anggota AREBI yang belum memiliki sertifikat atau lisensi, baik yang dikeluarkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Broker Properti atau SIU-P4 kendati telah diperingati berulang kali.

“Kami terus melakukan sosialisasi pentingnya kepemilikan SIU-P4, ke depannya kami berharap seluruh anggota AREBI di Jawa Tengah khususnya sudah memiliki sertifikat,” ujarnya.

Sebagai informasi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaui Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga telah beberapa kali melakukan penyidakan terhadap broker properti nakal.

Sesuai dengan UU nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan usaha tanpa izin, broker yang tidak memiliki izin usaha dapat dikenakan sanksi hukuman pidana selama 4 tahun atau denda sebesar Rp10 miliar.

Namun, demikian peraturan SIU-P4 yang menyatakan setiap perusahan harus memiliki minimal 2 agen tersertifikasi dalam satu perusahaan dinilai masih belum cukup.

Sejatinya, pemberlakuan aturan tersebut untuk menjaga kepercayaan konsumen terhadap broker properti dan melindunginya dari perdagangan yang tidak bertanggung jawab. Paling tidak standarnya supaya bisa menjaga kepercayaan konsumen, karena ketika ada celah sedikit satu atau dua oknum yang terkena masalah, semua akan ikut terkena dampaknya.

“Kami meminta pemerintah lebih berperan dengan membuat regulasi untuk broker agar bisa tersertifikasi semua dan transparansi transaksi jual beli dapat diciptakan dengan melalui broker yang legal,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Broker Properti Indonesia Yamanah mengatakan hingga kini terdapat 1.300 agen broker properti yang telah memiliki sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh LSP.

Hanya 400 dari total sekitar 1.000 perusahaan agen penjual properti atau broker anggota Asosiasi Realestat Broker Indonesia (AREBI) yang sudah mengantongi Surat Izin Usaha Perusahaan Perantara Perdagangan Properti (SIU-P4). (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *