Beginilah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Di SMPN 8 Surakarta

Kepala Sekolah Triad Suparman, M.Pd. menjadi Pembina Upacara
JATENGONLINE, SOLO – Penguatan Pendidikan Karakter ( PPK ) merupakan kebijakan pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk mengimplementasikan Nawacita Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla dalam sistem pendidikan nasional.

Kebijakan PPK ini terintegrasi dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental ( GNRM ). Yang artinya adalah perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak menjadi lebih baik. Nilai –nilai utama PPK adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, integritas ( rena digotongin istilah penulis).


Di SMP Negeri 8 Surakarta yang dipimpin oleh Triad Suparman,M.Pd. bahwa nilai-nilai ini akan ditanamkan dan dipraktikkan melalui sistem pendidikan nasional agar diketahui, dipahami dan diterapkan di seluruh sendi kehidupan di sekolah dan di masyarakat. Hal ini juga dituntut agar lembaga pendidikan untuk mempersiapkan siswa secara keilmuan dan kepribadian berupa individu-individu yang kokoh dalam nilai-nilai moral, spiritual dan keilmuan.

Mendengarkan materi yang diberikan oleh guru

Lahirnya PPK ini karena kesadaran akan tantangan ke depan yang semakin kompleks dan tidak pasti, namun sekaligus melihat ada banyak harapan bagi masa depan bangsa. Memahami latar belakang , urgensi dan konsep dasar PPK menjadi sangat penting bagi Kepala Sekolah agar dapat menerapkan sesuai dengan konteks pendidikan di SMP Negeri 8 Surakarta.

Nilai-nilai religius yang dilakukan oleh SMP Negeri 8 Surakarta antara lain, setiap hari yang beragama Islam mengadakan tadarus Al Qur’an, Sholat Dhuha pada istirahat pertama, sholat Dhuhur istirahat ke 2 (kultum) dan sholat Ashar istirahat ke 3 ( setelah sholat siswa pulang ).

Memang sengaja diberlakukan seperti ini karena untuk mengantisipasi agar anak tetap rutin menjalankan sholat berjamaah. Belum tentu kalau pulang sebelum sholat Ashar, siswa melakukan sholat di rumah. Sholat Jumat setiap hari Jumat, mengumpulkan infaq, pengajian bersama setiap akhir semester, manasik haji, peringatan hari besar Islam, baksos, seni baca Al Qur’an, lomba keagamaan antar kelas, mengumpulkan zakat fitrah dan buka bersama, pelatihan kader Rois. Sedangkan yang beragama Kristen dan Katolik misa / ibadat bersama, persekutuan doa, paskah dan baksos, Natal bersama.

Nilai-nilai nasionalis yaitu upacara bendera, upacara hari besar, sosialisasi tata tertib, peningkatan K7, Pramuka, melakukan kegiatan operasi tata tertib sekolah, TOTBN, Lomba TUB dan PBB, Outing class, kegiatan PMR, pengenalan lingkungan sekolah setelah PPDB, pemilihan pengurus OSIS, penyusunan program, latihan kepemimpinan.

Nilai- nilai yang ada dalam mandiri yaitu pramuka, melaksanakan tatib, melaksanakan ibadah, penggalangan dana untuk sosial, mengerjakan soal tanpa bantuan orang lain, pengambilan sampah, membersihkan ruangan, piket kelas, berprestasi, kegiatan PMR, bertanya kepada guru, mandiri dalam melakukan perbuatan baik, mandiri dalam menghadapi masalah, mandiri untuk berjanji agar tidak mengulangi pelanggaran tatib.

Nilai- nilai yang ada termasuk dalam gotong royong adalah pemeliharaan taman, pralenan, peningkatan 7 K, menolong teman yang sakit, melaksanakan bakti sosial, sumbangan bencana alam, kunjungan ke panti asuhan / ziarah, pengambilan sampah, mengadakan kegiatan pentas seni dan pelepasan, membersihkan ruang kelas dan lingkungan, pengadaan rak buku di tiap kelas, menghias kelas, mading kelas, belajar kelompok, membersihkan tempat ibadah, membersihkan toilet sekolah, mengumpulkan dan membuang sampah, gerakan pungut sampah ( GPS ) diluar lingkungan sekolah, membagi jadwal piket, menghapus tulisan di papan tulis, merawat tanaman dan mencabut rumput, menyiram, memperindah lingkungan sekolah.

Nilai-nilai yang termasuk dalam integrasi antara lain terdiri dari kejujuran ( mengerjakan soal / PR / tugas sesuai dengan kemampuan sendiri, bila membeli harus dibayar sesuai dengan harga yang harus dibayarkan, mengembalikan buku perpustakaan sesuai dengan yang dipinjam, mengatakan / membicarakan orang lain sesuai kenyataan / kebenaran, mengembalikan buku literasi sesuai dengan tempatnya, berbicara jujur denga guru ataupun teman-temannya )

Mengumpulkan sampah dan membuangnya.

Nilai integrasi tentang kesantunan antara lain berjabat tangan di pintu gerbang. Di luar kelas sebelum masuk dan sesudah pulang sekolah. Mengetuk pintu sebelum masuk ruangan, minta ijin kalau meninggalkan kelas / sekolah. Menghormati yang lebih tua, menghargai sesama, menyayangi yang lebih muuda,menerapkan S5 ( salam, sapa, senyum, sopan, santun ), menerima sesuatu dengan tangan kanan, tidak berkata kotor, kasar dan takabur, tidak berbicara keras ketika KBM ( kegiatan belajar mengajar ), mendengarkan dan memperhatikan guru ketika KBM.

Nilai integrasi tentang keteladanan antara lain hadir lebih awal / tepat waktu di sekolah. Sopan dalam berbicara, menggunakan medsos secara bijak, menghormati guru dan karyawan dan segenap warga sekolah. Mematuhi peraturan yang dibuat oleh sekolah, menerapkan program 5S, saling membantu antar teman di sekolah. Memiliki sikap dan tingkah laku yang baik dan menjadi contoh bagi yang lain. Seragam lengkap sesuai tatib. Selalu mendengarkan materi yang disampaikan oleh bapak dan ibu guru. Diidolakan oleh teman sekolah, berperilaku sopan santun kepada guru, tidak pernah mencontek, selalu mengerjakan tugas / PR.

Nilai integritas tentang cinta kepada kebenaran yaitu melaporkan kejadian yang mengganggu keamanan lingkungan sekolah. Melaporkan bila menemukan sesuatu barang milik orang lain. Berani menegur teman yang salah dan tidak membela teman yang salah.

Semoga dengan penguatan pendidikan karakter yang dilakukan oleh SMP Negeri 8 Surakarta yang dipimpin oleh Triad Suparman, M.Pd. ini bisa mencapai tujuan PPK antara lain membangun dan membekali siswa sebagai generasi emas Indonesia yahun 2045 guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan disertai kemampuan dalam aspek literasi dasar dan kompetensi abad 21.

Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia. Merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi ekosistem pendidikan. (*)

(*) Ditulis Sri Suprapti, Sie Publikasi SMP Negeri 8 Surakarta



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *