Makna Filosofi ‘Cakra Manggilingan’

Sri Suprapti

Arti peribahasa cakra manggilingan adalah bahwa hidup itu bagaikan roda yang terus berputar. Cakra manggilingan merupakan kehidupan dinamis seperti roda yang berputar, tidak merasa tinggi ketika mendapat pujian dan tidak merasa jatuh ketika mendapatkan caci makian. Apapun yang diterimanya tetap berbuat baik, berbuat benar serta senantiasa selalu mengingat kepada Tuhan.

Cakra manggilingan kalau diartikan secara lebih luas menyimpan filosofi atau keyakinan tentang berputarnya roda kehidupan baik mikro maupun makro. Bentuk yang melingkar cakra manggilingan atau dengan bentuk lain yang tertutup itu membuat keseimbangan. Keseimbangan yang dimaksud adalah apabila salah satu bagian tidak berfungsi sesuai dengan perannya atau kecepatan berputarnya maka keseimbangan itu akan terganggu dan bahkan bisa hancur. Apabila masih bisa memungkinkan, maka akan dilakukan perbaikan pada titik kerusakan sampai bisa pulih kembali menjadi baik atau terjadi keseimbangan yang baru.

Kata cakra sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya sebagai cakram atau roda. Sedangkan manggilingan berasal dari bahasa Jawa dari kata dasar giling yang artinya berputar atau menggerus. Istilah cakra manggilingan diartikan sebagai kehidupan ibarat roda berputar. Intisari atau esensi dari cakra manggilingan adalah waktu. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan ini sudah menjadi kodrat manusia hidup di dunia, baik dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun.

Pemegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia ini adalah konsepsi waktu.Bukti dari pada pentingnya konsepsi waktu adalah bahwa orang Jawa mempunyai sistem penanggalan tersendiri. Kalender Jawa yang terdiri dari Sapta wara / 7 hari yaitu Minggu (Radite), Senin (Soma), Selasa (Hanggara), Rabu (Budha), Kamis (Respati), Jumat (Sukra) dan Sabtu (Tumpak). Selain itu juga ada Panca wara atau 5 hari yang biasa dikenal dengan pasaran yaitu Legi, pahing, Pon, Wage, Kliwon.

Dengan memiliki pemahaman spiritual tentang cakra manggilingan, manusia bisa selalu siap dengan keadaan yang akan dihadapi, baik atau buruknya. Dengan memahami esensi cakra manggilingan maka seseorang bisa mempersiapkan diri untuk tidak larut dalam kebahagiaan atau kesedihan yang dihadapi. Mendapatkan kebahagiaan menjadikan manusia untuk selalu bersyukur kepada Tuhan sebaliknya kalau sedang mendapatkan kesedihan haruslah bisa bersabar untuk menghadapinya.

Tidak perlulah bersedih dengan terus- menerus se olah-olah hanya dirinya sendiri yang mendapatkan kesedihan. Semakin bersedih maka akan semakin tersiksa hati dan pikirannya, sehingga tidak mempunyai semangat untuk hidup. Padahal kenyataan walaupun diberi kesedihan atau kebahagiaan, kehidupan akan tetap berlangsung. Manusia harus bisa menerima apapun yang diberikan oleh Allah, tentu saja dengan ikhlas lahir maupun batin. Dengan menghayati cakra manggilingan maka seseorang harus mampu merasakan kekuatan dalam dirinya antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Kehidupan yang harus terus berputar dan berjalan tanpa ada seorangpun yang bisa memperlambat ataupun mempercepat. Artinya manusia harus siap menerima yang ditakdirkan oleh Allah. Tidak bisa menghindar dari kenyataan yang ada. Walaupun bersembunyi di manapun juga, tetap harus dijalani. Oleh sebab itu manusia hendaknya selalu mempunyai rasa syukur apabila sedang mendapatkan kebahagiaan dan tetap sabar kalau diberi kesedihan/kesusahan. Hati akan tenteram dan nyaman apabila mempunyai keduanya yaitu sabar dan syukur.

Namun kenyataan kalau diberi kebahagiaan kadang lupa dengan Allah yang memberinya. Akan ingat kalau seseorang itu diberi kesusahan/kesedihan. Tidak ada salahnya kalau manusia hidup menjalani ujian apapun merasa selalu bersyukur dan sabar dengan hati yang ikhlas. Manusia lahir ke bumi menjadi manusia yang utuh dengan segenap jiwa dan raganya.Hendaknya manusia dapat mengambil pelajaran baik dengan melihat masa yang telah lalu, sekarang dan menghadapai masa yang akan datang.

Ketahuilah bahwa setiap orang berada pada lingkaran cakra manggilingan masing-masing. Kadang-kadang manusia sering meragukan keberadaannya (termasuk saya sendiri). Seolah-olah saya tidak berada di satu titik tetapi di dua titik yang bersamaaan sehingga membuat hati dan pikiran menjadi kacau dan kurang bisa maksimal dalam melakukan pekerjaan untuk tugas-tugas rutin. Namun demikian, sebagai orang Jawa akan selalu ingat istilah Jawa yang sudah popular di mana-mana. Buktinya tetap bersyukur, sabar bisa merasakan suka duka perputaran yang sedang diberikan, masih sesuai dengan perilaku saya, dan yang paling membahagiakan hati adalah masih diberi kekuatan oleh Allah mengimbanginya.

Barangkali masih ada manusia yang belum atau bahkan tidak bisa menghadapi kenyataan yang ada hingga lupa dengan cakra manggilingan. Antara lain; emosi, melakukan perbuatan yang tidak baik, sengaja menyimpang dari jalur lingkaran cakra manggilingan. Kalau seperti itu artinya mereka walaupun sama-sama dalam kondisi di bawah tetapi tingkat kesedihan/kesusahan, kehormatan diri dan bahagia yang dirasakan akan jauh berbeda. Mereka meninggalkan atau bahkan menghilangkan nilai-nilai budaya Jawa sebagai tradisinya.

Padahal mereka mengaku lahir dan besar di dalam kultur kejawaan, justru semakin membawanya terasing untuk dirinya sendiri. Bagi orang yang tidak memahaminya, falsafah cakra manggilingan dianggap tidak berguna. Bagi orang yang memaknainya secara harafiah, akan dianggap bahwa tergantung “amal dan perbuatan”. Padahal makna yang sebenarnya adalah mengajarkan seseorang untuk berperilaku sabar dan selalu bersyukur dalam menghadapi kehidupan di dunia ini.

Setiap falsafah ajaran hidup Jawa, berulangkali sudah disampaikan bukanlah agama jadi jangan dicampur adukkan. Karena falsafah Jawa cakra manggilingan ini merupakan cara pandang hidup dalam arti yang luas yaitu meliputi pandangan terhadap Allah serta alam semesta ciptaanNya beserta posisi dan peranan manusia di dalamnya. Cakra manggilingan adalah bentuk roda yang selalu berputar atau menggelinding. Secara umum hal itu bermakna kalau hidup ini seperti roda yang berputar kadang di atas dan terkadang di bawah (Amrih, 2008).

Cakra manggilingan dalam kisah di dunia rumah tangga dalam kurun waktu yang cukup lama. Mereka hidup dalam lingkungan yang baik dengan kehidupan yang cukup, tidak ada kesedihan dan penderitaan dari balik rumah itu. Hingga suatu hari salah satu diantara orang tua (suami) terkena pengaruh beberapa orang dari luar. Semuanya tidak mengerti sopan santun dan tidak punya rasa empati. Sejak saat itu (istri) meski masih di dalam rumah, lebih memilih diam di dalam menghadapinya. Hal itu dilakukan dengan alasan untuk menghindari konflik, karena bagi si istri konflik sudah tidak berlaku lagi dalam kehidupannya.

Akhirnya sang suami berbuat licik kepada istri yang membuat mereka “jaga jarak” dan berpisah. Dengan kisah itu maka dapat dilihat bahwa sebuah kehidupan yang digambarkan dari kisah hidup berumah tangga ini, pada realitanya bisa saja terjadi pada siapapun juga. Pada kesempatan lain kita bisa mengalami fase titik terendah pada kondisi yang tidak nyaman dan tidak bahagia.

Cerita seperti di atas apabila sang istri tidak mempunyai semangat hidup atau perjuangan hidup yang ekstra kuat maka mustahil akan berada di titik teratas. Itu artinya bisa dilihat, bahwa dengan perjuangan dan semangat sebagai orang yang dikhianati (lebay). Seiring berjalannya waktu, akan kembali roda berputar membawa/ menemukan momentum pada puncak kejayaan sebagai orang yang lulus dalam menghadapi ujian.

Sebuah makna kearifan tentang hidup yang terus berputar. Khususnya bagi kehidupan jaman sekarang, yang lebih berorientasi kepada hal-hal materi, yang menurut sebagian orang dapat menyelamatkan kehidupan di dunia ini. Tidak heran jika kemudian banyak manusia yang terjebak pada ketidakwaspadaannya di dalam menjalani kehidupan.

Padahal jika mengacu pada falsafah hidup cakra manggilingan, belum tentu materi dengan nominal yang besar akan mampu menjamin hidupnya terus berada di atas. Sebaliknya orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, tetapi karena semangat dan kerja kerasnya, mampu mengalahkan orang-orang berpendidikan. Sejatinya falsafah cakra manggilingan ini merupakan sebuah pakem yang bisa memberikan seseorang kebijaksanaan untuk selalu waspada dan tetap konsisten pada prinsip-prinsip dan ritme kerja serta nilai-nilai yang kita pegang sebagi pedoman hidup manusia. Juga sebagai pengingat manusia bagaimana pola dari suatu kehidupan.

Seseorang dapat berada di posisi atas artinya sedang memiliki sesuatu secara penuh yang intinya kebahagiaan. Namun pada saatnya yang mereka miliki akan berkurang bahkan bisa habis tidak ada sisa sedikitpun. Namun demikian kehidupan memberinya kesempatan untuk berusaha lagi agar dapat kembali ke posisi di atas. Jadi bisa disimpulkan bahwa satu siklus bukan akhir dari suatu hidup manusia. Karena hidup manusia akan berakhir apabila waktunya sudah habis artinya rodanya sudah tidak bisa berputar lagi.

Maka selama roda masih akan tetap berputar, manusia masih memiliki kesempatan untuk berusaha memperoleh posisi yang di atas sesuai dengan keinginan yang diharapkan. Manusia bisa memperhitungkan sendiri apa yang harus dilakukan, kalau mau berusaha dapat berada di posisi atas. Apabila manusia sedang terseret di posisi bawah, maka haruslah menyadari, menerima dan kemudian berusaha untuk bangkit dan semangat dari keadaan tersebut. Jangan pernah menyesal atau dalam istilah Jawanya “ kakehan sambat”.

Dengan pernyataan seperti di atas, frase cakra manggilingan secara tidak langsung telah membantu orang Jawa untuk memahami apa arti kehidupan dan bagaimana caranya untuk menjalaninya. Hal ini merupakan salah satu contoh bagaimana orang Jawa berusaha menggali makna di balik segala sesuatu. Selalu siap dengan keadaan yang akan dihadapi, baik atau buruknya.

Waktu kehidupan yang terus berputar, maka bisa mempersiapkan diri untuk tidak larut dalam kebahagiaan atau kesedihan yang sedang dihadapi. Jika manusia merasa berlebihan dalam menikmati kebahagiaan duniawi ini bisa melupakan dan menyesatkan diri sendiri, begitu juga sebaliknya jika terus larut dalam kesedihan atau keterpurukan maka kita hanya akan jalan di tempat dan tidak mungkin bisa membawa perubahan yang baik.

Kesimpulannya adalah sebagai manusia yang berakal, maka siapapun orang itu harus mau menerima kenyataan yang sudah, sedang dan akan terjadi. Itu merupakan kunci untuk mempersiapkan diri agar siap menghadapi kenyataan yang ada. Jangan lupakan filosofi “cakra manggilingan”!. (*)

*) Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *