Kusumo: Pemerintah Tak Serius Tangani Situs Cagar Budaya !

JATENGONLINE, BOYOLALI – Dengan adanya banyak ditemukan situs Cagar Budaya di wilayah Kabupaten Boyolali, Forum Budaya Mataram (FBM) meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali untuk serius melalakukan inventarisasi situs-situs cagar budaya yang ada dan menyelematkan situs tersebut.

Seperti temuan FBM ketika melakukan kunjungan di lokasi temuan yang diduga situs cagar budaya di wilayah Boyolali yang sudah terdaftar dan sudah diketahui oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali yang hingga kini, belum dilakukan penelitian lebih lanjut, apalagi penyelamatan secara menyeluruh situs ini.

“Sampai sekarang situs ini mangkrak, tidak terawat dan dibiarkan begitu saja berada di lahan warga sehingga tidak diketahui situs apakah itu dan sejarahnya dimasa lalu,” terang BRM Kusumo Putro, Ketua Yayasan FBM. Minggu (12/7/2020)

Benda cagar budaya yang belakangan ditemukan di kawasan Boyolali. Yakni patung batu tanpa kepala di dukuh Banyudono Boyolali yang ditemukan warga saat menggali makam beberapa hari lalu.

Menurut Kusumo, bahwa kawasan Kabupaten Boyolali utamanya di wilayah Pengging banyak sekali ditemukan situs cagar budaya.”FBM berharap peninggalan bersejarah ini mendapat perhatian serius dari pemerintah,” imbuhnya.

Sebelumnya, lanjutnya, di desa Watu Genuk, Teras, Boyolali juga ditemukan bekas candi yang belum diketahui pasti dibuat pada tahun berapa. Di kawasan tersebut ditemukan batu lingga yang cukup besar dengan ukuran 1X1 meter.

“Pemerintah untuk bisa menindaklanjuti temuan-temuan ini untuk dilakukan kajian terhadap benda kuno seperti temuan candi yang pastinya memiliki nilai sejarah budaya bangsa Indonesia,” tegasnya.

“FBM tergerak untuk berperan melakukan pengawasan, agar pelaksanaan pemugaran itu tidak sampai melanggar UU Cagar Budaya. Saat ini juga kami soroti dugaan perusakan situs makam kuno Kherkof Dezentje,” lanjut pria kolektor lukisan Nyi Roro Kidul ini.

Seperti disampaikannya, FBM merupakan lembaga yang peduli terhadap pelestarian tradisi budaya, termasuk di dalamnya situs-situs purbakala.

Bahka diduga, tegas Kusumo, situs makam yang telah terdaftar pada registrasi BPCB Jawa Tengah pada tahun 2017 dan memiliki nomor registrasi : Situs Kerkhof Ampel 11-09/Bol/TB/70 ini dalam pembangunan (renovasi) tanpa melalui proses izin yang benar.

Dalam proses renovasinya, harus mendapatkan izin khusus terlebih dahulu dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Apalagi dalam situs makam itu terdapat sekitar 50 buah makam komplit beserta nisan dengan gaya kolonial.

Dan yang menanganinya pun harus tenaga ahli khusus, agar tidak merusak ataupun mengubah bentuk aslinya. Tujuannya agar keaslian bangunan tetap terjaga, tutup Kusumo. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *