“Ngundhuh Wohing Pakarti” Ingatkan Manusia Berani Bertindak, Berani Bertanggung Jawab

Ngundhuh wohing pakarti artinya memetik buah akibat perbuatan. Bagaimanapun juga perbuatan baik maupun buruk semua akan mendapat balasan. Oleh karena itu kita sebagai manusia haruslah berlaku baik terhadap sesame dan terhadap alam semesta.

Perlu diketahui bahwa dalam kebudayaan Jawa, hukum timbal balik (sering disebut ngundhuh wohing pakarti) sangatlah nyata, bahkan tanpa harus menunggu lama. Tidak berbeda jauh dengan pepatah Jawa “sapa sing nandur bakale ngundhuh” artinya siapa yang menabur maka dialah yang akan menuai.

Dalam bahasa lain balasan ini juga dikenal dengan istilah “karma’. Perbuatan yang baik akan menyelamatkan dirinya sendiri dan orang lain. Sedangkan perbuatan buruk akan merugikan dirinya sendiri.

Ngundhuh wohing pakarti menunjukkan pada tindakan manusia yang sengaja dilakukan untuk kehidupannya dan kelak membuahkan sesuatu ( hasil ). Oleh karena itu manusia tidak boleh asal berbuat, sebab apapun yang dilakukan pastilah akan berdampak, akan menghasilkan sesuatu atau bisa menyebabkan terjadinya suatu peristiwa. Itulah yang dinamakan dengan buah dari perbuatan.

Perlu diketahui bahwa buah tidak akan hadir dengan serta merta, melainkan sebagai produk ( hasil ) dari proses panjang yang senantiasa membutuhkan ketelatenan, kesungguhan maupun kehati-hatian dalam penanganannya. Oleh karena itu bertanamlah kebaikan ( nandura kabecikan ), berbuat baiklah karena menanam kebaikan atau perbuatan baik akan menghadirkan buah yang tentu saja baik pula.

Ngundhuh wohing pakarti secara lebih jauh mengajarkan kepada kita bahwa jika kita melakukan perbuatan yang tidak baik, maka dikemudian hari kitapun akan mendapatkan sesuatu yang tidak baik. Entah itu datangnya atau bagaimanapun caranya. Sejak kecil orang tua selalu mengajarkan anak-anaknya bagaimana “aturan main” dalam menjalin hubungan baik dengan sesame manusia misalnya dengan saudara, teman dan tetangga.

Penulis sendiri sejak kecil sudah ditanamkan oleh orang tu, hal-hal yang sederhana tersebut. Teringat juga pesan orang tua yang dulu selalu mengatakan “jangan membalas perlakuan nakal temanmu, kalau kamu membalas berarti kamu sama nakalnya dengan dia”.

Kenakalan masa kecil tidak bisa disamakan dengan kenakalan saat beranjak dewasa. Kadar kenakalannyapun sudah berbeda. Tetapi misal, mengkhianati kebaikan hati orang lain, memfitnah, menyebarkan berita buruk, seburuk-buruknya untuk menjatuhkan teman, cari muka dengan menyikut teman, terlihat paling menonjol dengan cara-cara licik, ini bukan kenakalan. Ini adalah perbuatan curang yang mengindikasikan bahwa orang tersebut sedang sakit jiwanya.

Bersiaplah ! Perlahan-lahan dalam waktu dekat akan segera panen, panen badai. Artinya, kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Dan perbuatan baik atau buruk pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya. Perlu diketahui bahwa perlakuan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Tidak ada kejadian tanpa ada penyebabnya.

Kebaikan yang kita terima adalah akibat dari perbuatan baik, sedangkan penderitaan yang kita terima merupakan akibat dari perbuatan buruk yang pernah kita lakukan, entah itu disengaja atautidak, yang kita sadari atau tidak kita sadari. Kita selayaknya tidak menyalahkan siapapun atas penderitaan hidup ini, tidak menyalahkan keadaan apalagi menolak kenyataan yang pahit sekalipun dalam hidup ini.

Tidak dipungkiri bahwa penderitaan akan semakin bertambah jika tidak bisa menerima kenyataan. Dalam menghadapi masalah dan kebijakan juga tidak akan berkembang jika kita selalu menyalahkan orang lain, karena dengan seperti itumerupakan sifat kekanak-kanakan ( anak kecil ).

Orang hidup yang selalu menyalahkan orang lain adalah orang yang tidak mengenal dirinya sendiri. Mengenal dirinya sendiripun tidak, akibatnya kita jauh dari belas kasih dan pengampunan, maka kita akan sulit memaafkan kesalahan orang lain dan akan terus menerus mencari kesalahan orang lain. Kalau sudah menjadi orang yang seperti itu, bagaimana kita bisa menyayangi, mengasihi dan mencintai orang lain jika kita sendiri tidak bisa mencintai dirinya sendiri?

Alangkah lebih bijaksananya andaikata kita sendiri bisa menyadari ataupun instropeksi diri sendiri agar bisa segera berbenah diri untuk mengarah ke perilaku yang baik. Antara lain dengan merubah perbuatan buruk menjadi perbuatan baik, merubah sifat tercela menjadi terpuji, sifat pemarah menjadi pemaaf, pembenci menjadi penyayang, sombong menjadi rendah hati, keji menjadi bermoral, mengeluh menjadi bersyukur, egois menjadi simpati, buruk menjadi berakhlak baik, hina menjadi mulia. Energi seperti ini bersifat kekal, tidak bisa dihancurkan aapagi musnah, namun hanya bisa dirubah saja.

Sebab akibat yang pernah kita lakukan maka kita sendiri akan lebih bijak dalam bertindak dan menyikapi dalam kehidupan sehari-hari, mengurangi perbuatan buruk, tidak menyia-nyiakan hidup dan memperbanyak berbuat baik untuk hidup bahagia, cerah ceria, aman, damai, sejahtera.

Ngundhuh wohing pakarti merupakan pepatah Jawa yang secara harafiah berarti memetik perbuatan. Memang pepatah Jawa selalu mengandung petuah atau nasehat. Pepatah Jawa ini mengandung nasehat untuk memahami hukum karma, yang berdasar prinsip siapa yang menanam ia yang akan memetiknya. Perbuatan baik akan memetik kebaikan, sedangkan perilaku keburukan akan memetik keburukan juga. Orang yang memahami hukum karma ini pasti akan selalu menjaga perbuatannya baik melalui ucapan dan pikiran.

Orang akan memahami pula bahwa segala sesuatu itu akan muncul karena ada sebab dan akibatnya. Siapapun orangnya yang menciptakan sebabnya maka ia akan menerima akibatnya. Dengan seperti itu maka manusia akan mudah menerima segala sesuatu yang terjadi pada dirinya sendiri, karena pada dasarnya apa yang terjadi tidak lepas dari apa yang ia sebabkan.

Tidak ada manusia yang menginginkan anaknya menjadi anak yang nakal, karena dengan melakukan seperti itu akan membuat anaknya jadi sengsara. Tetapi ada juga orang tua yang hanya mengumbar anaknya kemanapun pergi, apapun yang dilakukannya dan tidak tahu mau jadi apa nantinya anak itu. Pasti ada sebabnya bagi orang tua yang mengumbar anaknya walaupun tahu bahwa perilaku itu akan menyebabkan anak menjadi nakal.

Bisa juga orang tua itu mengalami hidup yang sangat kekurangan kemudian mendidik anak tanpa landasan iman yang kuat. Akibatnya bisa tumbuh sifat apatis. Merasa kehabisan angan-angan karena banyak sekali menghadapi ujian hidup.dan tidak sedikit orang tua yang merasa frustasi.kalau sudah seperti itu masalah masa depan anak sudah tidak bisa dipikir kembali dan hanya pasrah saja.

Kebiasaan baik seharusnya sudah dilakukan pada waktu anak masih kecil, supaya nantinya anak itu menjadi kuat dan tangguh, bertahan dengan aturan. Tidak mudah tergiur dengan keadaan yang tidak baik. Kalau pondasi imannya sudah kuat, anak tidak akan mudah kena pengaruh yang jelek. Terhadap anak yang kurang kuat imannya, nasehat orang tua sering tidak dihiraukan, tidak dipedulikan. Pengaruh yang jelek malah makin dipercaya walaupun sangat keliru.

Walaupun antara perbuatan baik dan buruk itu sudah jelas dan pasti, tetapi masih ada juga manusia yang melakukan perbuatan jahat, ini akibat dari pondasi moral yang kurang kokoh. Bahkan melakukan perbuatan baik, malah merasa malu. Walaupun yang dilakukan itu sudah diketahui kalau itu perbuatan buruk. Kalau sudah melakukan kesalahan dan kemudian muncul akibatnya, maka mau tidak mau harus mau bertanggungjawab atas perbuatannya.

Penyesalan akan muncul setelah melakukan perbuatan salah, tetapi sudah tidak ada gunanya untuk menyesal. Yang ada hanyalah mengakui kesalahan dengan jujur dan bertaubat untuk tidak melakukan kesalahan lagi dan yang lebih penting juga bersujud memohon ampun kepada Allah atas segala dosa kesalahan agar bisa diampuni dosa-dosanya.

Dengan pernyataan seperti tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa segala bentuk perbuatan yang didasari niat atau kehendak yang biasa disebut karma akan menghasilkan akibat dikemudian hari. Jika kita berbuat buruk, maka kita bakal menuai atau memetik hal yang buruk juga. Jika kita berbuat baik Insya Allah kitapun bakal memetik hal yang baik. Kita sebagai manusia memang tidak ada yang sempurna, tetapi kita tetap akan berusaha untuk berperilaku yang baik.

Belum tentu perbuatan baik kita dibalas baik, tetap yakinlah bahwa Allah yang akan membalas perbuatan baik kita. Nandur pari thukule suket teki, tetaplah berbuat baik! (*)

*) Ditulis oleh : Sri Suprapti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *