“Becik Ketitik, Ala Ketara” Baik Akan Terbukti, Buruk Akan Kelihatan

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa

Ungkapan Jawa “Becik Ketitik Ala Ketara” sangat populer dalam kehidupan masyarakat Jawa yang artinya kebaikan akan ketahuan, kejelekan akan terlihat atau tampak. Ungkapan Jawa ini sangat bermanfaat bagi kehidupan karena uangkapan itu biasa dipakai sebagai peredam konflik dengan sesama apapun masalah yang sedang dihadapi. Setiap menghadapi masalah dan tidak ada kesepakatan untuk saling mengalah, biasanya berakhir dengan menyampaikan kata-kata seperti ungkapan di atas.

Kalau sudah demikian, maka orang yang sedang berseteru saling instropeksi diri. Bahkan tidak jarang kalau sudah menyadari dengan adanya ungkapan itu mereka berlomba-lomba untuk mengalah dan menyampaikan kesalahan atau kekeliruannya. Mereka sadar bahwa sebagai manusia tidak takut berbuat kebaikan. Meskipun awalnya belum kelihatan, pada saatnya akan menemukan makna dan akan dihargai. Sebaliknya apabila kita berbuat buruk / salah, sepandai-pandai menutupi akhirnya akan ketahuan juga.

Ungkapan ini merupakan warisan ajaran luhur yang diberikan oleh nenek moyang yang menggariskan bahwa hidup ini harus berlandaskan kepada budi pekerti yang mulia. Serapat atau seketat apapun seseorang membungkus perilaku yang jelek / jahat / menyimpang maka dengan jelas pada akhirnya akan ketahuan juga.Terjadinya perilaku salah dan sengaja dibungkus rapat-rapat agar tidak diketahui oleh orang lain, kenyataan tetap ketahuan juga.

Kenapa tetap dilakukan ? Itulah manusia yang tidak mampu mengelola nafsu duniawinya saja. Manusia sepanjang hidupnya senantiasa berusaha bahkan berdoa untuk selalu berbuat baik, namun kenyataannya perjalanan hidupnya ternyata tidak berjalan mulus. Bukti bahwa ungkapan Becik Ketitik Ala Ketara” merupakan sebuah kalimat bijak bahasa Jawa yang memberikan peringatan bagi manusia, bahwa segala sesuatu yang benar akan tampak jelas benar, sebaliknya yang salah akan tampak jelas juga salahnya.

Akhir-akhir ini banyak manusia yang tersandung dalam masalah, mulai dari KDRT ( Kekerasan Dalam Rumah Tangga ), penyalahgunaan narkoba, pelaku korupsi, kejahatan, dsb. Dalam perjalanan kehidupan manusia, banyak orang yang meyakini peribahasa “ Becik Ketitik Ala Ketara” sangat berlaku para pelaku tersebut. Pernyataan dan kata-kata yang sering semu maka akhirnya akan tampak jelas sekali dipandang mata. Yang baik akan tampak baiknya di permukaan, sedang beberapa yang munafik makin banyak yang ketahuan kemunafikannya. Kita sebagai manusia haruslah selalu ingat bahwa segala perbuatan, entah itu baik atau buruk maka akan memperoleh ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.

Sebagai manusia hendaknya selalu berbuat baik kepada siapapun juga ( orang lain ), walaupun orang tersebut tidak membalas kebaikan kita maka janganlah kita mengeluh atau bahkan merasa kecewa. Yakinlah bahwa balasan akan datang dari mana saja, bisa jadi datang dari orang lain atau balasan tersebut akan jatuh kepada anak keturunan kita sendiri. Bukankah kita selalu berdoa kepada Allah, agar anak keturunan kita hidupnya lebih baik dari kita sebagai orang tuanya? Maka terimalah dengan tulus ikhlas apabila kita tidak mendapat balasan kebaikan dari orang lain yang sudah kita perlakukan dengan sebaik-baiknya.

Jadi ingat beberapa tahun yang lalu, ketika ada teman kerja yang mengatakan begini :” kamu itu kalau misalnya sedang perang maka kamulah yang akan tertembak duluan, kalau kamu pencuri maka kamulah yang nomor satu ketangkapnya”. Ketika aku tanya kenapa?  Karena kamu orangnya terlalu jujur dan terbuka, tidak pernah berbohong, selalu mengalah ( jangan salah, ini kata teman lho ya ). Orang jujur tidak pernah merasa kecewa karena kejujurannya, justru kalau tidak jujur amat sangat merasa kecewa.

Ketidakjujuran itu disamping hanya merugikan diri sendiri juga akan menghasilkan dosa. Kejujuran kadang disalahgunakan oleh orang lain untuk selalu membohonginya. Janganlah menyerah, tetaplah untuk berbuat jujur. Masalah diperlakukan tidak baik oleh orang lain, tidak perlu terlalu dipikirkan. Karena perbuatan jelek akan berakibat jelek pada dirinya sendiri.Perbuatan jujur akan lebih tenang hidupnya dari pada berbuat curang.

Percuma kita selalu memohon ampun kepada Tuhan kalau masih saja berbohong dengan orang lain. Masih mempunyai niat jelek, melakukan perbuatan buruk, tercela, apalagi membuat rugi orang lain. Ketahuilah bahwa perbuatan buruk apapun itu, kalau ketahuan orang lain maka jelas akan timbul rasa malu dan lebih parah lagi sudah tidak akan lagi dipercaya oleh orang lain  di sekitarnya.

Oleh karena itu ungkapan “Becik Ketitik Ala Ketara” mempunyai makna yang sangat mendalam, bahwa siapapun harus berhati-hati dalam berucap, bertindak ataupun berperilaku. Ungkapan ini juga akan mengingatkan kita hidup di dunia ini agar selalu ingat kepada Tuhan, karena setiap perilaku / perbuatan  yang kita lakukan selalu diawasi olehNya.

Dalam ajaran agama Islam dikenal dengan adanya 2 (dua) malaikat yang selalu mencatat perbuatan manusia. Malaikat Raqib bertugas mencatat kebaikan yang dilakukan oleh manusia sedangkan Malaikat Atid mencatat keburukan yang diperbuat oleh manusia. Bisa disimpulkan bahwa sudah bukan tugas manusia untuk mencatat keburukan orang lain. Apabila perbuatanmu selalu diawasi oleh orang lain, tidak perlu khawatir. Biarkan saja, jangan pedulikan mereka. Teruslah berbuat baik dan tidak merugikan orang lain.

Ungkapan “Becik Ketitik Ala Ketara” juga bisa menjadikan kendali moral agar manusia selalu mawas diri untuk tidak gegabah melakukan sesuatu. Apapun perbuatan yang dilakukan manusia akan mendapatkan balasan. Ketika manusia melakukan perbuatan baik, maka akan mendapatkan kebaikan. Begitu juga sebaliknya, perbuatan buruk yang dilakukan maka keburukan jugalah yang didapat. Untuk membuktikan balasan yang akan diterima oleh manusia terkadang memang butuh waktu. Artinya bisa seketika mendapat balasan namun ada juga yang balasan diterima oleh anak keturunannya.

Tidak rugi bagi manusia untuk selalu melakukan perbuatan baik. ( Surat Qaf ayat 16-18 ) Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. ( Ingatlah ) ketika dua malaikat mencatat ( perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap ( mencatat ).

Dalam budaya Jawa memang dikenal banyak falsafah yang menjadi panutan / panduan dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan “Becik Ketitik Ala Ketara” mengingatkan manusia untuk selalu berbuat baik, karena perbuatan yang baik dan buruk semua akan mendapatkan ganjaran yang setimpal sesuai dengan perbuatannya sendiri.

Berhentilah untuk mengeluh atau bahkan merasa kecewa, apabila tidak mendapatkan balasan dari perbuatan baik kita kepada orang lain. Manusia yang sudah melakukan kebaikan dan tidak atau belum terbalaskan, yakinlah bahwa balasan akan tiba kepada anak keturunan kita sendiri. Dan perbuatan baik akan terhindar dari cap “tidak lagi dipercaya” dan juga  tidak dicurigai oleh masyarakat sekitarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari berperilaku jujur dan berhati baik /bersih, akan selalu tenang. Dicaci, difitnah, disakiti, dibohongi dan apapun yang menyakitkan hati, maka ia akan tetap tenang, sabar dan ikhlas lahir maupun batin. Oleh karena itu, sudah tidak seharusnya kita hidup di dunia membuat masalah yang menjadikan konflik dengan orang lain. Apalagi harus memperpanjang masalah yang membuat orang lain kecewa, bersikukuh pada pendiriannya yang belum tentu benar dan mengganggap orang lain yang salah.

Berebut kebenaran dengan orang lain dan tidak ada jalan keluarnya / menemui jalan buntu, justru mendatangkan / muncul permusuhan yang mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri. Apalagi konflik itu melibatkan orang-orang terdekat atau orang yang sebelumnya memiliki hubungan baik. Lebih baik bersikap menerima pemecahan konflik tanpa bermaksud memperpanjang masalah. Kebenaran atau kesalahan akan terungkap, walaupun tanpa melalui proses .

Orang Jawa sangat yakin bahwa Tuhan akan memberi keadilan yang se adil-adilnya terhadap kesalahan umatNya. Budaya Jawa tidak dapat dilepaskan dari sikap hidup orang Jawa yang sesungguhnya. Sikap hidup orang Jawa yang berkaitan dengan kehidupan sosial ( hubungan dengan orang lain ) dan sikap hidup yang ada hubungannya dengan nilai religius.

Dengan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa perlunya kesadaran bahwa suatu keburukan bagaimanapun juga apapun jenisnya, tidak mungkin bisa disembunyikan. Dengan demikian bahwa yang paling pentinga adalah menjadikan ungkapan “Becik Ketitik Ala Ketara” tersebut sebagai kendali moral bagi manusia agar terhindar dari perilaku buruk. Karena keburukan akan kembali pada dirinya sendiri dan bahkan keluarganya, baik ketika masih hidup di dunia maupun di akherat.

Alangkah baiknya apabila ungkapan “Becik Ketitik Ala Ketara” itu digunakan sebagai ajaran untuk bisa mengendalikan diri agar hati, pikiran dan perbuatan kita dijauhkan dari perilaku buruk / jahat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *