Filosofi Hidup Tembang Macapat

ilustrasi

JATENGONLINE – Filosofi adalah disiplin ilmu yang berfokus pada pencarian dasar-dasar sertapenjelasan yang nyata ( Chinn & Krammer : 1991 ). Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) pengertian filosofi adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan menggunakan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab adanya sesuatu, asal adanya sesuatu dan hukumnya.

Dalam filosofi kita akan mempelajari hakikat segala sesuatu dengan logika, akal dan rasa. Dalam memepelajari filsafat dibutuhkan logika yang baik yaitu kemampuan bernalar dan berfikir secara lurus, tepat dan teratur.

Tembang Macapat merupakan salah satu kelompok tembang yang sampai saat ini masih diuri-uri ( dilestarikan ) oleh orang Jawa. Ada sebelas tembang dalam macapat, masing-masing memiliki karakter dan ciri yang berbeda, memiliki wataknya sendiri, dan memiliki aturan-aturan penulisan khusus dalam membuatnya.

Aturan khusus tersebut biasa disebut sebagai wewaton ( guru / patokan ). Dalam macapat terdapat 3 guru yakni guru gatra ( banyaknya jumlah baris dalam satu bait ), guru wilangan ( banyaknya suku kata dalam setiap baris ) dan guru lagu ( jatuhnya suara vokal dalam setiap baris / dhong-dhing ).

Dalam perkembangannya tembang Macapat mengalami perbedaan tafsir. Meski terdapat banyak perbedaan tafsir macapat, namun pada aturan-aturan baku tetap sama. Guru gatra, guru wilangan dan guru lagu semua tetap menggunakan patokan yang sama. Tembang Macapat diyakini sebagian besar orang Jawa sebagai kelompok tembang yang memiliki makna proses hidup manusia, proses dimana Tuhan memberikan ruh-Nya, hingga manusia tersebut kembali kepada-Nya. Sifat-sifat manusia sejak lahir hingga kematiannya digambarkan dengan runtut dalam sebelas tembang macapat.

Adapun sebelas tembang macapat itu antara lain : (1) Maskumambang menjadi pertanda dimulainya kehidupan manusia di sunia . Tembang Maskumambang ini member gambaran tentang janin dalam kandungan ibu ketika sedang hamil. Arti dari pada Maskumambang sendiri banyak yang memaknai sebagai emas yang terapung ( emas kumambang ).

(2) Mijil merupakan kehadiran di dunia ini yang digambarkan oleh tembang Macapat yaitu tembang Mijil yang artinya sama dengan wijil yaitu keluar dari perut ibu.

(3) Kinanthi, dalam filosofi tembang Kinanthi ini adalah masa di mana seseorang anak sedang dibimbing dan diarahkan oleh orang tuanya supaya dapat menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.

(4) Sinom berasal dari kata enom yang artinya muda, masa muda ini digunakan untuk menuntut ilmu, mencari teman dan mencari jati diri.

(5) Asmarandana menggambarkan gejolak asmara di kehidupan manusia. Masa ini dimulai saat manusia mulai ada ketertarikan dengan lawan jenis yaitu saat remaja.

Selanjutnya (6) Gambuh dapat diartikan jumbuh yaitu cocok atau sepaham, menggambarkan babak baru dalam kehidupan manusia yaitu manusia masa-masa pernikahan.

(7) Dhandhanggula menggambarkan proses suka duka dalam berumah tangga yang harus dilewati bersama-sama mulai mapan dalam berkeluarga dan dapat mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga.

(8) Durma berasal dari kata derma yang artinya member rejeki kepada orang lain. Saat segala kebutuhan sudah tercukupi dan sudah tidak ada kekurangan apapun. Manusia mulai memikirkan untuk berbagi rejeki kepada orang lain. Namun tak jarang setelah merasa cukup dia malah bersikap sombong dan angkuh.

(9) Pangkur berasal dari kata mungkur ( mundur / mungkur ), manusia mulai mundur dari nafsu duniawi dan mulai memikirkan kehidupan setelah meninggal nanti. Setelah semua kebutuhan di dunia terpenuhi giliran manusia mencari bekal untuk kehidupan yang abadi kelak.

(10) Megatruh adalah tembang Macapat yang menggambarkan manusia saat sakaratul maut. Megat berarti berpisah, ruh artinya nyawa. Berpisah antara jiwa raga dan kembali ke asalnya.

(11) Pocung, badan yang telah ditinggalkan oleh ruhnya kemudian disucikan sebelum dikembalikan ke tanah. Jasat kemudian dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan disebut pocong. Tembang Macapat Pocung adalah tembung yang mengingatkan kita akan kematian.Tembang ini menjadi yang terakhir dari sebelas tembang macapat.

Tembang Macapat bisa digunakan sarana sebagai tuntunan atau pelajaran kepada masyarakat karena isinya memang penuh dengan nasehat ( piwulang ) dan petuah ( pitutur ) yang baik. Tembang Macapat sendiri bisa menjadi salah satu cara yang bisa dijadikan untuk membangun karakter manusia mulai dari lahir sampai meninggal. Setiap tembang petuah yang sangat berguna bagi siapa saja yang mau membaca.

Isi petuahnya antara lain : 1) Pupuh Dhandhanggula isinya bab cara memilih guru; 2) Pupuh Kinanthi isinya cara memilih teman ; 3) Pupuh Gambuh merupakan larangan mempunyai watak adigang, adigung, adiguna ; 4) Pupuh Pangkur berisi tata krama, membedakan baik dan buruk, serta cara memandang watak manusia; 5) Pupuh Maskumambang isi cara menghormati;

Selanjutnya 6) Pupuh Durma berisi cara mengendalikan hawa nafsu; 7) Pupuh Pocung isi cara menyambung silaturahmi ( kekeluargaan ); 8) Pupuh Mijil berisi cara kita berpasrah diri kepada Tuhan dan rasa syukur; 9) Pupuh Asmaradana berisi cara melakukan ajaran agama; 10)Pupuh Sinom isinya masalah yang paling mendasar tentang berperilaku; 11)Pupuh Megatruh atau megat roh berarti mengisahkan tentang kematian manusia.

Apabila masyarakat bisa menilai baik dan buruk serta mampu mengapresiasi tembang Macapat yang sangat berarti itu, mereka bisa meniru atau meneladani ajaran / piwulangnya. Sebetulnya kalau masih mau meniru pelajaran yang ada dalam tembang Macapat itu sejak dulu hingga sekarang masih pantas / sesuai.

Selain untuk siswa, para muda, keluarga dan masyarakat umum juga masih sesuai. Filsafat dan ajaran tersebut sangat bermanfaat bagi manusia di dalam dunia ini. Begitu adiluhungnya tembang Macapat ini sehingga sangat perlu untuk dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Sri Suprapti, Guru SMP Negeri 8 Surakarta, No. HP ; 081329405977

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *