‘yen wani aja wedi-wedi, yen wedi aja wani-wani’

KALAU BERANI JANGAN TAKUT-TAKUT, KALAU TAKUT JANGAN SOK BERANI

Peribahasa Jawa “yen wani aja wedi-wedi, yen wedi aja wani-wani” ( kalau berani jangan takut-takut, kalau takut jangan sok berani ) yang artiya peringatan agar dalam bertindak jangan setengah-setengah . Orang harus berani dan bisa mengukur kemampuan diri sendiri sebelum melakukan suatu tindakan. Sebuah filsafat Jawa yang penuh sarat dan makna untuk mengarungi kehidupan di alam fana ini. Filsafat ini merupakan pelajaran hidup untuk kita semua manusia bagaimana kita akan melangkah dalam memilih jalan hidup kita sendiri.

Sebagai salah satu contoh kasus misalnya apabila akan membuka usaha baru, maka jangan sekali-kali merasa ragu untuk melangkah. Haruslah berani dalam mengambil keputusan apa yang harus dilakukan dan apa saja yang harus dikerjakan. Filsafat ini mengajarkan bahwa kita tidak ragu-ragu dalam memilih jalan kehidupan kita karena keragu-raguan akan membuat diri kita gagal dalam kehidupan ini. Dalam segala bidang apapun juga kita memerlukan fisafat ini untuk selalu kita pegang teguh dengan harapan apa yang kita putuskan ( ambil ) benar-benar mempunyai tekad yang benar-benar bulat.

Apabila kita merasa ragu-ragu atau bahkan bimbang maka sering kali kita merasa terombang-ambing untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau kita bisa mengejawantahkan filsafat ini untuk selalu mendampingi setiap langkah yang kita tempuh dalam kehidupan di dunia ini. Pepatah ini masih berlaku bagi siapapun sampai saat ini. Kalau kamu berani jangan takut-takut dan ragu-ragu lagi tetapi kalau kamu takut jangan sekali-sekali berani, karena bisa jadi nanti mendapatkan bilahi. Kalau memang melakukan hal yang benar kenapa harus takut ! Melangkah terus dengan hati yang lurus, tapi kalau memang salah ( luput ) belum terlambat untuk menelusuri apa saja yang membuat kalut.

Apabila kita mempunyai cita-cita mulia hendaknya dipikirkan lebih dahulu secara seksama bagaimana caranya agar dapat diraih semua tentu saja dengan konsekuensi resiko apapun. Sekali melangkah harus tetap berjalan ke depan, janganlah berhenti sebelum tercapai semuanya. Apalagi malah berbalik arah kembali ke asal mula, pantang bagi kita untuk tidak melanjutkannya. Haruslah secara totalitas memperoleh hasil kerja tidak boleh ragu-ragu apalagi membabi buta.

Sesuatu yang sudah direncanakan dengan matang haruslah secara baik dilaksanakan. Kalau sesuatu yang sudah direncanakan tersebut tidak jadi atau batal maka akan dapat mengubah semua perjalanan juga dapat mengubah seluruh urusan. Alangkah baiknya kalau sudah berani memutuskan maka harus berani pula mempertanggungjawabkan. Dengan mempertaruhkan semua perjuangan apapun sesuai dengan kondisi dan hasilnya diterima dan jangan lupa selalu bersyukur kepada Tuhan.

Pitutur Jawa “yen wani aja wedi-wedi, yen wedi aja wani-wani” ( kalau berani jangan takut-takut, jika takut jangan berani-berani ). Pitutur ini mengungkapkan tentang totalitas ketika mengerjakan sesuatu. Rasa takut hanya akan menghalangi kemampuan baik fisik maupun mental dalam menghadapi sesuatu. Untuk menghadapi rasa takut salah satu kiatnya adalah menghadapi permasalahan langsung ke jantungnya. Yaitu dengan menghadapi inti masalah secara langsung dan meletakkan diri dalam posisi aktif. Karena dalam posisi aktif ini, cenderung akan fokus untuk menghadapi masalah yang ada, sehingga hilanglah rasa takut itu dalam diri sendiri. Perlu diketahui bahwa rasa takut itu merupakan karunia yang sangat besar sekali yang dianugerahkan oleh Allah SWT.

Fungsi rasa takut ini juga sangat penting sekali bagi manusia, yaitu agar mengenali sesuatu yang membahayakan atau merugikan diri sendiri. Bisa dibayangkan apabila manusia tidak memiliki rasa takut. Tanpa rasa takut, maka tidak akan bereaksi ketika manusia berbuat jahat kepada yang lain, tidak menghindar ketika ada istri / suami orang lain yang mendekati anda, atau malah tidak menghindar ketika mengajak untuk selingkuh. Atau jangan-jangan malah lupa mempersiapkan masa depan, karena tidak peduli sama sekali dengan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Ibarat sirine atau alarm yang selalu mengingatkan akan bahaya, itulah rasa takut. Misalnya ada sirine detektor asap atau api, untuk menghindari bahaya kebakaran. Ketika sirine itu berbunyi, maka akan menjadi siaga untuk melakukan sesuatu dalam mengatasi kebakaran. Begitu juga dengan adanya rasa takut, menjadi siaga untuk menghadapi bahaya atau sesuatu yang merugikan hidup kita. Namun kadangkala dengan diberikan karunia rasa takut bisa berubah menjadi keburukan ketika salah dalam menerapkannya. Rasa takut seringkali menghentikan langkah untuk melakukan usaha dalam mencapai keberhasilan. Rasa takut yang berfungsi mendukung, justru berubah menjadi penghambat.

Rasa takut akan reda dengan sendirinya. Rasa takut itu manusiawi, akan muncul kapan saja dan manusia tidak bisa menghindar darinya. Yang bisa dilakukan hanyalah dengan berdamai saja, dengan cara mengenali kehadirannya. Setelah itu dihadapi langsung pokok permasalahannya. Kalau kamu takut, janganlah sekali-sekali berani. Kalau kamu berani, jangan sekali-sekali takut. Jika iya katakana iya, jika tidak katakana tidak. Apabila hendak melakukan sesuatu hal, pasti akan diingatkan akan pilihan, apakah berani atau tidak.

Kalau berani jangan sekali-sekali timbul perasaan takut. Tetapi kalau takut, janganlah memaksakan diri untuk berani. Maksudnya agar dalam menjalani kehidupan ini kita tidak ragu-ragu karena keraguan merupakan pembunuh keberhasilan. Bukan berarti mengajari untuk menjadi seorang pengecut. Kalau memang setelah dilakukan analisis hasilnya membahayakan, ya jangan dilakukan. Kalau sudah oke tentunya juga tetap menggunakan perhitungan dan harus percaya diri untuk tidak maju mundur lagi. Dalam menghadapi masalah ada dua pilihan. Kalau takut, ya secepatnya menyelamatkan diri. Tetapi kalau memang berani, gunakan otak, jangan tunjukkan kekuatan.

Sikap ksatria merupakan kunci sebuah keberhasilan, untuk itu dibutuhkan sebuah motivasi agar dapat belajar memaknai hidup agar hidup makin berwarna.Makna dari ungkapan itu bahwa sebagai manusia harus mempunyai sifat ksatria, kalau kita berani ya harus berani meskipun di depan ada aral rintangan yang harus dihadapi apaun resikonya akan dihadapi. Begitu sebaliknya kalau kita takut jangan sesekali mencoba melakukannya. Hidup memang penuh dengan resiko, untuk itu jangan setengah-setengah dalam melangkah. Karena tindakan yang stengah-setengah hasilnyapun pasti juga setengah-setengah.

Semoga dengan sedikit gambaran ini bisa membuat diri kita semakin mantap dalam mengambil langkah atau keputusan dalam menjalani kehidupan ini. Untuk diri penulis sendiri agar tidak pernah takut menghadapi apapun bila memang berada di pihak yang benar, jujur dan bersih. Wong jujur iku luhur. Semoga tidak berhenti melakukan kejujuran! (*)

*) Ditulis : Sri Suprapti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *