Dapur Umum, Jadi Berkah Dibalik Pandemi

KUE MOCI : Nathanael (19) memperlihatkan kue moci dari dapur umum, kemarin.

JATENGONLINE, SOLO – Dapur umum, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah tempat menyediakan makanan cuma cuma bagi orang banyak dalam keadaan darurat dan sebagainya. Dapur umum biasanya didirikan saat ada bencana dan berada di tengah para pengungsi.

Nah, berangkat dari melayani orang banyak itulah, sebuah keluarga mendirikan Dapur Umum Karanganyar, awal Juni 2020 silam. Namun lantaran tidak dalam keadaan darurat, makanan yang disediakan tidak gratis.

“Kami sengaja menggunakan kata dapur umum sebagai brand agar mudah dikenal. Lagi pula, belum ada yang menggunakan dapur umum untuk komersial,” kata Yona Ervina, dalam bincang bincang keluarga, kemarin.

Di Dapur Umum yang dia dirikan, masakan mangut Semarangan dan botok telur asin menjadi andalan dan paling banyak dicari konsumen. Selain itu masih ada babat gongso, sambel jambal, dan kue moci. Mangut Semarangan yang dimasak di dapur umum berbeda dengan mangut yang ada di kedai atau warung di Soloraya. Kuahnya kentel, aroma menyengat, dan rasanya maknyuus lantaran ikan asap atau mangutnya didatangkan dari langsung Semarang.

Demikian juga dengan botok telur asin. Meski di kedai dan warung banyak dijual dan resep pembuatan botog telur mudah dicari di internet, namun rasa botok telur asin dari dapur umum berbeda dan terasa khas, karena sentuhan tangan saat memasak berbeda. Lagi pula, dia mengaku mendapatkan resep pembuatan telur asin itu bukan dari google apa youtube tapi dari orang tuanya di Semarang yang membuka katering di situ.

Lantaran pembuatannya dengan sentuhan berbeda yang menghasilkan cita rasa spesial, Yona pun mematok harga khusus untuk semua produk kulinernya. Misal, jika harga botog telur asin di warung-warung seharga Rp 5.000 per bungkus, dia menjual dengan harga Rp 8.500 per bungkus. Demikian juga dengan babat gongso, sambel jambal, kue moci, dan lain sebagainya.

“Selain itu, kami tidak ingin merusak harga botok telur asin yang sudah ada di pasaran. Lagi pula segmen pasar kami berbeda. Dengan begitu, kita bisa saling berbagi dan kabeh iso mangan,” kata ibu tiga anak itu.

Semula, ide pendirian dapur umum adalah untuk memberi kesibukan anak-anak, begitu new normal diberlakukan, setelah anak-anak suntuk di rumah akibat libur sekolah berkepanjangan lantaran pandemi covid-19. Kendati usaha rumahan, pengoperasiaan dapur umum berbeda dengan usaha dagang pada umumnya.

Meski mengolah atau memasak semua masakan itu, namun Yona sebagai orang tua, tidak meng-handle bisnis tersebut. Dia menyerahkan usaha kuliner itu pada anaknya, Nathanael (19), kemudian Yona memposisikan diri hanya sebagai tukang masak dan dibayar. Ini terbalik, biasanya bisnis dipegang orang tua dan anak-anak hanya disuruh untuk membeli bahan-bahan atau disuruh mengantar, tanpa dilibatkan dalam manajemen.

Model yang diterapkan seperti itu dinilai cukup baik, karena anak bisa belajar manajerial dan leadership atau kepemimpinan. Soal laba, untunglah setiap hari bisa didapat, apalagi kalau banyak pesanan.

“Ceritanya begini. Nathan tak kasih modal Rp 1 juta. Modal itu untuk belanja bahan baku yang akan dimasak sesuai dengan pesanan. Apakah ikan asap, daging babat, telur asin mentah, godong gedang, atau brambang, bawang, cabe. Kalau sudah dimasak dan sudah tersaji, anak-anak tinggal mengantar,” katanya.

Kendati hampir semua masakannya punya cita rasa khas, namun Yona tidak pelit berbagi. Dia mempersilakan orang lain yang mau mengintip dapur umumnya untuk melihat langsung cara membuat botog telur asin, mangut semarangan, babat gongso, atau sambel jambal. (vin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *