Solo Zona Hitam? Hotel ‘Kelam’

Purwanto Yudhonagoro, Pelaku Pariwisata Jawa Tengah

JATENGONLINE, SOLO – Pernyataan Solo sudah Zona Hitam oleh pejabat terkait, berawal dari lonjakan kasus positif Corona di Kota Bengawan, dalam satu hari terjadi penambahan sebanyak 18 kasus baru. Sehingga Solo disebut sebagai zona hitam penyebaran Covid-19 pada Minggu (12/7/2020) lalu, disoal oleh pelaku perhotelan.

Pelaku bisnis pariwisata dan perhotelan di Jawa Tengah, Purwanto Yudhonagoro menyoal, jika statemen yang disampaikan tersebut kurang pas, dan berdampak pada destinasi pariwisata utamanya okupansi hotel.

“Kemampuan komunikasi bagi pemimpin itu hendaknya betul-betul ditingkatkan, jadi ketika memberikan statemen tidak membuat masyarakat resah, gelisah dan akhirnya menderita, seperti di Solo zona hitam,” kata Purwanto, saat dihubungi handphonenya. Selasa (14/7/2020) malam.

Dimana hotel yang mau hidup akhirnya cancel lagi, ini kan repot lanjutnya, jikalau sesuatu itu nyata dan fakta sekalipun betul tetap harus hati-hati, apakah tidak ada kalimat lain dimana yang bisa menyejukan suasana, membuat orang tidak resah dan berimplikasi luas.

“Lalu, apa gunanya kami melakukan simulasi-simulasi new normal selama ini, yang menurut saya hilang karena statemen satu ini,” tegas Purwanto.

Ibaratnya kemarau setahun hilang hanya karena hujan sehari. Ini tidak hanya di perhotelan dan tourisme, kata Akademisi dan Praktisi Pariwisata ini, tapi pelaku ekonomi yang lain pasti juga mengalami hal yang sama.

“Yang hitam itu yang mana, apabila itu betul sekalipun tentunya ada kalimat lain. Tapi menurut saya itu juga nggak bener,” tegasnya.

Karena kalau benar ada sejumlah beberapa yang sakit pun (positif Covid-19) itupun mereka di karantina di rumah sakit, tidak berkeliaran di masyarakat, jadi kurang pas jika di ‘gebyah uyah’ jangan semua di generalisasi.

Sementara itu, Wali kota Surakarta, FX. Hadi Rudiyatmo mengatakan, adanya penyebutan zona hitam atau zona merah itu sebagai syok terapi masyarakat agar lebih waspada dan hati-hati.

‘’Kota Solo dulu pertama kali KLB itu karena ada 1 pasien positif Covid-19 yang meninggal,” Rudyatmo.

Sekarang tambah 18 yang positif, ya tidak apa-apa zona hitam, jadi syok terapi. Agar masyarakat lebih waspada, lebih ketat pengawasan dan harus sadar menggunakan masker.

“Susah sekali diminta pakai masker,’’ ujar wali kota, sebelum rapat koordinasi penanganan Covid-19 di ruang Manganti komplek balai kota Senin (13/7/2020). (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *