Pitutur Luhur Di Balik “Melik Aggendhong Lali”

Arti dari kata melik adalah keinginan untuk memiliki sesuatu, bisa juga berarti pamrih. Keinginan memiliki sesuatu / barang / sesuatu yang bukan miliknya. Nggendhong lali artinya adalah pasti akan berdampak lupa segalanya. Sudah sewajarnya kalau manusia itu semuanya memiliki keinginan. Itu merupakan sifat dasar manusiawi. Keinginan apapun agar bisa memenuhi kebutuhannya. Baik itu kebutuhan yang sangat penting (vital) dan mendesak maupun kebutuhan yang tidak penting.

Tidak semua keinginan tercapai dan tidak semua keinginan mulus seperti yang diharapkan. Karena setiap manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan hasratnya itu berbeda-beda. Semua manusia ingin menunjukkan eksistensi dirinya.

Melik nggendhong lali, cenderung melanggar aturan atau dalam bahasa Jawa wewaler. Melik itu bukan hanya suatu keinginan atau angan-angan saja, tetapi cenderung lebih keras, lebih parah untuk memaksakan diri agar bisa memiliki barang atau bahkan kedudukan yang diharapkan itu. Oleh karena kemampuan diri yang terbatas dan orang itu sadar bahwa sesungguhnya tidak mampu, maka pada akhirnya akan menghalalkan dengan segala macam cara dan cenderung lupa diri.

Bahkan ketika diingatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak mungkin akan didengar. Kebenaran apapun sudah dianggapnya salah dan tidak berguna sama sekali. Apapun akan ditempuhnya termasuk berbuat jahat untuk mencelakakan orang lain. Tidak bisa berfikir dengan kepala dingin, bagaimana bila dia sendiri yang diperkakukan orang lain seperti itu? Bagaimana bila dia yang dibuat celaka oleh orang lain?

Agar tujuannya tercapai, maka apapun akan dilakukannya, seperti misalnya mencuri, merampok, bahkan membunuh, tipu muslihat dan segala macam cara dilakukan. Apalagi orang itu sudah mempunyai rasa melik, pasti memiliki hawa nafsu yang tinggi dan tidak mempunyai rasa bersalah ataupun malu.

Orang yang seperti itu juga sudah tidak mempunyai rasa ewuh-pekewuh lagi terhadap orang lain, sudah jauh dari budi pekertinya. Sudah tidak peduli lagi dengan perasaan yang dirasakan keluarga besarnya. Semakin parah lagi, tidak mempunyai rasa kemanusiaan lagi, semua sudah hilang dari hatinya. Hati dan pikirannya sudah kering dan mati, lupa anak, lupa keluarga dan bahkan lupa akan Allah.

Penulis jadi ingat waktu masih kecil, kalau ada saudara mempunyai atau mampu membeli barang atau makanan, biasanya terus yang tidak punya jadi melik. Meliknya anak yang waktu itu masih kecil ya sebatas melik yang ringan-ringan saja. Caranyapun juga sangat lucu, yaitu dengan cara meminta dan merayu, ”Aku minta ya, besuk kalau aku punya, ganti saya yang kasih”. Kalau yang diminta tidak boleh dan masih dipaksa, senjata pamungkasnya adalah laporan ke orang tua entah ayah atau ibu.

Nah, inilah yang masih teringat sampai sekarang bahwa jawaban orang tua “melik nggendhong lali”. Karena masih kecil, kami anak-anak beralih menanyakan arti dari kata-kata yang diucapkan oleh orang tua.

Sambil mendengarkan petuah dari orang tua, akhirnya kami lupa akan barang / sesuatu yang diperebutkan. Kesimpulan dari pada petuah orang tua, bahwa orang yang menginginkan barang orang lain itu tidak baik, itulah jawaban orang tua waktu itu. Dengan jawaban seperti itu membuat penulis dan saudara-saudara tidak pernah memaksakan kehendak untuk meminta atau mengambil barang yang bukan miliknya.

Bahkan itu berlangsung sampai sekarang. Itupun masih ditambah dengan kata-kata seperti, “jangan mudah menerima pemberian dari orang lain”. Sampai sekarang kata-kata itu selalu teringat. Bahkan sudah menjadi kebiasaan, yaitu tidak mudah menerima pemberian dari orang lain. Karena pesan dari orang tua seperti itulah yang membuat diriku sangat susah kalau sedang makan bersama atau kalau sedang mendatangi orang punya kerja. Akan lebih nyaman kalau makanan disajikan dengan perantara sinoman dari pada mengambil sendiri.

Kata-kata orang tua waktu itu yang sangat menyejukkan hati adalah “besuk membeli kalau sudah mempunyai uang sendiri”. Kata-kata sederhana itu juga membuat diri pribadi menjadi tenteram di hati. Hidup tidak terlalu susah, bahkan menjadi bahagia karena didikan orang tua agar selalu hidup dengan sederhana (prasaja).

Bagaimanapun keadaan yang kita alami, haruslah ikhlas dan legawa. Sebagai kuncinya yaitu harus mempunyai hati yang bersih dan tenang. Harapannya agar hati kita bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Berperilaku ikhlas, sabar, narima, temen, budi luhur, jujur,karena semua itu sudah digariskan oleh Allah sebagai perjalanan hidup yang harus dijalani.

Kewaspadaan hati / keprayitnaning batin harus selalu terjaga di setiap waktu. Kalau di dalam hidup kita itu tidak mempunyai rasa narima, maka hidup tidak akan bisa tenang. Apabila semua dijalani dan dilakukan atas dasar ikhlas dan ridho maka yang ada hanyalah rasa bahagia, semua akan terasa nyaman.

Tidak malah jauh dari keinginan duniawi yang tidak jelas atau tidak pasti. Kalau hati manusia sudah kemasukan setan, tidak bisa meredam nafsu angkara murka yang menggebu. Nafsu untuk memiliki semua yang ada, bahkan seisi jagad ini akan menjadi miliknya, hati tidak akan nyaman, karena tidak ada kata damai di dalam hatinya.

Melik terhitung sebagai menggebu-gebu yang sudah di luar nalar, kalau kondisi kepepet maka orang yang mempunyai rasa melik akan melakukan apapun. Maka kalau sudah dikatakan melik, dan sulit untuk terpenuhi keinginannya, terpaksa harus mencuri tidak akan ada salahnya. Terpaksa merebut dan bahkan membunuhpun akan dilakukan.

Karena kalau sudah mempunyai rasa melik, maka hati dan pikirannya penuh dengan hawa nafsu. Cara berfikirnya sudah buntu karena pikiran mati. Bahkan rasa kemanusiaannyapun juga sudah hilang. Tujuannya hanya ingin memiliki semua yang diinginkannya segera sampai ditangannya. Itulah yang dinamakan perilaku dan angan-angannya sudah kemasukan setan.

Minta tidak mempunyai rasa malu, Mencuri juga tidak harus menunggu waktu. Aturan agama dan larangan-larangan, kemanusiaan dianggap hanya akal-akalan manusia. Semuanya tidak perlu, yang sangat dibutuhkan adalah bagaimana agar niat yang jahat itu bisa terlaksana sesuai dengan keinginannya. Kalau sudah sampai mempunyai rasa melik, padahal sesuatu yang di meliki itu sulit tercapai, maka orang yang bermelik itu akan menganggap tidak ada salahnya untuk mencuri.

Bila terpaksa harus merebut maka membunuhpun, ia juga akan melakukannya. Yang dikejar hanya satu yaitu bagaimana agar yang diinginkannya itu secepatnya dapat diraih. Hatinya penuh hawa nafsu, nalarnya macet, akalnya buntu bahkan rasa kemanusiaanyapun juga sudah lenyap / hilang.

Manusia pada umumnya senang akan uang, sehingga ketika uang yang sudah dimiliki itu berkurang maka kita akan merasa sedih, susah atau bahkan sangat berduka. Bahagia kalau punya uang karena bisa membeli mobil mewah, bisa membeli rumah besar, bisa berlibur ke tempat-tempat yang katanya indah.

Padahal keinginan untuk mendapatkan uang yang lebih, lebih dan lebih adalah sumber penderitaan itu sendiri. Setiap keinginan yang berlebih-lebihan dan didorong oleh nafsu hampir pasti di dalamnya terkandung batu sandungan kecil yaitu lupa.

Dibalik nasehat melik nggendhong lali, adalah sebagai pedoman hidup untuk selalu eling (ingat) dan waspada waspada lahir batin. Watak atau sifat lupa (lali) ini sudah menyebar seperti virus, bukan hanya satu atau dua orang saja. Mereka lupa bahwa kebahagiaan hidup bukan hanya karena banyaknya uang saja.

Oleh karena itu marilah kita berusaha tidak masuk dalam lingkaran lali (lupa) dalam melakukan perbuatan buruk. Seharusnya marilah kita bersama-sama menjauhi watak melik. (*)

*) Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *