Pariwisata, Hotel Dan Pandemi Global 2020

JATENGONLINE – Seperti kita ketahui bersama saat ini, dunia sedang menghadapi sebuah perang. Namun, perang ini bukanlah perang fisik seperti Perang Dunia I maupun II. Perang ini adalah perang terhadap sebuah wabah virus yang tersebar begitu cepat dan mematikan bagi manusia, yaitu virus corona atau disingkat dengan nama COVID-19. Virus ini merupakan virus yang menyerang system pernafasan manusia dan berujung kematian.

Adapun asal-usul virus ini masih menjadi perdebatan dikalangan ilmuwan maupun tokoh publik dunia, namun pastinya virus ini mulai menyerang manusia pertama kalinya di daerah Provinsi Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok dan hanya dalam hitungan bulan telah menyebar di ratusan negara dan menjangkiti ratusan ribu orang.

Bahkan, World Health Organization (WHO) mengumkan bahwa COVID-19 sebagai Pandemi global, yaitu satu wabah penyakit yang menyebar dan menular melampaui batas diseluruh dunia. Berdasarkan data yang saya kutip melalui laman Worldometers pada update terbaru pada 17 Maret 2020 bahwa kasus COVID-19 mencapai jumlah 197.159 orang dengan jumlah kematian mencapai 7.949 orang dan Alhamdulillah yang dinyatakan sembuh sebanyak 81.683 orang. Tentunya optimisme untuk mengakhiri penyebaran virus ini selalu digaungkan oleh setiap warga negara dibelahan dunia lainnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia yang notabene di awal-awal penyebaran penyakit ini yang telah terjangkit di beberapa negara digadang-gadang tidak sampai ke masuk ke wilayah Indonesia, namun akhirnya pada 02 Maret 2020 diumumkan secara resmi oleh Presiden Jokowi bahwa terdapat 2 orang orang warga negara Indonesia yang positif Virus Corona. Tentu saja hal ini, membuat panik dan tanggapan beragam bagi sebagian besar penduduk wilayah di Indonesia, khususnya yang berdomisili di kota-kota besar, seperti Jakarta.

Apalagi domisili 2 warga tersebut berada di sekitaran Jabodetabek. Dengan adanya kebijakan Pemerintah Pusat untuk menolak akses masuk dan keluarnya WNI maupun WNA dari beberapa negara seperti China dan Italia serta pembentukan Satgas terpadu di Pusat maupun Daerah, namun hal ini belum cukup untuk menekan penyebaran virusserta kekhawatiran penduduk yang berdomisili di Jabodetabek dan juga penduduk kota-kotalainnya di Indonesia, seperti Solo dan sekitarnya. Mengingat arus mobilitas kota-kota di pulau Jawa yang begitu tinggi dengan domisili jumlah penduduk yang hampir 60% lebih dari total jumlah penduduk Indonesia di wilayah lainnya.

Belum lagi, kekhawatiran penduduk daerah lainnya di luar pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Dengan mengikuti perkembangan berita COVID-19 ini setiap harinya, saya melihat penduduk Indonesia yang terjangkit makin meningkat drastis. Apalagi info yang cukup mengagetkan, yaitu adanya 1 orang penduduk domisili Solo yang positif terserang COVID-19 ini.

Syukurnya, ada tindakan cepat yang diambil oleh Walikota Solo sebagai respon atas kasusini walaupun baru 1 orang saja yang positif terinfeksi dengan berbagai kebijakan, yaitu meliburkan sekolah selama 2 minggu hingga akhir Maret 2020, tidak mengadakan kegiatan yang mengumpulkan orang banyak, menutup sementara tempat wisata, hingga larangan untuk salam dan cipika-cipiki sementara waktu. Tindakan ini pun turut mempengaruhi berbagai daerah diwilayah Indonesia untuk melakukan tindakan yang sama sebagai antisipasi untuk mencegah penyebaran virus yang semakin besar dan memperburuk keadaan.

Namun dibalik itu semua, ada dampak nyata yang dirasakan oleh semua pihak, salah satunya pihak yang memiliki usaha pariwisata dan perhotelan. Kenapa? Hingga saat ini, Pariwisata merupakan salah satu primadona yang sedang dibangun dan dikembangkan oleh pemerintah guna meningkatkan pemasukan kas bagi negara maupun daerah.

Namun, dengan adanya kebijakan untuk menutup sementara tempat-tempat wisata menimbulkan kerugian bagi pengusaha wisata maupun perhotelan. Mengapa? Income atau pemasukan usaha tersebut merosot tajam, dari yang biasanya selalu surplus sekarang harus defisit. Banyaknya para tamu domestik maupun internasional yang semula sudah memesan kamar untuk menginap dan berwisata, dibatalkan. Ditambah lagi biaya perawatan dan upah karyawan yang harus bayarkan setiap bulannya.

Tentunya permasalahan ini juga wajib menjadi perhatian pemerintah. Menurut saya,ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah, yaitu: (1) Pemerintah harus bisa duduk bersama dengan para pengusaha pariwisata dan perhotelan untuk membahas masalah ini, (2) Dengarkan dan berikanlah solusi agar para pengusaha pariwisata dan perhotelan bisa optimis dimasa-masa seperti ini, karena merekalah ujung tombak dalam kemajuan sebuah kota dengan wisata yang terkenal baik domestik maupun internasional, dan (3) Harus ada insentif khusus,seperti bantuan dana sementara atau bantuan lainnya agar usaha ini tetap survive dan tidak sampai mengalami kebangkrutan. Mengingat biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan usaha ini tidak sedikit dan perlu waktu untuk membangun reputasinya menjadi bagus dan terkenal hingga saat ini, dan (4) harus ada jaminan dari otoritas kesehatan bahwa usaha wisata dan hotel bebas dari ancaman virus COVID-19.

Selain itu, perlu adanya sikap dan tindakan kolektif yang diambil oleh para pengusaha pariwisata dna perhotelan melalui induk organisasinya untuk mengatasi dan memberi rekomendasi kepada pemerintah terkait permasalahan ini, sebagai langkah antisipasi awal.

Menurut saya, ada 3 hal yang bisa direkomendasikan (1) sinergitas antar pengusaha wisata dan hotel untuk terus diperkuat, (2) merekomendasikan strategi alternatif dan solutif agar usaha initetap berjalan dengan pemasukan yang tetap stabil, seperti pemberian diskon atau kegiatan yang menarik dengan tetap mengutamakan jaminan kesehatan individu yag terlibat, dan (3) selalu berkoordinasi dengan pemerintah setempat agar usaha wisata dan hotel ini tetap menjadi perhatian khusus, mengingat ada kebutuhan hidup juga yang harus diperjuangkan.

Memang kita akui bahwa virus COVID-19 ini sebagai pandemic global yang tak mungkin bisa dihindari, tetapi seyogyanya kita bersama-sama memikirkan solusi terbaik, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Mari kita lupakan sejenak hal-hal yang bersifat egoisme semata, kita harus yakin dan optimis bahwa kita bisa melewati masa-masa kritis ini dan memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19 dengan baik. Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh. Semoga bermanfaat! (*)

*) Dr. Purwanto Yudhonagoro, S.E, M.Par., CHA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!